Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 124 Rasa kasihan menjadi mala petaka.


__ADS_3

Berjalan gontai, kedua kaki Galih seakan melemah setelah mendengar kabar tak menyenangkan dari dokter. Rasanya tak sanggup, tapi harus bagaimana lagi. Jika tidak dilakukan, Kasihan dengan nasib Ainun. Wanita yatim piatu yang tak punya siapa siapa dalam hidupnya.


Terkadang Galih, mengingat Daniel. Lelaki yang sudah mati dikubur oleh Raka.


Dan Rahel? Bagi Galih dia tak penting karena sudah meninggal dunia.


Para perawat keluar dari ruangan Ainun. Sepertinya mereka sudah selesai dengan pekerjaan yang menenangkan Ainun dalam kegelisahan dan rasa trauma yang tiba tiba muncul.


"Bagaimana dengan pasien Ainun." Galih bertanya dan mulai di jawab oleh para perawat itu. " Keadaan Pasien Ainun baik-baik saja. Hanya saja bapak tidak boleh membuat pasien Ainun mengingat masa lalunya lagi, ya. "


Menganggukan kepala, dan berjalan menuju ke ruangan Ainun, terlihat kerudung putih terus menempel pada kepalanya. Ainun sangat menjaga auratnya, sampai saat ini Galih tak tahu bagaimana kecantikan rambut wanita berkulit putih di hadapanya.


"Ainun, andai saja dulu kamu menurut padaku. Mungkin hidup kita tidak akan seperti ini, sekarang aku sudah mempunyai kewajiban sebagai seorang suami yang harus membahagiakan istri dan ketiga anak anakku. " Gumam hati Galih.


Lelaki berbadan kekar itu tak berani menyentuh pipi mulus dan natural mantan istrinya yang sudah ia talak, tuju belas tahun lamanya. Dimana kelahiran Alex, anak yang kini di rawat oleh Anna dan di beri nama Farhan. Menjadikan anak yang begitu tampan dan juga penyayang, apa jadinya nanti jika Farhan tahu ayah dan ibu kandungnya adalah Galih dan juga Ainun.


Apa Farhan akan menerima kedua orang tua, yang sudah menyia nyiakannya? Akankah dendam membara pada hati Farhan, tapi bagi Galih. Rasanya tak mungkin , karena didikan Anna yang lembut pasti akan membuat Farhan menerima Galih. Apalagi Galih sekarang menjadi suami Anna.


Farhan dulu seperti Galih, seiringnya berlalu Farhan yang semakin tumbuh besar, semakin percis dengan Ainun. Hanya saja perawakannya sekarang mengarah pada Daniel.


Rasa lelah mulai menyerang Galih, kedua mata mulai terlelap seakan memaksa untuk beristirahat. Karena repsesi yang tiada henti dan juga masalah tak kunjung selesai, membuat Galih akhirnya tidur dalam posisi duduk.


********


Anna berusaha tenang, ia beberapa kali menelepon Galih. Tak kunjung diangkat juga, tak ada kabar. Atau pun pesan datang dari sang suami.


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Anna tak bisa tidur, karena hatinya merasakan kegelisahan. Bagaimana bisa Anna tenang jika Galih belum juga memberinya kabar sama sekali.


"Mas, kamu kemana sih. Kenapa kamu tidak memberiku kabar sama sekali."


Hati yang tak tenang, membuat Anna menelepon kembali Galih.


"Mas, ayo angkat. "

__ADS_1


Di rumah sakit, Galih yang masih tertidur. Tak menyadari akan ponselnya yang berbunyi, saking kelelahannya Galih benar-benar tertidur pulas, tak ada jeda untuk lelaki berbadan kekar itu beristirahat.


Sampai dimana ia lupa memberi kabar pada sang istri. Ponsel yang terus berbunyi dengan nada bergetar saja, membuat Ainun bangun dan sadar.


Wanita dengan hijab putihnya, merogoh saku celana Galih, melihat siapa yang menelepon.


"Istriku."


Panggilan telepon itu ternyata dari Anna, Ainun yang masih memegang ponsel Galih, ia mulai mengangkat panggilan telepon dari Anna.


"Halo, Mas. Kamu dimana? Aku sangat menghuwatirkan kamu! Halo, mas. "


Ainun mulai berucap pada sambungan telepon dengan menjawab. " Halo, Anna."


Suara seorang wanita, membuat Anna tentu saja langsung mengenal suara itu. " Ainun, mana suamiku. Tolong berikan ponselnya pada Mas Galih. "


Anna dengan sopanya meminta pada Ainun untuk memberikan ponselnya pada Galih. Tapi Ainun seperti sengaja tidak membangunkan Galih.


"Anna,Galih sedang tidur. Kasihan dia sudah kelelahan mengurusku. "


"Apa maksud kamu, mengurusmu. Memangnya kamu kenapa? "


"Sudahlah Anna, jangan curiga seperti itu. Aku sekarang sedang sakit, dan berada di rumah sakit! "


Jawaban Ainun membuat Anna sedikit lega, hanya saja masih ada rasa cemburu di hati Ainun, karena sekarang Anna menjadi istri Galih.


"Syukurlah, bagaimana keadaanmu, Ainun. "


Dengan sikapnya yang ramah, Anna bertanya dengan keadaan Ainun yang sekarang. " kamu tahu sendirikan , keadaanku memburuk. Aku butuh Galih, apa kamu bisa memberikan Galih sepenuhnya untukku? "


Deg ....


Permintaan konyol apa yang di minta Ainun pada Anna, tentulah membuat Anna tak ingin memberikan Galih yang baru saja jadi miliknya untuk orang lain.

__ADS_1


"Jika ingin bercanda, ada baiknya nanti saja ya, Ainun. "


"Aku tidak sedang bercanda Anna, aku serius. Tubuhku yang lemah dan sakit ini masih membutuhkan Galih untuk kesembuhanku, tolonglah mengerti Anna, Galih masih betanggung jawab kepadaku. Karena dia aku seperti ini. "


"Apa maksud kamu? "


Tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Ainun, membuat wanita berkerudung putih itu berniat mengatakan semua yang terjadi di masa lalu, agar Anna mau memberikan Galih untuk dirinya.


Saat Ainun mulai menceritakan semuanya pada sambungan telepon, saat itulah Galih perlahan membuka kedua mata dengan mengucek-ngucek. Sampai ia melihat ponselnya ada di tangan Ainun.


Dengan sigap merebut ponselnya, dengan membulatkan kedua mata. Ainun tentu saja kaget dengan Galih yang tiba tiba saja bangun dan merebut ponsel dari tanganya.


"Galih."


Menatap pada layar ponsel, dimana panggilan masih tersambung. Tertera nama Istriku, Galih yang melihat nama itu. Mematikkan dan menyimpan kembali ponselnya pada saku celana.


Ainun hanya duduk di rajang tempat tidur, dengan menundukkan wajah.


Sekilas melihat wajah Galih biasa saja, " maaf Galih, tadi istri kamu menelepon kamu. Sepertinya dia kuatir dengan keadaan kamu. "


Wajah lugu ia perlihatkan di depan Galih, membuat lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang macung berusaha tenang, ia mengigat pesan dokter untuk tetap sabar menghadapi Ainun.


Walau sebenarnya hati Galih ingin sekali memarahi Ainun saat itu juga, karena lancang mengambil ponsel pada saku celananya, dengan mengeluarkan nada lembut, Galih mulai memjawab." besok aku akan memberi pengertian pada Anna, jadi kamu jangan kuatir. "


Ainun tersenyum kecil, seperti kemenangan ada di tanganya, tanpa Ainun sadari dia sudah melukai hati sesama wanita.


"Kamu istirahat, jangan pikirkan apapun. Jika butuh apa apa bicara saja padaku. "


Perkataan Galih, tentulah membuat Ainun senang, apalagi Ainun disuguhkan dengan perhatian dan juga kata kata lembut dari mulut Galih.


"Terima kasih, Galih. "


"Jangan berterima kasih, aku hanya ingin membantumu agar sembuh."

__ADS_1


Perkataan yang membuat hati Ainun, berbunga bunga, Ainun tersenyum kecil, apa ada kesempatan untuknya bisa bersama kembali dengan Galih. Lelaki yang baru ia sadari begitu tampan dan dulu selalu mengejar ngejar cintanya.


Entah di butakan apa dulu Ainun, bisa tidak mencintai Galih?


__ADS_2