
Bu Sari masih berada di dalam mobil, ia tak berani keluar dari dalam mobil. Karena rasa malunya terhadap Anna, takut jika nanti sewaktu-waktu Indah keluar dari rumah sakit dan melihat dirinya.
Apa nanti tanggapan wanita bermata sipit itu pada Bu Sari? Sudah lumayan lama wanita tua yang menjadi ibunda Raka berdiam diri, menunggu kedatangan Farhan sang cucu.
Rasa bosan menghantui wanita tua, yang hanya berdiam diri di dalam mobil.
Hingga suara Farhan terdengar jelas, Bu Sari senang mendenga suara sang cucu.
Membuka pintu mobil, terukir senyum Farhan kepada sang nenek, wanita tua itu merasa lega jika cucunya masih dalam keadaan tersenyum dan menyapa dirinya.
Berati Anna tidak membicarakan kejelekan Bu Sari kepada Farhan dan juga Galih. Semua orang kirim memposisikan duduk di dalam mobil, Farhan masih duduk di samping kiri sang nenek.
Ingin rasanya Bu Sari menanyakan tentang keadaan Anna, tetapi mulutnya seakan tertutup rapat, ia malu dan juga tak berani.
Mobil mulai melaju untuk mengantarkan Bu Sari dan juga Ainun.
Di tengah tengah perjalanan, Farhan menyuruh sang papah untuk berhenti sebentar di sebuah mesin atm.
Mengambil uang yang diperintahkan oleh Anna, untuk di berikan kepada Bu Sari.
Hingga beberapa menit kemudian, Farhan datang lagi ke dalam mobil. Ia belum berani memberikan uang kepada Bu Sari di dalam mobil. Biar nanti saat mengantarkanya menuju rumah.
Ada perasaan heran dengan Bu Sari, karena Farhan terlihat begitu ceria.
"Oh, ya. Tadi mamah nitip salam buat nenek."
Bu Sari tersenyum, masih sempatnya Anna mengatakan semua itu. Padahal sudah banyak kesalahn yang ia perbuat pada Anna, dengan menghinanya.
Wanita tua itu hanya menundukkan pandangan hingga di mana Farhan memanggil Ainun dengan sebutan ibu dan membuatmu Bu Sari terkejut.
"Ibu."
__ADS_1
"Nenek, kaget ya."
Bu Sari menatap kearah Farhan dengan mengerutkan dahi," Memangnya Ainun itu ibu kamu Farhan? Jadi. kamu sudah tahu semuanya?"
Terlihat raut wajah anak muda itu tersenyum dengan perasaan bahagia, ia menganggukkan kepala." Iya, ibu Ainun. Ibu kandung Farhan dan juga papah Galih adalah papah kandung Farhan."
Bu Sari terdiam. " kenapa bisa sampai kebetulan sekali?" Gumam hati Bu Sari.
Wanita tua itu baru tahu semuanya, ia hanya terdiam dan tak mengerti dengan semua perkataan Farhan.
Di tengah lamunan Bu Sari. Farhan memegang bahu wanita tua yang menjadi neneknya.
Lamunan Bu Sari membuyar, ketika Farhan memanggil, ya baru sadar ternyata mobil sudah berhenti dari tadi. karena dirinya yang terus melamun, iya tak tahu jika ternyata dirinya sudah sampai pada rumahnya.
Farhan mencoba membuka pintu mobil untuk membantu wanita tua itu keluar dari dalam mobil, menginjakkan kaki ke tanah. Farhan mengikuti langkah kaki sang nenek, hingga berhenti di depan rumah kecil.
"Ini rumah nenek?" tanya Farhan menuntun Bu Sari, betapa baiknya anak berumur tujuh belas tahun itu. Tak ada rasa benci atau pun rasa kesal.
"Nenek ngontrak di sini, Farhan!" jawab Bu Sari dengan raut wajah sedihnya.
"Ini nek, dari mama."
Anna begitu peduli dengan wanita tua yang sudah sering menghina dirinya.
Sampai memberikan uang bekal selama di kota, tak ada rasa dendam pada hati Anna sekarang. Ia berusaha berpasrah diri. Walau hinaan selalu datang menerpa.
"Ini beneran, Farhan. Untuk nenek?" tanya Bu Sari yang tak percaya dengan apa yang ia pegang saat ini. Tanganya gemetar, memang Bu Sari tidak mempunyai uang sama sekali, ia tersenyum setelah menerima uang pemberian Farhan dari Anna.
Baru saja tadi di dalam mobil memikirkan nanti makan dengan apa? Tapi sekarang Bu Sari merasa lega, rasa laparnya akan teratasi. Dengan uang berwarna merah yang lumayan cukup banyak.
"Ini beneran buat nenek," ucap kembali Bu Sari, berusaha menyakini diri.
__ADS_1
Farhan anak remaja berusia tujuh belas tahun itu, menganggukan kepala meyakinkan bahwa uang yang Bu Sari terima adalah pemberian dari ibunya sendiri. " Iya nek, itu untuk nenek dari mama. Karena kan sekarang mama jadi pengusaha."
"Pengusaha?"
"Iya, mama hebat sekarang, nek! "
Farhan melihat ke sana kemari mencari seseorang yang selalu ia nantikan pulang di masa dulu.
"Kamu cara apa?" tanya sang nenek.
"Kakek kemana, nek?" tanya Farhan, menanyakan sosok lelaki tua yang selalu baik kepadanya di masa lalu. Tak pernah ada rasa kecewa dari sang kakek, lelaki tua itu berbeda jauh sifatnya dengan sang istri.
"Kakek ada di kampung. Nenek suruh buat jaga ladang, kalau nanti semua tinggal di sini, siapa yang nyari uang. Kamu tahu sendirikan Bapak kamu masuk ke dalam penjara!" jawab Bu Sari, ia seperti ingin memanfaatkan kebaikan Farhan agar bisa membebaskan Raka dari dalam penjara.
Raut wajah yang sudah menua itu, kini mulai menatap dekat ke arah Farhan. kedua mata Bu Sari meneteskan air mata, memegang bahu sang cucu dengan berkata." nenek ini sekarang kesepian, di rumah kecil ini tidak ada yang mau menemani nenek."
Farhan mulai bersimpati kepada wanita tua itu, ada rasa kasihan di saat air mata Bu Sari menetes perlahan mengenai kedua pipinya yang sudah terlihat berkerut.
"Ya sudah, bagaimana kalau nenek tinggal saja di rumah Farhan. Nanti kan di sana ada Radit dan juga Lulu yang menemani nenek. Agar nenek ini tidak kesepian, " ucapan Farhan tak membuat wanita tua itu senang, yang ia inginkan sekarang adalah membebaskan anak semata wayangnya yang masih berada di dalam penjara.
Bu Sari menatap ke arah mobil, terlihat sekali Galih masih menunggu di dalam mobil dengan mengobrol bersama Ainun, Ini kesempatan besar untuk Bu Sari untuk membujuk cucunya agar mau merayu Anna membebaskan Raka.
Walau sebenarnya ada rasa keraguan tapi wanita tua itu berusaha, untuk bisa meluluhkan hati anak remaja berusia tujuh belas tahun.
"Farhan, apa kamu bisa bantu nenek, " ucap Bu Sari dengan raut wajah yang ia perlihatkan dengan kesedihan kepada cucunya.
Farhan mengerutkan dahi," bantu apa, nek?"
Bu Sari mendekatkan bibirnya pada telinga Farhan, membisikan sebuah keinginan.
Mendengar bisikan yang terlontar dari mulut Bu Sari, membuat Farhan membulatkan kedua matanya. Ia sedikit menyingkir dari hadapan Bu Sari, tak mungkin dia melakukan apa yang diinginkan wanita tua itu.
__ADS_1
"Farhan, apa kamu bisa melakukannya demi, nenek."
Farhan menundukkan wajah. Sepertinya ia tak sanggup untuk mewujudkan keinginan sang nenek, karena masih ada rasa sakit hati dengan kakak yang sudah pernah menyakiti ibunya sendiri.