
Saat itu obrolan tertunda, di mana suster menyuruh aku untuk menemui dokter.
Entah apa yang akan dikatakan dokter, hatiku merasa tak karuan.
Perlahan aku masuk ke ruangan dokter, di mana lelaki berbadan gendut itu tengah mengecek beberapa dokumen dengan begitu serius.
"Ibu Anna?"
"Iya, dok!"
"Silahkan duduk."
Aku mulai duduk, dan mendengarkan apa yang akan dokter katakan.
"Menurut hasil pengecekan, anak ibu. Sepertinya mengalami trauma berat, dan berdampak pada perkembangan sel otaknya. Setiap kali, ada yang menyebut pelaku kekerasan pada Radit, kemungkinan besar Radit akan berteriak ketakutan."
"Sampai separah itukah, dok? Apa masih bisa di atasin, dok?"
"Bisa!"
"Caranya."
"Ibu tinggal melakukan metode ini, pada anak.
Buat anak merasa aman, ibu harus tetap tenang, usahakan tetap beraktifitas seperti biasa ya bu. Beri perhatian khusus, jauhkan dengan orang orang yang memicu rasa trauma dalam anak ibu."
Aku menganggukan kepala, setelah mendengar penjelasan dari dokter. .
Saat aku melangkahkan kaki menuju ruangan anakku, terlihat kak Indah dan juga Pak Galih begitu akran mengobrol. Mereka tertawa riang begitu cocok seperti pasangan.
Aku hampir saja mengira jika Pak Galih menyukaiku, karna dia terus menawarkanku bantuan. Maka dari itu aku berusaha menghindar.
Mendekat kembali ke arah Kak Indah, hingga di mana kak Indah bertanya." Bagaimana? Apa kata dokter?"
Pertanyaan Kak Indah langsung aku jawab dengan sedikit tak bersemangat," aku hanya diberi metode pemulihan di rumah saja!"
"Syukurlah kalau begitu, berarti tidak terlalu parah. Kalau misalkan parah, kita harus menyewa seorang psikolog."
Kak Indah mengusap bahuku seraya berkata," kamu yang sabar ya, An. Ini mungkin ujian yang harus kamu hadapi, bagaimanapun kamu harus tegar kuat demi anak-anakmu. Kakak tahu kamu itu wanita hebat yang bisa mengalahkan semua masalah."
Aku sangat beruntung sekali mempunyai seorang kakak, yang begitu padai membuat beban pikiran dalam otakku sedikit berkurang.
"Terima kasih, kak Indah."
__ADS_1
Pak Galih kini mulai berpamitan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Lelaki berhidung mancung dengan kumis tipis berkata," saya masih banyak urusan, jika kalian butuh saya tinggal hubungi saya, apapun masalah yang tengah kalian hadapi saya akan berusaha bantu."
Perkataanya terdengar kaku, ketika dengaku, tapi tidak dengan kak Indah.
"Oh, ya. Terima kasih Pak Galih, berkat bapak adik saya Anna benar benar terbantu." Ucap Kak Indah dengan manampilkan senyumanya pada Pak Galih.
Lelaki seperti Pak Galih begitu sibuk dengan pekerjaannya, tapi ia begitu baik, menyempatkan diri membantuku.
Apalagi besok, dia akan mengantarkanku untuk menemui keluarga Mas Raka, meminta pertanggungjawaban atas kesalahan yanh mereka perbuatan pada Radit. Hingga anak keduaku masuk ke dalam rumah sakit, mereka juga sudah membuat Radit trauma berat.
"Kakak berharap besok kamu benar-benar siap menghadapi Raka," ucap Kak Indah. Wanita berbola mata hitam dan bulat itu, memperlihatkan kekuatiranya.
"Aku akan berusaha kuat, Kak," balasku dengan penuh kenyakinan.
"Bagus kalau begitu, Kakak sangat berharap sekali pada kamu, jangan terlalu mengandalkan lelaki yang tidak bisa bertanggung jawab kepada kamu dan anak-anakmu. kamu harus melawan rasa cintamu terhadap Raka, lelaki yang tak berguna itu."
Terlihat sekali wajah kemarahan pada Kak Indah, membuat aku menjawab." iya kak."
@@@@@
Aku dan Farhan begitu pun Lulu, masih menjaga Radit di rumah sakit, terlihat anakku Radit masih tertidur nyenyak, mungkin karna obat bius yang di berikan suster waktu Radit mengamuk.
"Radit, cepat sembuh ya, nak."
Mengusap pelan rambut anakku, kini Radit mulai membuka matanya, tiba dimana.
Aku panik dengan anakku yang tiba tiba bangun dan menjerit," Radit, kamu kenapa Nak?"
"Sakittt jangan mendekat!:
"Mana yang sakit, ini mamah, nak."
Wajah anakku terlihat begitu gelisah," Ayo Nak, cepat katakan. Siapa yang sudah membuat kamu merasakan sakit seperti ini?"
Aku yang tak bisa mengendalikan diri, langsung bertanya kepada anakku yang terus berteriak-teriak.. Di mana para suster yang mendengar teriakan anakku kini datang ke dalam ruangan Radit.
"Radit. Ayo katakan kepada mamah, siapa yang sudah melakukan ini kepadamu?"
Aku yang tidak sabar ingin tahu siapa pelaku orang yang sudah membuat anakku trauma dan juga kesakitan, dengan tubuh yang penuh luka. Membuat aku terus menekan sebuah pertanyaan pada anakku.
kak Indah bangun dari tidurnya, berusaha menenangkan aku yang benar-benar hilang kendali.
Hingga di mana para suster, langsung menjauhkanku dari Radit.
__ADS_1
Dengan perlahan, aku melihat rasa tenang mulai terasa oleh Radit, di mana rayuan dan pelukan suster mampu menenangkannya.
Dokter kini mulai menghampiriku, di mana tanganku masih dipegang oleh beberapa suster.
"Sus."
Sang dokter menarik nafas perlahahan, membuat
para suster melepaskan tanganku.
"Ibu Anna, ini memang sulit. Tapi anda harus mengendalikan diri untuk tidak bertanya siapa orang yang sudah melukai hati anak ibu, ibu harus lebih bersabar dengan apa yang terjadi pada Radit. Ibu harus mengerti dengan perasaan anak kecil. Jika Ibu tak sabar Radit akan malam menjadi ketakutan, dan membuat dirinya semakin tertekan. Tolonh pengertiannya, untuk kami. Ibu Anna."
Aku menundukkan kepala, dan merasa menyesal, telah membuat anakku Radit berteriak dan gelisah.
Karna aku yang tak sabaran. Aku melupakan metode yang diajarkan oleh dokter, aku terlalu terburu-buru aku terlalu mengandalkan emosiku hingga membuat Radit, disuntik kembali oleh suster. Obat penenang.
Aku menangis terduduk lesu, tubuhku lemah. "Maafkan mamah Radit."
@@@@@
Pagi hari, Pak Galih, sudah bersiap dengan baju yang begitu rapih, ia akan menjemputku untuk menemui Mas Raka dan keluarganya.
"Bagaimana Anna, apa kamu sudah siap?"
Pertanyaan Pak Galih membuat aku menganggukkan kepala, dan berkata." Aku sudah siap!"
Lulu aku titipkan pada kak Indah, yang rela cuti demi menjaga anak anakku. Saat itulah aku mulai berjalan menuju mobil Pak Galih.
Pak Galih begitu baik sekali, ia sudah menyiapkan semuanya, berkas yang ia bawa dalam tas nya begitu banyak, hingga meminta video dalam ponselku, untuk menjadi bukti, jika sewaktu waktu Mas Raka menuntutku.
Di dalam perjalanan, aku berusaha kuat tegar, mengigat perkataan Kak Indah.
Hingga di mana Pak Galih berkata," Anna, apa kamu menyayangi Farhan?"
Deg ....
Apa maksud dari pertanyaan Pak Galih, kenapa ia bertanya seperti itu.
"Tentulah, aku sangat menyayangi dia seperti anakku sendiri! Memangnya kenapa, Pak?"
Pak Galih malah tersenyum tipis, kedua matanya tetap fokus, menatap ke arah depan.
"Apa kamu tahu siapa kedua orang tuanya?" Pertanyaan kini di layangkan lagi oleh lelaki di sampingku.
__ADS_1
"Maksud bapak? Jadi bapak tahu, jika Farhan bukan anak kandung saya!"
Karna rasa penasaranku, aku langsung bertanya ke inti obrolan.