Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 213 Tangisan Anna.


__ADS_3

Intan langsung mematikan panggilan telepon yang masih tersambung dengan Galih.


"Bodoh Intan, kenapa kamu angkat panggilan telepon dari Galih, jelas jelas dia tidak akan mempekerjakan kamu." Gerutu Intan baru menyadari semuanya.


Intan terlalu berharap dan mempunyai perasaan besar terhadap Galih, sampai ia lupa akan rencananya sendiri.


Gadis manis pemilik bola mata bulat itu, mulai pergi dari pemakaman, ia bergegas untuk segera mengambil barang-barangnya di kontrakan.


Hanya butuh waktu dua puluh menit saja, perjalanan yang harus ditempuh Intan dari pemakaman ke kontrakannya.


Setelah sampai Intan tergesa-gesa mengambil semua barang-barang berada di dalam kontrakan. Ia kini menaiki taksi untuk membawanya ke terminal bus.


Berniat untuk pergi dari kota menuju ke kampung halaman sahabatnya.


"Untung saja aku lebih cepat."


Tersenyum dan pergi penuh kemenangan.


*********


Galih, terus menghubungi Intan, tapi panggilan telepon wanita itu sudah dimatikan.


"Bagaimana pah, sekarang di ada dimana. Farhan sudah menelepon polisi dan memberikan bukti video dan juga barang yang dipakai Kak Intan."


"Farhan, sepertinya dia sudah mencurigai kita. Nomor teleponnya sudah tak aktip."


"Apah, sialan. Hebatnya dia bisa lari dari kejaranku begitu saja."


Anna hanya bisa menyimak kedua lelaki dihadapanya, terlihat mereka sibuk menangani kasus Ainun.


Dokter sudah memperbolehkan orang menjenguk Ainun. Dimana Anna, perlahan bangkit dari tempat duduknya masuk ke dalam ruangan Ainun.


Terlihat banyak alat rumah sakit untuk pasien, terpasang pada tubuh Ainun. Anna melihat semua di depan matanya merasa tak tega.


Menutu mulut, karena terkejut, Anna kini menangis melihat nasib Ainun yang begitu menyedihkan.


Ainun menjadi korban pemerkosaan kedua kalinya.


"Ainun, aku tidak menyangka jika nasibmu semalang ini." Ucap Anna, sembari menitihkan air mata.


Hatinya rapuh, remuk redam. Nasib Anna lebih beruntung dari pada Ainun.


"Aku berharap, kamu bertahan Ainun, masih ada Farhan yang mengharapkanmu. Dia anak baik, demi dia sembuhlah."


Anna tak tahu jika Ainun mendengarkan tangisnya atau tidak.


Galih dan Farhan baru sadar jika Anna tidak ada di belakang mereka. " Kemana Anna?"

__ADS_1


"Entahlah pah!"


Mereka mulai mencari Anna, hingga melihat ke ruangan Ainun.


Dan ternyata Anna tengah duduk sembari bercerita pada Ainun.


Galih berjalan, melihat keadaan mantan istrinya begitu memilukan, mengira jika lepas dari Galih kehidupan Ainun akan menjadi lebih baik lagi. Kenyataanya Ainun malah semakin menyedihkan, banyak orang membencinya walau dia tak punya salah apa-apa.


Galih semakin dengan pada Anna, begitu pun dengan Farhan. Anna menyadari kedatangan kedua lelaki yang sangat berharga dalam hidupnya kini berucap, " mungkin ini kesalahan mama. Sudah egois, tetap bersama papah kamu Farhan."


Mendengar hal itu tentu saja membuat Farhan tak setuju, jika sang mama tersalahkan.


Mendekat dan menjawab." mama, jangan menyalahkan diri mama, semua sudah menjadi takdir ibu Ainun. Bagaimana pun, mama tidak pernah salah."


Perkataan Farhan selalu membuat Anna tenang, dari dulu sampai sekarang Farhan selalu mengutamakan Anna, walau bukan ibu kandungnya.


"Apa yang dikatakan Farhan memang benar Anna, kamu itu tidak salah," timpal Galih, mendekat ke arah sang istri memeluk dari belakang punggungnya.


"Kami berdua sayang kamu Anna," ucap Galih, semakin erat dan penuh kelembutan saat memeluk sang istri.


Anna tampak bahagia mendengar hal itu, ia tersenyum dihadapan kedua orang yang begitu berharga dalam hidupnya.


"Terima kasih, kalian memang terbaik."


********


Lulu berdiam diri, setelah jam pelajaran selesai. Ia duduk sendirian di kursi taman. Melihat teman temanya bermain ceria.


Tak ada niat ikut serta dalam kecerian sang sahabat, Lulu menghabiskan waktu dengan melamun.


Kedua tangan mengepal, seperti menahan rasa kesal, sesekali. Menggeram seperti membayangkan sesuatu yang membuat hatinya murka.


Lulu masih belum bisa mengontol emosinya, sampai ia turun dari kursi, menghampiri teman teman sebayanya yang tengah bermain.


"Lulu, kamu mau ikut main." Ajak salah satu sahabatnya.


Lulu tiba tiba kesal, dengan salah satu teman yang mengatainya." idih jangan ajak ajak di Lulu, dia mah anak jelak."


Lulu terkesan agresif dan tak menerima hinaan dari temanya itu, kini mendorong tubuh anak seusianya.


"Rasakan ini. Orang jahat seperti kamu pantas mendapatkan ganjaran seperti ini."


Anna kecil yang menghina Lulu, kini tersungkur jatuh ke atas tanah. Ia menangis meraung meminta tolong pada orang tuanya.


"Dasar cengeng."


"Mama. Mama."

__ADS_1


Kedua orang tua anak itu datang, dengan sigap membopong tubuh anak itu.


"Kamu kenapa, nak?" tanya sosok seorang ibu.


"Mama, dia dorong aku mah!" jawab anak itu, menunjuk kearah Lulu.


"Kamu ini kenapa dorong teman sendiri, mana orang tua kamu?" tanya orang tua anak yang sudah meledek Lulu.


Pengasuh datang, melihat suasana tak menyenangkan. " Ada apa ini?"


Melihat pengasuh Lulu datang, ibu itu marah marah dan memberitahu sang pengasuh.


"Kalau didik anak itu yang benar, lihat gara gara anak ini, anak saya jaga luka."


Mendengar bentakan, Lulu mulai membela diri dihadapan pengasuhnya. " Dia yang mulai duluan. Menghina Lulu Kak, coba saja kalau dia tidak hina Lulu jelek. Lulu tidak mungkin mendorongnya."


Lina yang menjadi pengasuh Lulu, kini berucap dengan nada tegas." ibu dengar sendirikan, Lulu bilang apa? Anak ibu mulai duluan."


Mendengar pembelaan dari Lulu, ibu itu mendelik kesal dan menyuruh anaknya untuk pergi.


"Ayo nak kita pergi, obatin luka kamu."


Ibu itu pergi dengan membawa anaknya, terlihat raut wajah kesal ia perlihatkan di depan pengasuh.


Sejak kepergian ibu dan anak itu. Lulu pada akhirnya menangis, sembari memeluk sang pengasuh, meluapkan kekesalanya.


Lina berusaha menenangkan Lulu dengan mengusap peran kepala rambutnya, Sang pengasuh tahu, Lulu merasa sakit hati karena sudah dibentak oleh orang tua sahabatnya itu.


"Lulu, jangan nangis. Lulu harus tenang, Lulu kan sudah hebat membela diri."


Mendengar apa yang dikatakan pengasuh, Lulu semakin erat memeluk Lina. Ia merasa dirinya tak kuasa menahan rasa sakit di hati.


"Ya sudah, sekarang waktunya jam makan siang. Lulu makan dulu ya, dari tadi pagi Lulu belum sarapan."


Sang pengasuh mulai membukakan bekal makanan yang dibawa Lulu dari rumah.


"Nah, sekarang waktunya dulu makan dulu ya, Lulu jangan mikirin soal kejadian tadi. "


Anak manis dengan bulu matanya yang lentik, menganggukkan kepala. Ia menjawab dengan nada pelan dan masih terdengar isak tangis pada mulutnya.


"Nih, Kak Lina. Ngambil ayam sama telor, ayo Lulu makan. Biar sehat, kuat." Ucap sang pengasuh, menyuapkan makanan ke mulut Lulu.


Terlihat Lulu menutup kedua bibirnya seakan tak napsu memakan masakan di rumah.


"Ayo sayang makan dulu."


Lulu yang tadinya menganggukan kepala, kini mendorong sendok pada tangan Lina.

__ADS_1


__ADS_2