
Indah masih kesal dengan Ainun, ia menghampiri Ainun melepaskan tangan Galih dan.
Plakkk ....
Tamparan kerasa melayang, membuat Ainun merasakan rasa sakit," Indah, kenapa kamu tampar Ainun?"
"Kamu bilang kenapa? Apa kamu tidak sadar Galih, ngapain juga kamu mengantarkan dia pulang, biarkan dia pulang sendiri. Kamu ini punya istri yang harus kamu jaga dan temani, bukan malah mengurus wanita ini!"
Indah sebenarnya tak ingin melakukan semua ini, apalagi di depan rumah sakit, begitu memalukkan. Bagaimana lagi demi menyadarkan Galih yang tertipu akan keluguan Ainun.
"Galih, aku ditampar sama nenek peot ini, kenapa kamu diam saja," gerutu hati Ainun, memegang lengan Galih, menyender seakan membuat suasana semakin kacau.
Indah tentu saja semakin murka, ia menarik hijab yang dipakai Ainun, menariknya hingga dimana Galih membentak kakaknya sendiri." Cukup kak Indah."
Mendorong perlahan dan berkata, " Kamu boleh marah, tapi jangan main fisik."
"Tega kamu membela wanita ini?"
"Aku tidak membela hanya ingin menyembuhkan dia!"
Deni kini mendekat ke arah sang istri, melihat perdebatan yang tak kunjung usai, membuat Deni menyuruh Indah untuk masuk ke dalam rumah sakit. " Sebaiknya kita ke dalam lagi, sudah tak usah mengurusi mereka berdua."
Dada Indah terlihat naik turun, memperlihatkan kekesalan, ia belum puas merusak kerudung yang menutupi rambut Ainun.
"Ayo, sayang kita masuk."
Lelaki muda yang menjadi suami Indah kini menyuruh sang istri untuk pergi dari hadapan Galih dan Ainun, menyelesaikan perdebatan yang akan membuat wajah mereka malu.
Indah menurut, di saat tangan sang suami merangkul bahu istrinya. " Galih, jika wanita ini masih ada di rumahmu, aku pastikan Anna tidak akan bisa bersamamu lagi."
Galih menelan ludah, bukan itu yang ia inginkan. Lelaki berhidung mancung dengan bibirnya yang sedikit terlihat tebal, tak ingin kehilangan sang istri hanya gara gara mengurus Ainun.
Kepergian Indah, membuat Galih membawa Ainun masuk ke dalam mobil, lelaki berparas tampan itu kini mengajak ngobrol Ainun dengan secara perlahan. Karena ia melihat mantan istrinya itu begitu syok.
"Ainun, maafkan aku. Sepertinya aku tak sanggup menampung kamu di rumah, aku takut jika harus berpisah dengan Anna. Karena aku sangat mencintai dia."
__ADS_1
Kedua mata yang memerah karena habis menangis, kerudung begitu berantakan. Ainun tak terima dengan perkataan Galih, ia masih ingin dekat dengan mantan suaminya.
"Tapi, Galih. Aku masih sakit, apa kamu tega."
"Tidak ada yang tega meninggalkan orang sakit, tapi kamu tidak terlihat sakit pada umumnya orang. Dan benar apa kata Indah, kamu seperti orang yang berpura pura depresi."
Ainun menatap ke arah kaca mobil dengan berkata, " kenapa kamu mendengarkan kata wanita itu, aku ini .... "
Galih menghentikan perkataan wanita berhijab oren itu, ia membuat Ainun menangis." cukup, aku tak mau berdebat dengan orang yang padai bersilat lidah dan suka berbohong. Jadi hentikan omong kosongmu itu."
Berucap pun seakan tak ada guna, kini Ainun berada dititik terendah, dimana dirinya sudah tersalahkan. Ainun terlalu terburu-buru ingin mendapatkan sesuatu yang malah menjadikan dirinya kini rugi.
"Untuk tempat tinggal kamu jangan kuatir, aku bisa memberikanmu sebuah rumah kecil, untuk kamu bisa membangun usaha di sana, menyambung hidup. Dan lagi dokter tidak memVonis kamu gila, hanya depresi saja."
Menggengam kedua tangan dengan rasa kesal, pada akhirnya ia kalah dengan Anna.
"Oh ya, aku ingin bertanya padamu?"
Galih membalikkan badan dan menjawab." tanya apa!? "
Mendengar pertanyaan Ainun, membuat Galih bimbang. Jika ia mengatkan kejujuran tentang Farhan apa Ainun akan membawanya, atau membiarkan Farhan masih bersama Anna ibu sambungnya?
Pertanyaan yang terus berputar pada kepala Galih, membuat ia bingung.
"Kenapa kamu diam saja? Ayo jawab Galih, aku ingin tahu. Bahwa anakku itu masih hidup."
"Percuman saja mengatakan tentang anakmu, kalau kamu tahu juga, kamu tidak akan peduli. Seperti dulu. Dimana kamu meninggalkan aku yang tulus dan anak kita yang tak berdosa."
Ainun menitihkan air mata setelah mendengar beberapa patah kata yang menyakitkan hatinya, " maafkan aku tentang itu. Aku benar benar menyesal."
"Menyesal ketika aku sudah menikah dengan Anna, menyesal tapi kamu malah mau menghancurkan kebahagiaanku. Sudah cukup kah dulu kamu membuat hidupku merana dan tersiksa di saat kamu meninggalkan aku dengan Alex. "
"Galih."
Galih yang tak bisa menahan diri dari rasa sedih dan juga amarah, kini mengeremkan mobil secara mendadak. Tentulah membuat Ainun syok." Galih."
__ADS_1
Perlahan kedua bola mata melirik ke arah Galih yang menahan rasa kesal dan juga air mata. Tangan putih kini memegang pipi lelaki di sampingnya. Hingga dimana mulut sang pemilik membentak Ainun," jangan mencoba mengusap air mata ini. Aku tidak butuh."
Tangan putih itu kini turun dan memposisikan seperti sediakala.
"Aku berharap kamu akan kembali lagi bersamaku, seperti dulu, mengurusku dengan sabar. Tapi ternyata aku salah, hatimu ternyata sudah berubah tidak seperti dulu."
"Itu karena ulah kamu sendiri, Ainun. Sudahlah aku tahu hati kamu masih ada Daniel kan, walau pun dia mati kamu masih tetap mencintainya."
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Kenapa aku bebicara seperti ini, karena aku yang membuat Daniel mati tanpa campur tanganku. Kamu tahu kenapa aku melakukan semua itu. Karena kamu tak menghargai aku ada di saat aku bertanggung jawab merawatmu, menikahimu. Setiap malam kamu hanya menyebut nama Daniel, Daniel dan Daniel."
"Cukup, aku memang salah. Tapi itu masa lalu, aku juga tidak menyangka ulah pembunuh itu kamu Galih."
"Tak menyangka, jadi selama ini kamu kemana saja dengan kakakmu yang sudah mati itu. Aku sengaja membunuh dia walau tanpa tangaku sendiri, agar apa? AGAR KAMU KEMBALI LAGI Ainun, tapi apa kamu tetap saja tak peduli."
Betapa luka itu menyayat hati di masa lalu untuk Galih, dan sekarang saat Galih menemukan kebahagian masa lalu itu datang menekram, membuka semua kesalahannya sendiri.
Padahal menyusun rencana itu tidak gampang, apa lagi berpura pura. Baik.
*******
Sedangkan di rumah sakit, terlihat Indah tampak kesal, karena Galih yang pergi mengantarkan Ainun pulang.
"Kenapa, sayang?"
Indah menatap ke arah wajah suaminya," kamu masih bilang aku kenapa? Galih sekarang berada bersama Ainun. Dan adikku di ruangannya sendiri tanpa satu orang pun."
"Bukannya dokter, belum mengizinkan kita masuk ya?"
Menarik napas, berusaha tenang agar tidak menyakiti hati suaminya. " memang iya, tapi .... "
"Sudahlah, sayang. kamu jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh, aku percaya Galih itu tidak akan melakukan sesuatu yang membuat Anna sakit hati."
"Dari mana kamu tahu?"
__ADS_1
Suara nada Cetus terdengar kembali, Indah selalu mengeluarkan suara yang kadang membuat kesal orang.