
Bu Suci baru saja pulang ke rumah, terlihat ia begitu murka, karena rencananya gagal untuk bisa mengusir keponakannya sendiri, Bu Suci ingin menguasai rumah dan juga para ibu-ibu di kampung, agar semuanya berpihak kepada dirinya.
Namun semua itu ternyata tak mudah, apalagi saat ini, ada kedua orang yang membela Nita. Membuat Nita semakin tenang dan berani.
Raut wajah yang biasa ketakutanya benar benar berubah, semenjak datangnya Anna dan Galih.
"Kenapa bisa hancur begini sih. Gagal, gagal." Teriak Bu Suci, membanting semua barang yang tersusun rapi di atas meja riasnya.
Bu Suci terlihat murka sekali, ia tak bersemangat saat ini, perasaanya tak karuan kacau, membuat darah seketika naik ke otak dan terasa mendidih.
Mengacak rambut dengan kedua tangan, merasa kesal dan tak terima akan semuanya.
Bu Nira dan Saiful mengikuti Bu suci yang masuk ke dalam rumahnya, mereka hanya melihat dari kejauhan.
"Kamu lihat Saiful, betapa frustasinya Bu Suci ketika ia kalah dari Nita." ucap sang ibunda menunjuk sebuah kaca yang terbuka, memperlihatkan Bu Suci tengah marah marah di dalam rumah.
"Ibu benar, kenapa ya wanita tua itu tidak ada habis-habisnya selalu mengerjai Nita calon istriku!?" balas Saiful sembari bertanya, tentang Bu Suci kenapa sampai bisa membenci Nita sebegitunya.
"Ya harus gimana lagi, namanya orang sirik ya begitulah," balas sang ibunda yang asal menebak saja. Ia juga belum pasti kenapa penyebabnya, yang Bu Nira tahu, Bu Suci suka memfitnah Nita.
"Padahal kan Nita hanya orang biasa." ucap Saiful, tetap tak terima akan perlakuan wanita tua itu.
"Walau Nita itu orang biasa, tetap saja, jika orang yang memang sirik, ya begitulah sifatnya selalu sirik tak memandang dia orang biasa atau kaya raya." balas sang ibunda dengan begitu simpelnya menjawab tanpa basa basi sedikit pun.
"Ya terus sekarang bagaimana rencananya?" tanya Saiful kepada ibunya.
"Sekarang ibu ingin membuat Bu suci itu mengaku kesalahannya sendiri!" balas Bu Nira bersikukuh akan keinginanya.
"Kesalahan, Emangnya bu Suci pernah melakukan hal apa sih sampai Ibu mengatakan kesalahannya?" tanya Saiful, penasaran dengan jawaban sang ibunda.
__ADS_1
"Ibu curiga jika kematian kedua orang tua wanita itu penyebabnya adalah Bu suci, " balas sang ibunda. Menatap ke arah Saiful, dengan wajah seperti tak puas akan jawaban ibunya.
Bu Nira langsung membisikan suatu rencana untuk membuat wanita tua itu kapok dan mengakui kesalahannya, hari ini Bu Nira tidak boleh gagal karena ini kesempatan yang bagus untuk bisa membuat Bu Suci mengakui kesalahannya.
Setelah mendengar bisikan sang ibu, pada akhirnya Saiful mengerti, ia mendukung apa yang dilakukan sang ibunda, jika semua demi kebaikan dirinya dan juga Nita..
Mereka mulai pergi dari lingkungan rumah Bu suci, ada satu hal yang harus mereka lakukan untuk persiapan nanti malam.
*******
Di dalam rumah waktunya Ana beristirahat untuk segera tidur, Galih kini menemani, di samping sang istri yang tengah merebahkan tubuh, merasakan betapa lelahnya seluruh badan.
"Kalau nanti Mas Raka tahu kalau Lulu hilang, apa yang harus aku katakan?"
Ternyata Anna gelisah karena mantan suaminya, jika ia tak bisa menjaga Lulu dengan baik, padahal hak asuh dulu sampai mati matian di perebutkan.
Dan pastinya Raka akan menyalahkan Ana habis-habisan.
Tangan kekar Galih mengusap-nguasa perut Anna, yang semakin bulan semakin membesar, memperlihatkan betapa sehatnya bayi dalam kandungan Anna.
Galih selalu mengigatkan sang istri agar selalu tenang, dan tetap berpikir fositip sebesar apapun masalah yang menimpanya, termasuk ia mengikuti apa yang dikatakan suaminya
Walau begitu bagi Anna dalam hatinya, perkataan Galih belum juga membuat hatinya tenang sampai saat ini.
Tetap masih ada keraguan dan hati Anna akan kesedihannya.
Malam pun sudah tiba, di mana Bu Nira langsung melayangkan aksinya untuk memberi pelajaran agar wanita tua itu kapok.
Bu Nira dengan memberanikan diri berjalan menuju ke rumah Bu Suci, setelah sampai, Bu Nira sedikit kelelahan, karena mungkin kondisi tubuhnya yang sudah tua. Membuat ia tak sanggup berjalan jauh jauh apalagi berlari.
__ADS_1
Setelah memposisikan diri mengintip di semak-semak belukar yang begitu panjang, agar tidak diketahui Bu suci.
Bu Nira sengaja menunggu hingga malam yang semakin larut, sudah tiba di mana kampung Itu tampak sepi tidak ada orang yang berjaga di kampung, pas saat hari itu juga.
Bukannya melayangkan aksi Bu Nira malah dikejutkan dengan Bu Suci membawa sebuah kompan berisi minyak tanah yang tercium wanginya begitu menyengat.
"Bau minyak tanah, ngapain Bu Suci bawa bawa minyak tanah?" perasaan Bu Nira mulai tak terasa tenang, apalagi melihat gelagat Bu Suci mencurigakan.
Bersikap tenang dan berpikir sendiri," apa yang akan dia lakukan dengan minyak tanah itu?"
Bu Nira perlahan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, tanpa berlama-lama dia langsung menghubungi anaknya, Saiful, agar berjaga-jaga di rumah Nita, takut nanti jika sesuatu terjadi.
"Ayolah angkat, Saiful." Gerutu hati Bu Nira.
Beberapa kali menelepon anak semata wayangnya, anak itu tetap saja tak mengangkat panggilan telepon dari sang ibunda.
Karena harus mengikuti langkah Bu Suci, yang entah mau pergi ke mana. Sampai saat itulah Bu Nira langsung mengirim pesan dengan harapan langsung dibaca oleh anaknya.
(Nak, bangun sepertinya ada sesuatu yang akan dilakukan Bu Suci. Ibu lihat Bu Suci membawa sebuah kompan besar, yang tercium baunya itu seperti minyak tanah.)
Pesan langsung terkirim, akhirnya Saiful bangun dari tempat tidur, kedua matanya membulat membaca isi pesan dari sang ibunda.
"Ibu mengirim pesan,"
Terburu buru, Saiful mulai bergegas turun dari ranjang tempat tidurnya, terlihat sekali wajah panik. Karena takut jika Sesuatu terjadi pada Nita, apalagi mendengar pesan dari sang ibunda yang sedikit menakutkan.
Saiful mencuci wajah terlebih dahulu, agar dirinya tak merasakan rasa kantuk, ia mencari kunci motor untuk segera menaiki motor dan cepat-cepat sampai di rumah Nita.
"Semoga tidak terjadi apa-apa saat aku sampai di rumah calon istriku. "
__ADS_1
Saiful menancapkan gas motor dengan kecepatan tinggi, dia takut jika Bu Suci berniat ingin membakar rumah Nita, membuat wanita tua dan kedua orang tua Lulu terbakar habis, karena api yang dinyalakan Bu suci dengan sengaja.