
Bu Suci pulang dengan raut wajah menyedihkan, wanita tua itu merasakan rasa sakit pada semua tubuhnya, terasa tercabik cabik bagai pisau yang menyayat tubuhnya perlahan demi perlahan.
"Ini hari yang sangat melelahkan dan menyedihkan, menyesal aku, " gerutu hati wanita tua itu saat membuka pintu rumahnya.
Bu Nira memang sangat amatlah kesal pada Bu Suci, ia sengaja membuat rumah Bu Suci tergenang air comberan.
"Bau apa ini. "
Mencium bau tak sedap membuat Bu Suci merasa tak nyaman, hingga saat dimana ia membuka pintu rumahnya.
Betapa mengejutkannya pemandangan yang ia lihat, merasa tak yakin akan semua pandangan mata yang masih merasakan perih akibat siraman teh hangat dari Nita.
Mengucek ngucek, rumah Bu Suci banyak genangan air comberan. Seakan sengaja di sirami orang lain. " Siapa yang sudah berani membuat rumahku berantakan. Apa ini ulah si Nita."
Brakkk ....
Suara seperti buah jatuh mengenai atas genteng rumahnya, Bu Suci terburu buru keluar dari rumahnya. Melihat ke depan rumah, " heh, siapa kamu. Kalau berani sini nonghol, jangan bisanya sok bikin orang terkejut. Ayo kalau berani lawan sini. "
Dengan penuh keberanian Bu Suci menantang, orang yang sudah membuat rumahnya berantakan, suara-suara aneh, terdengar dari kedua telinga Bu Suci.
"Suciii."
Tawa dan suara orang menangis, di sudut rumahnya. Bulu pundak tiba-tiba merinding, membuat tangan kanan mengusap perlahan pundaknya sendiri.
"Suara apa lagi itu."
"Heh, jangan macam-macam ya, kalau kamu macam-macam aku gorok kau."
Mencoba melawan suara aneh itu, Bu Suci kini menghampiri sudut rumahnya.
"Tak ada apa apa. "
Suara itu terdengar lagi, sampai dimana. Bu Suci memberanikan diri berjalan ke belakang rumahnya.
Dan. Ahkkkk, wanita tua itu menjerit dan syok berat dengan penampakan wanita berbaju putih.
Mengunci pintu rapat rapat. Brakkk ....
Suara kamar ia tutup, dan sembunyi dibalik selimut. Wanita berpakaian putih itu ternyata suruhan Bu Nira, untuk mengerjai Bu Suci agar tidak memfitnah dan membuat Nita menderita.
"Gimana, berhasil."
"Ya."
__ADS_1
Di balik kegelapan malam mereka saling membisikan satu sama lain, Bu Nira dan suruhannya, " coba kamu bikin dia semakin ketakutan. Biar KAPOK. "
"Oke. Bu bos."
"Bagus."
Sang suruhan wanita yang memang diperintahkan oleh Bu Nira, kini mengetuk-ngetuk pintu jendela wanita tua itu.
Tok .... Tok ...
Bu Suci seluruh tubuh sudah tergulung oleh selimut, kini meminta hantu itu untuk pergi. Padahal orang yang mengetuk pintu dan mengerjainya bukanlah seorang hantu, melainkan seorang manusia biasa yang diperintahkan oleh Bu Nira.
"Kak Suciiii. " Tok .... Tok .... Tok ....
ketukan pintu dilayangkan kembali oleh Bu nira, di mana suruhannya hanya mengeluarkan suara menakut-nakuti.
"Bu Suciiii. "
"Cepat pergi dari sini." Teriak Bu Suci mengusir hantu itu agar tidak mengganggu, ia ingin tertidur pulas dari rasa lelahnya, karena hari sial saat datang ke kantor polisi.
"Pergiiii."
Suara itu kini tak terdengar lagi, Bu Suci menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. ia mencoba membuka selimutnya, berharap jika hantu itu tidak datang lagi, mengganggu jadwal tidurnya.
"Sepertinya hantu itu sudah pergi ya?" tanya Bu Suci pada dirinya sendiri, dia mulai bangkit dari tempat tidur.
Dan .... Ahkkk.
Bertapa terkejutnya Bu Suci, kedua mata menyeramkan itu melototi wajahnya, Siapa yang tidak akan takut dan juga kaget, melihat satu pasang muka yang menyeramkan berada di balik jendela depan rumahnya.
"Kamu ini siapa pergi. "
Bu Nira kini berusaha meniru suara Siti, adik dari Bu Suci, karena mungkin dengan cara seperti ini. Bu suci akan menyadari kesalahannya di masa lalu.
" Kenapa kamu bisa melupakan aku kakakku, aku ini Adikmu yang malang, yang sudah buat kau mati dalam hinaan orang-orang di kampungku sendiri. Kenapa kamu tega melakukan semua itu, dendam apa yang kamu buat sehingga kamu memfitnah aku." Ucap Bu Nira, dengan kepura-puraannya sebagai hantu Siti yang gentayangan, padahal Mana ada orang mati bisa gentayangan dan berbicara.
Sebenarnya Bu Nira tak kuat menahan tawa, karena mendengar Bu suci yang ketakutan karena suaranya yang begitu persis dengan Siti.
"Seru juga ternyata." gumam hati Bu Nira.
" Kamu ini sudah mati, Kenapa kamu malah menggangguku Siti, cepat pergi dari rumahku."
"Kakak."
__ADS_1
Bu Nira mengeluarkan tangisan seperti suara hantu wanita pada umumnya," Kenapa kamu tega kakak, Kenapa kamu tidak mau mengakui kesalahanmu kepada orang-orang di kampung, aku tidak akan pergi setelah kamu menyadari semuanya, dan mengakui jika yang bersalah itu bukan diriku."
"Heh, Siti sudahlah kamu jangan terlalu mengharapkan bahwa orang-orang akan bersimpati kepadamu, sebaiknya kamu pergi saja ke alam kuburmu, jangan menekan aku untuk berkata jujur pergi sana.".
Brakkkk .... Brakkk suara gedoran pintu yang begitu keras, membuat membuat Bu Suci semakin gemetar dan ketakutan, tumben sekali di malam ini tidak ada tetangga yang mau membantunya.
Setiap kali Bu Suci meminta tolong, ada satupun orang-orang yang datang ke rumahnya. Mendengarkan teriakan yang begitu kencang.
Padahal Bu Suci tidak tahu saja, para tetangga di dekat rumahnya sedang tidak ada di rumah, mereka menginap ke rumah orang tua mereka masing-masing. maka Bu nira, meluangkan kesempatan itu.
"Ke mana para tetangga?" gumam hati Bu Suci.
" Kakak suci, Kenapa kamu tidak mau mengakui kesalahanmu sendiri, tolonglah aku agar aku bisa mati tenang, tanpa memendam kesedihan ini."
Brakkk ... .
Bu Nira sengaja menyuruh suruhannya untuk membuat suara-suara menakutkan, agar Bu Suci semakin takut dan mengakui kesalahannya sendiri.
"Aku tidak mau cepat kamu pergi dari sini."
menutup kedua telinga menjauhi bising-bising suara yang menakutkan, dan kedua orang pintu yang amat begitu keras.
Bu Nira mencoba cara lain, ia melemparkan batu pada genteng rumah Bu suci, agar pemandangan yang dilihat Bu Suci semakin menyeramkan.
"Kak Suciiii. "
Bu Nira sengaja, mengguyurkan darah hewan, ke rumah Bu suci. " Apa apaan kamu ini, Siti."
"Itu darah hewan yang aku makan kak."
Bu Suci malah pergi ke kamarnya, ia tak bisa tidur malam itu, sedangkan Bu Nira sepertinya akan gagal, tapi ia berusaha keras semampu yang ia bisa.
Bu Suci mencoba menelepon Bu Nira.
"Halo, Haloo. "
Bu Nira punya ide yang sangat cemerlang, dan ide itu ia pakai saat itu juga.
"Halo, Bu Suci ada apa?"
"Halo, Bu Nira ada di mana, tolong saya!"
"Halo, nggak kedengaran bu, di sini berisik sekali."
__ADS_1
"Bu."
Panggilan telepon di matikan sebelah pihak, sampai akhinya, Suruhan Bu Nira berhasil masuk, ia mempunyai kunci ganda yang sudah lama Bu Nira duplikasi.