Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 255


__ADS_3

Anna mulai berkata," hanya ada satu nama yang dipilih oleh Nita."


Entah kenapa lelaki saling bergerumun, padahal mereka sudah tahu jika Nita itu seorang anak penipu. Tapi tetap saja datang dan ingin menjadi pacar sang gadis desa yang belum juga dimiliki oleh laki laki manapun.


Yang mereka pikirkan sekarang, bukan letak kedua orang tuanya, tapi kebaikan Nita dan parasnya yang cantik, membuat semua lelaki yang melihatnya pasti terpana.


Mereka berpikir jika omongan negatif dari orang lain, hanyalah sebuah fitnahan semata atau iri dengki dan rasa tak suka.


Nita tersenyum tipis ia seperti seorang tuan putri yang sengaja di perebutkan oleh para pangeran-pangeran untuk menjadikan pendamping hidup.


Anna menatap ke arah sisi kiri Nita dan berteriak, dimana Nita menatap ke arah lelaki yang memakai baju kemeja berwarna putih dengan celana abu abu, seperti mempunyai kesan tersendiri.


Kedua mata membulat itu, sudah yakin dengan pilihanya, karena ternyata ia adalah Saiful. Di antara lelaki yang saling memperbutkan Nita, hanya Saiful lah mampu membuat hati Nita bergejolak. "Aku pilih Saiful."


Lelaki itu kini datang dan masuk menghampiri Nita, wajah penuh cinta saling bertatapan satu sama lain. Dulu terhalang sekarang terbebas seakan tak ada penyanggah sedikit pun," terima kasih sudah memilihku."


Nita menganggukkan kepala, Anna menjadi saksi akan cinta keduanya, Saiful merogoh saku celana, mempelihatkan kotak kecil dihadapan sang kekasih," Apa kamu mau menjadi istriku."


Deg ....


Jantung siapa yang tak berpacuh begitu cepat, ketika sang punjaga melamarnya terang terangan.


"Aku .... "


Anna melihat dalam diri Nita ada rasa ragu, dimana ia mengingat dirinya saat dilamar oleh Galih. Mendekat dan menghampiri gadis itu, " apa kamu takit dan ragu?"


Nita menganggukkan kepala setelah mendengar bisikan dari Anna, wanita yang menjadi ibunda Lulu itu memahami perasaan seorang wanita. Saat dilamar seorang lelaki yang ia cintai.


" kamu jangan ragu jika memang kamu mencintai dia terimalah, karena saya lihat lelaki itu begitu tulus mencintai kamu. "

__ADS_1


Pikiran Anna dan juga Nita begitu sama, karena memang sudah berapa kali Nita menolak cinta dari Saiful, karena rasa takutnya akan orang-orang kampung yang akan mem-bully dirinya.


Apalagi Saiful seorang guru PNS, Nita takut nama gelas itu kotor karenan menikahi gadis yang di fitnah sebagai anak tukang tipu.


Karena ini yang ke sepuluh kali, Saiful menyatakan cinta pada Nita, saat inilah Nita menyakini diri menerima cinta Saiful dan menerima lamarannya.


"Bagaimana Nita?" tanya kembali Saiful kepada wanita yang sangat ia cintai.


Nita dengan wajah malu malunya, menerima cinta tulus dan lamaran dari Saiful. Ada rasa bahagia dalam hati Nita.


"Mm." Anna berdiri di hadapan mereka berdua menjadi saksi bisu cinta kedua remaja. Melipatkan kedua tangan, ia melihat Saiful kini memasangkan cincin pada jari tangan sang kekasih.


Betapa indah cinta mereka berdua. Bu Suci baru saja pulang, ia terlihat begitu kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup lumayan jauh. Di marahi supir angkot, di kejar berandalan. Nasib yang menyedihkan.


"Sialan, di kantor polisi aku ditinggalkan begitu saja. Tahu begini aku tidak mau ikut mobil polisi, sialan sekali."


Mengintip pada kaca jendela rumah Nita, karena kebiasaanya ketika mencari informasi tentang keponakannya.


"Mm, benar dugaanku. Sepertinya suami istri itu menginap di rumah Nita, mm. Enak banget si Nita itu, nyesal aku kemarin tidak sekalian membakar rumah kedua orang tuanya."


Mengerutu kesal dalam hati, sebegitu bencinya Bu Suci pada anak saudaranya sendiri.


ampun memang yang Eta naon Teh martabak telor


Memukul mukul telapak tangan, sampai dimana Bu Suci melihat pemandangan yang tak menyenangkan pada hatinya, " Bagaimana bisa anak Bu Nira ada di sana, bukannya Bu Nira menolak keras hubungan antara anaknya dan juga Nita, tapi ini. "


Brruggg ....


Wanita tua yang mengintip tiba-tiba terjatuh dari batu yang sengaja ia naiki, " haduhh."

__ADS_1


Ia mencoba menutup mulut agar tidak berteriak, rasa sakit dan sembunyi pada kegelapan malam.


"Semoga saja tidak ketahuan."


Nita yang memang mendengar suara barang terjatuh di luar rumahnya, membuat ia penasaran. Membuka jendela dan tidak ada siapa siapapun, Bu Suci membukam mulutnya merasakan rasa sakit karena tertusuk duri pepohonan di dekat jendela rumah Nita


Sudut matanya mengeluarkan air mata menahan rasa sakit, sampai di mana Nita melihat ke bawah jendela, terlihat sosok Bu Suci tengah bersembunyi di pepohonan berduri, miris. Nita melihat pemandangan tantenya yang mengintip, selalu ingin tahu kebahagiaan Nita.


Padahal tidak ada kesalahan apapun yang dilakukan oleh Nita kepada tantenya itu, Nita selalu menganggap sang tante wanita yang baik dan juga mengerti akan keadaannya, tapi ternyata Bu Suci sosok seorang wanita yang jahat mengadu domba dan terus menyalahkan Nita karena kedua orang tuanya.


Rasa kesal sudah tak tertahan lagi, Nita mengambil teh yang masih hangat, ia berpura pura meminunnya sedikit.


"Aduh ini teh nggak enak ya."


Entah kenapa tiba tiba saja, Nita membuang teh hangat itu ke luar jendela, dimana teh itu mengenai rambut dan wajah Bu Suci.


"Ahkkk."


Wanita tua itu berteriak kepanasan, sampai Nita keluar dan mengeceknya kembali.


Saiful dan Anna ikut keluar rumah melihat kejadian akan suara teriakan seseorang.


"Loh, Tante Suci kok ada di dekat jendela ya, sedang apa? Nita nggak sengaja loh numpahin teh hangat ke sana, kalau tahu begitu Nita nggak .... "


Belum perkataan Nita terlontar semuanya, Bu Suci terlihat marah besar dan kesal. " Alah, sudah sudah, jangan banyak bicara aku mau pulang."


Wanita tua itu yang salah dia yang marah, Anna menggelengkan kepala, " masih ada wanita seperti Bu Suci, padahal wanita seperti itu pantas di beri pelajaran, karena jika tidak, dia akan menginjak nginjak orang lemah. Hingga orang lemah itu menderita dan terhina, tapi pada kenyataanya, orang yang bersikap lemah bukan karena dirinya tak berani melawan. Namun ia menunggu waktu tepat, untuk membalaskannya dengan cara terhormat tanpa mengunakan tanganya sendiri. " Gumam hati Anna, ia teringat akan masa lalu saat dirinya lemah dan tak berdaya, berusaha melawan tapi tak ada guna, karena sifat baiknya tak membuat orang itu berubah.


"Ya sudah kita ke dalam rumah lagi, biarkan saja Bu Suci itu, dia memang usil dari dulu. Entah kenapa sifatnya tak pernah berubah selalu jahat dan tak suka melihat orang lain bahagia," ucap Saiful yang memang kesal dengan tingkah sahabat ibunya itu.

__ADS_1


__ADS_2