
Ajeng sudah berusaha keras memohon untuk membebaskan Raka pada Anna, membuat ia frustasi dan juga merasa hidupnya benar benar tak berarti. Padahal Ajeng ingin sekali, bersatu kembali dengan Raka, menjalani hidup bersama.
Dengan mengeluarkan Raka, pastinya lelaki itu akan semakin menyayangi Ajeng. Tak ada hinaan dan cacian, hanya kebagaan yang terlontar dari mulut Raka untuk dirinya.
Buktinya dulu saat Ajeng menolong Raka, ia dijadikan seorang Istri oleh Raka. Membuang Anna begitu saja, demi Ajeng.
Pak Aryanto dan Bu Ayu, begitu mengkhawatirkan keadaan anaknya. Yang terlihat melamun dari tadi, terlihat jika Ajeng begitu tertekan, dengan jawaban yang dilontarkan oleh Anna. Bahwa dengan tegasnya Anna, tidak akan membebaskan rakyat di dalam penjara.
"Ajeng, kenapa kamu melamun terus, nak?" tanya Pak Aryanto dengan begitu kuatir, melihat kondisi anaknya yang terus melamun memikirkan sang pujaan hati berada di dalam penjara.
"Kenapa Anna, begitu egois pah. Dia begitu kejam tidak mau menuruti keinginanku!" jawab Ajeng dengan nada bicara yang meninggi.
"Dia bukan egois, mungkin tahu jika Raka itu tidak bisa dipegang omongnya. Takut jika nanti kamu malah dimanfaatin olehnya," ucap Pak Aryanto menasehati anaknya.
"Papah kan tahu sendiri, bagaimana Raka memperlakukan Ajeng di dalam penjara, papah lihat sendirikan Raka begitu tulus pada Ajeng."
Sang papah hanya mengusap kasar wajahnya, percuma menasehati orang yang tengah di mabok cinta tidak akan mempan, ia akan melawan seperti anak kecil dan susah dinasehati.
Tangan kekar sang ayah, kini mengusap pelan bahu Ajeng. Berusaha tetap berkata lembut." Kamu kalau dibilangin itu jangan ngeyel sayang."
"Ih, papah siapa yang ngenyel coba. Sudah ah, Ajeng mau tidur, sebaiknya papah sana pergi." gerutu Ajeng, memperlihatkan kekesalanya seperti anak kecil yang selalu ingin dimengerti.
Bu Ayu, hanya menatap dari kejauhan suami dan juga anaknya. Ada rasa bahagia menyelimuti hatinya.
Namun ada juga rasa sedih, melihat kedua kaki sang anak yang tak sempurna. Ingin rasanya Bu Ayu menggantikan posisi Ajeng, agar anak semata wayangnya itu tak menderita.
Pak Aryanto keluar dari kamar anaknya, melihat sang istri tengah berdiri dengan mengelap air mata yang terus berjatuhan mengenai kedua pipi.
"Loh, ibu ada di sini. Kenapa ibu menangis?"
__ADS_1
Pak Aryanto mendekat menatap lekat wajah sang istri dengan penuh kesedihan," Apa ada yang Ibu pikirkan saat ini?"
Bu Ayu menganggukkan kepala menjawab perkataan sang suami," Ibu memikirkan nasib Ajeng sekarang, kedua kaki yang tidak normal seperti dulu. Ibu mengkhawatirkan nasibnya, apa dia sanggup melewati semuanya? Apalagi Raka masih di dalam penjara. Papah tahu sendiri kan Ajeng begitu menginginkan Raka ada di sampingnya. Tapi Anna seakan tak mengerti apa yang diinginkan anak kita, sampai ia begitu tega membiarkan Ajeng menangis."
Pak Aryanto, memegang kedua bahu sang istri, berusaha menatap kedua mata yang menunduk tak berani menatap ke arah wajahnya.
"Coba kamu tatap papah, mah."
Perlahan Bu Ayu menuruti ucapan sang suami, perlahan kedua matanya mulai menatap ke arah Pak Aryanto. Senyuman tergambar dari kedua ujung bibir lelaki yang menjadi ayah Ajeng itu, tentulah membuat sang istri ikut tersenyum, hingga kesedihan itu lenyap seketika.
"Papah, ini."
Pak Aryanto, merangkul bahu sang istri untuk pergi dari balik pintu anaknya, tak enak hati jika berbicara serius di depan pintu kamar Ajeng.
"Sebaiknya kita pergi ke kamar dulu."
"Ya sudah."
Bu Ayu mulai duduk pada ranjang tempat tidur, mendengar apa yang akan dikatakan suaminya," apa setelah Raka keluar dari dalam penjara, ia akan menjamin untuk membahagiakan anak kita?"
Pikiran Pak Aryanto tiba-tiba terlintas hal seperti itu, setelah ia mendengar apa yang dikatakan Anna di rumah sakit. Memang ada benarnya, kita tidak pernah tahu isi hati seseorang, dari depan ia memang baik, tapi dari belakang kita tidak tahu. Niat terselubung yang ia sembunyikan.
"Entahlah pah, yang mama lihat. Raka itu terlihat tulus, tapi mama juga tidak mengerti. Kenapa lelaki itu malah menyuruh anak kita, untuk berusaha mengeluarkannya dari dalam penjara. Jika memang cinta, kemungkinan besar akan sabar, untuk dirinya yang berada di dalam penjara."
Pikiran kedua Insan itu sangatlah sama," apa yang dikatakan mamah memang benar."
Ahhkkkk ....
Tiba-tiba saja obrolan serius itu terhenti, saat mendengar teriakan anaknya yang terdengar begitu jelas.
__ADS_1
Pak Aryanto dan juga Bu Ayu tampaklah kaget, mereka berlari menuju pintu kamar sang anak. Mengetuk pintu, berharap tidak terjadi apa-apa dengan Ajeng.
"Nak, buka. Kamu kenapa sayang?" tanya Bu Ayu, dengan berteriak memanggil nama anaknya. Berharap sesuatu tidak terjadi dengan Ajeng Saat itu.
Perasaan Pak Aryanto merasa tak enak, ia berusaha mendobrak pintu kamar anaknya, karena beberapa kali berteriak Ajeng sama sekali tak menjawab.
"Ajeng, buka. Nak."
Hening, dengan berusaha keras Pak Aryanto mendobrak pintu kamar anaknya.
Beberapa kali di dobrak, pintu itu tak kunjung terbuka. Hingga Ajeng, tiba-tiba keluar dari dalam kamar melihat kedua orang tuanya yang terlihat begitu panik.
"Mamah, papah."
"Ajeng, kamu tidak kenapa-kenapa kan." Bu Ayu, memegang kedua pipi anaknya, melihat apakah sesuatu terjadi dengan ajang sampai ia berteriak.
"Kalian ini kenapa? Sampai panik begini." tanya Ajeng pada sang ibu, yang terus memegang pipi dan juga tubuhnya.
"Ajeng, Mama sangat kuatir sekali dengan kamu. kami mendengar kamu berteriak, makanya kami panik dan langsung mendobrak pintu kamar kamu!" jawab sang ibu dengan raut wajah cemasnya.
Ajeng tersenyum kecil di hadapan kedua orang tua yang sangat begitu menyayanginya," papa itu tak usah khawatir dan juga mama. Ajeng ini tidak kenapa-napa kok, tadi Ajeng kaget, saat melihat wajah aja yang berjerawat ini."
Pak Aryanto dan juga Bu Ayu saling menatap satu sama lain, mereka bernapas lega tidak ada sesuatu yang serius mengenai anaknya.
"Mama itu kira apa, mama dan papa kamu itu benar-benar kuatir jika terjadi apa-apa dengan kamu."
Ajeng memegang kedua tangan orang tuanya, ia mencium punggung tangan sang Ibu dan juga sang ayah. Menenangkan kepanikan dalam hati mereka berdua, " Ajeng itu sayang sekali pada kalian berdua, mana mungkin Ajeng berbuat hal yang bodoh seperti kemarin. Dan malah membuat kalian menangis."
Pak Aryanto dan juga Bu Ayu kini memeluk tubuh wanita yang menjadi anaknya itu, dengan penuh rasa cinta dan juga kasih sayang." kami sayang kamu Ajeng."
__ADS_1
Ajeng beruntung masih mempunyai kedua orang tua yang utuh, tapi dari keberuntungan itu ia belum bersyukur karena belum bisa bersama Raka.