
Indah berusaha menjadi sosok istri yang baik, dimana ia melakukan kewajiban sebagai seorang istri, berusaha menerima takdir dan kehidupan baru, walau terkadang ada bayangan sang mantan dan kekuatiran dengan keadaan Danu yang sekarang.
sebenarnya ini terbilang begitu aneh. Tapi bagi Deni, cinta tidak memandang batasan umur dan siapa yang harus menghormati, yang terpenting mereka menjalankan kewajiban sebagai suami istri.
Deni berusaha menjadi sosok yang sempurna bagi Indah, walau dirinya hanya seorang bocah. Mencoba mengejar cinta istrinya, agar bisa lepas dari bayangkan sang mantan yang menyiksa.
Indah tengah asik memotong sayuran, hingga dimana Deni berusaha mendekat. Memeluk erat sang pujaan hati. " Sedang apa?"
Pelukan Deni masih terbilang aneh bagi Indah, walau mereka sudah merasakan hubungan suami istri. "masak apa? "
Hembusan napas, di segaja oleh Deni pada telinga sang istri, tentulah membuat Indah merasa geli." aku masih banyak kerjaan, tidak bisa tidak kamu tidak ganggu aku dulu."
Nada bicara sang istri masih terdengar cetus, tidak menghalangi Deni untuk berusaha membuat hati istrinya luluh, "mm, kamu marah? "
Pertanyaan Deni membuat Indah langsung membalikkan badan ke arah lelaki muda yang pantas menjadi adiknya.
Tangan mulus berwarna kuning langsat Indah, mencubit hidung macung sang suami.
"Dasar bocah, kamu mau aku masak sekarang."
Walau Indah dalam berbicara cetus dan jutek, tapi ia mampu membuat lelaki menjadi nyaman bersamanya. "Tentulah."
Tatapan tajam membuat sebuah isarat, jika pertempuran semalam belum membuat Deni puas. Apalagi Deni baru merasakan apa itu arti malam pertama dengan wanita yang sudah berpengalaman.
Menekan bibir dengan tangan, Indah mencoba menolak karena dia belum memasak apa apa dari tadi pagi, karena sang suami yang terus meminta lagi dan lagi.
"Bukanya tadi sudahnya, aku lemas. Pengen makan." Wajah jutek Indah kini berubah menjadi mengemaskan, tentulah membuat Deni semakin mengila dan tergoda.
"Aku sudah pesan makanan untuk kamu, jadi tinggal makan saja. Tak usah repot repot masak." Deni membuat Indah kesal, " Ya elah, kenapa tidak bilang dari tadi, mungkin aku tidak akan cape cape memotong sayuran ini. "
Bibir tipis atas dan terlihat tebal pada bawahnya, kini mengkerut, menampilkan sebuah pesona untuk Deni yang melihatnya. Ingin sekalu Deni mengigit bibir itu saat ini juga.
Namun, apa daya tak tega melihat Indah yang terlihat kelelahan. " Habisnya, dari tadi ditanya jutek terus."
Deni memegang kedua pipi yang mengemaskan itu, membuat sang pemilik meringis kesakitan.
"Aw, sakit. "
Deni malah tertawa dengan rasa puas melihat, sang istri merasa sakit akibat cubitan kecilnya.
__ADS_1
"Coba kalau kamu tidak kelelahan seperti ini Indah, aku sudah menekrammu saat ini juga. " Gerutu hati Deni. Menahan gejolak dalam jiwa.
Suara bel berbunyi," Tuh, makanan kita sudah datang."
Betapa bahagianya Indah, setelah mendengar suara bel, dimana pengantar makanan sudah datang. Rasanya ia tak sabar ingin menikmati hidangan yang sudah di pesan Deni.
"Ayo."
Bukan menjawab perkataan sang istri, Deni malah membopong tubuh Indah, membuat wanita bermata sipit itu jelas kaget.
"Deni, apa apaan kamu ini. "
Berteriak sembari memukul-mukul bahu Deni, membuat lelaki itu malah tersenyum kecil.
Membuka pintu rumah, terlihat sipengantar makanan tersenyum, melihat sepasang pengantin baru tengah bermesraan.
sedangkan dengan Indah, ia merasa malu karena dirinya yang sudah pernah menikah dan tak pernah diperlakukan seperti ratu oleh Danu. Membuat rasa yang berbeda pada pernikahan Indah dengan Deni yang sekarang.
"Cie ... Cie. Pengantin baru ya, mas?" tanya sipengantar makanan, dengan wajah ramahnya. Memberikan pesanan kepada Deni.
"Bapak ini tahu aja kita penganten baru!" jawab Deni mengambil pesannanya dan menandatangi kertas kecil.
Deni tersenyum sedangkan Indah, merasa benar-benar malu. Ia ingin sekali turun pada pangkuan Deni.
"Ya sudah, saya permisi dulu. "
Sang pengantar makanan kini pergi, setelah mengantarkan pesanan Deni. Terlihat si pengantar yang memakai jaket ijo itu tersenyum-senyum sendiri.
Deni yang masih membopong tubuh istrinya," kapan aku turun."
"Nanti setelah aku lelah. "
"Deni, jangan bercanda terus. Ayo cepat turunkan aku, kamu sudah buat aku benar-benar malu."
kedua pipi masih terlihat memerah seperti buah ceri, Deni yang melihat itu hanya mencubit pelan pipi sang pujaan hati dan berkata. "kamu lucu tahu nggak?"
Indah menutup kedua pipinya dan menjawab, dengan meledek." bocah, sudah tahu umur berbeda jauh masih di sebut lucu."
Deni malah tersenyum, menampilkan bibir tipis yang semalam tersentuh oleh Indah.
__ADS_1
Wanita bermata sipit itu berusaha menghindari pandangan sang suami mudanya itu. Sampai Deni dengan keberanianya mencium pipi kiri Indah.
"Muach."
Terdengar suara ciuman, tentulah membuat Indah tertawa bahak-bahak. "Ayo kita makan. "
"Oh, ya aku lupa. "
Saat itulah Deni bergegas pergi ke dapur, membuat Indah berteriak. " mau kemana? "
Deni tak menjawab pertanyaan Indah, ia langsung bergegas pergi begitu saja, membuat rasa Indah heran.
Setelah keluar dari dapur, betapa kagetnya Indah, melihat Deni membuatkan sebuah minuman jus dan piring. " Deni, biar aku saja yang mengambil."
"Biarkan hari ini, aku memanjakan kamu istriku, karena semalam kamu juga sudah memanjakanku dengan goyangan ngebormu. "
Indah menepuk jidatnya, merasa malu dengan tingkah kekanak-kanakan suaminya yang memang masih bocah, tapi ada rasa syukur yang tak bisa diungkapkan lewat kata, Deni bahagia. Walau perasaan belum yakin pada Deni sepenuhnya.
Perlahan mereka mulai memakan pesanan yang Deni pesan. " Bagaimana, enak?"
Pertanyaan Deni membuat Indah menganggukan kepala, tanpa ekpresi ceria sama sekali.
Entah apa yang tengah di pikirkan Indah, sampai ia tak menjawab dan hanya meganggukan kepala.
Deni mulai menyodotkan satu suapan pada istrinya, tentulah membuat Indah ragu. " Ayo makan ini enak loh."
Terlihat wajah kejahilan Deni pada istrinya, membuat Indah membalikkan sendok yang akan disodorkan Deni kepadanya.
"Kamu dulu yang makan, nanti aku nyusul."
Padahal Deni sudah menaruh cabai banyak pada makanan yang akan disodorkan pada Indah.
Mau tidak mau, kejahilan Deni berbalik pada dirinya sendiri. Deni berjingkat jingkat merasakan rasa pedas, sedangkan Indah tertawa melihat senyuman suaminya.
Di tengah kebahagian yang mereka rasakan, suara ponsel Indah berbunyi, dimana Bu Dela menelapon.
"Siapa lagi?" Tanya Deni terlihat tak suka, jika ada yang mengganggu kebahagiaan mereka berdua, rasanya Deni ingin sekali menyingkirkan orang yang sudah membuat kebahagiaannya buyar.
"Bu Dela." Raut wajah tak menyenangkan kini ditampilkan oleh Deni, kesal dan sebal yang kini dirasakan Deni, ketika Bu Dela mantan mertua meneleponnya terus menerus. Padahal sudah di peringati, namun nenek tua itu sangatlah menyebalkan.
__ADS_1