Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 74 Pov Raka. Pengakuan


__ADS_3

***** Kakak cantik, dan juga kakak tampan. Baik hati, dan tidak sombong****


..... .... Masih dengan POV RAKA ya, selamat membaca, jangan lupa siapkan cemilannya ...... ******


Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Apa aku harua mengaku? Mana mungkin. Deni lelaki yang baru saja mengaku sebagai adik Daniel, mendekat ke arahku, kedua tangan kekarnya mencekram kerah bajuku dan berkata. " Cepat katakan, atau kurobek mulutmu ini. "


Sial sepertinya aku akan menjadi pecundang saat ini, bagaimana tidak. Mereka mengeluarkan aura mengancam di depanku, tentu saja membuat aku menelan ludah yang mungkin sebentar lagi akan kering.


"Sebelumnya lepaskan dulu tanganmu. Setelah ini, aku akan mengaku. "


Perlahan Deni mulai melepaskan tangan kekarnya, wajah penuh ancaman kini kembali normal seperti biasa. Dia merapikan bajuku dengan berkata. " Katakan lah, jika kamu tidak takut akan kematian. "


Bisikan itu membuat nyaliku menciut, bagaimana tidak hidupku kini diambang antara mati dan bertahan hidup. Ajeng sepertinya mulai membelaku lagi.


"Kalian berani membunuh kami dan mengancam kami, aku tak segan segan melaporkan semuanya. "


Perkataan Ajeng malah membuat mereka tertawa, seperti lelucon yang meng-asikan, Anna mendekat ke arah Ajeng sedikit mendorong dada istriku dengan telunjuk tanganya. " Perempuan alot ini, mau melaporkan kita ke kantor polisi. Waw luar biasa, wajah tua tapi anak ayah. Apa apa ayah. Menyedihkan, iw. "


Ajeng hanya menahan amarahnya dengan mengeram gigi, "Diam kamu. Wanita. "


Plakkk .....


Anna tak segan segan menampar Ajeng dengan begitu mudahnya. " Jangan banyak bicara, ketika aku tengah bertanya pada suamimu ini. "


Terdiam hanya sesak di dada, yang mungkin di rasakan Ajeng saat ini. Aku benar benar seperti manusia tak berguna dihadapan Anna, lemah dan menyedihkan.


"Apa yang dikatakan Ajeng benar Anna, jangan kamu siksa atau bunuh kami. "


Anna kini mengeluarkan suara tawanya, tawanyapun terlihat anggun. Ya tuhan ada apa denganku, kenapa aku seperti tercuci akan pesonanya yang hanya terlihat dari kedua mata yang nyata ini.


"Sudahlah mas, kami di sini tak takut penjara. Karna setelah membunuh dan mengetahui semuanya hati kami akan tenang. "


Aku tidak mau mati, hidupku masih panjang. Ibu terlihat pucat ia sepertinya ketakutan sekali.


"Ayolah, mas katakan saja. ".

__ADS_1


Aku bersujud, mendudukan lututku dengan menangis. Memohon ampun kepada Anna. Ajeng yang berada di sampingku berkata. " Jangan lakukan itu, mas. "


Terlihat Anna menberikan kode pada Deni, lelaki berbadan kekar yang baru aku tahu sekarang, menarik tangan Ajeng. Agar tidak menghalangkan perkataanku.


"Cepat katakan, mas. "


Anna kini menyuruh Deni menutup mulut Ajeng, agar dia tak berteriak. Anna yang sudah aku akui pintar dan cerdik itu. Mengambil ponselku, " Anna. Jangan ambil ponselku. "


Ia sepertinya menatap layar ponsel yang aku sengaja kunci, agar data pribadiku aman. Tapi tidak dengan mantan istriku, ia mengetik kode dengan lincahnya seperti tahu apa kata kunci kode rahasia pada ponselku itu.


"Anna, ini terlalu keterlaluan. Kamu benar benar jahat. "


Anna seperti tak mempedulikan perkataanku, ia asik dengan ponselku mencari kode beberapa kali. Seperti tak menemukan kode itu.


"Aku tanya sama kamu. Mas. Apa kode rahasia ponsel kamu. "


"Anna, itu tak penting. "


"Cepat jawab. "


Ajeng yang mendengar ucapanku berkata. " Mas, kamu gila. "


Anna malah tersenyum sinis disaat aku mengatakan kode dalam ponselku." Waw, setelah apa yang kamu lakukan padaku. Kamu masih menganggumi namaku Mas, apa kamu tidak sadar diri akan kesalahanmu. "


Entah apa yang akan dilakukan Anna pada ponselku, karna sudah beberapa ponsel ia pegang , dari ponsel ibu, bapak. Dan juga ponsel rusak Ajeng.


"Nah beres. "


Apa maksudnya. " sudah beres mas. Silahkan katakan, pengakuanmu. "


Ternyata Anna sengaja mengambil ponselku, ia mau merekam apa yang akan aku katakan padanya. Tentang pengakuan di mana aku membunuh Daniel. Dengan ponselku.


"Ayo katakan, mas. "


"Kamu sungguh licik Anna. Kamu sengaja merekam dengan ponselku dan mengirimkan pada polisi, dimana dari sana aku yang menyerahkan diriku sendiri."

__ADS_1


Anna tersenyum manis dihadapanku dan berkata. " Waw, aku beri kamu nilai 10 Mas. Karna kamu pintar menebak aksi dan rencana recehku ini. "


"Jangan harap aku mengakui semuanya. Ingat itu, aku tidak akan bisa menekanku saat itu. "


Anna tiba tiba memanggil Deni. " Deni. Kamu tahu kan, jika lelaki ini susah di ajak diskusi. Jadi kamu mengertilan apa perkataanku. "


Sialnya Deni mengeluarkan sebuah pistol kepada ibu dan bapak. " Anna, apa kamu gila. "


Aku berusaha berteriak meminta bantuan pada tetangga. Akan tetapi Anna malah menendang perutku dengan keras.


"Cepat katakan, jangan berteriak. Tetanggamu sudah aku alihkan pada sesuatu yang tak akan menyadari keributan kita di sini. "


"Jangan gila kamu Anna. "


"Deni, jika lelaki dihadapanku ini tidak mengakui semuanya. Sebaiknya kamu buhuh saja ibunya. Tembak sekarang ....


Tentu saja di saat Anna berkata seperti itu, aku langsung berteriak. Di saat Deni terdengar membenarkan sebuah pistol dan menekan pads kepala ibuku.


" Stoppp, jangan lakukan itu. "


Anna menekanku lagi, sedangkan Ajeng berusaha menahan. Agar aku tak mengatakan semuanya. Tapi harus bagaimana lagi, dari pada nyawa ibuku. Aku harus mengatakan semua kebenaran dan kejahatan yang sudah terjadi olehku. "


"Baik aku akan mengakui semuanya, kumohon. Jangan sakiti ibuku. "


"Cepat katakan, aku tidak suka mengulur waktu."


***** Penjelasan *******


" Waktu kejadian tabrakan itu. Aku bergegas menaiki mobil dengan terburu buru, aku tak tahu jika akan ada hari sial yang membuat hidupku diliputi kebohongan hingga sekarang. Sejujurnya, tabrakan itu di sebabkan dengan datangnya sosok lelaki bermotor yang sengaja menyelip mobilku. Motor itu seperti sengaja membuat aku tak fokus, bergerak kesana ke mari. Tentulah membuat aku tak bisa mengendalikan mobil. Hingga dimana dua sejoli yang tengah berjalan santai dan melintas menjadi sasaran dari mobiku. Motor yang menghalangi keseimbangan mobilku pergi begitu saja. Aku yang panik tanpa orang di sana, hanya merasakan rasa lemas ketakutan. Dua sejoli itu kamu Anna dan juga Daniel. Kalian terluka parah hingga terpental jauh dari jalanan, di sana aku tak bisa berpikir jerni. Hanya ingin menyelamatkan diri dari tekanan polisi saat itu. Aku tak mau jika nanti aku masuk ke dalam penjara. Dengan pikiran yang kacau, aku mengecek kalian berdua. Kalian ternyata masih hidup. Karna pikiranku yang ketakutan. Aku dengan nekadnya menyered paksa Daniel yang masih hidup. Mengubur dia di dalam hutan. Mungkin ini terdengar sadis tapi ini cara agar aku tidak ditekan oleh polisi dan di pertanyakan dengan detail. Namun ternyata aku salah, bodoh. Jahat, mengikuti naruliku. Setelah kejadian itu aku bingung, apa yang harus aku lakukan, hingga di mana aku meminta bantuan pada Ajeng. Dan untung saja Ajeng mau membantuku. Ia menyuruhku untuk tidak menyentuh Anna dan Daniel. Orang yang sudah aku tabrak, agar tidak ada sidik jariku. Di tubuh Anna dan Daniel. Maka dari itu aku membiarkan Anna tergeletak dengan besimpun darah pada kepalanya. Meninggalkan dia melajukan mobilku ....


Belum pengakuan terlontar, Ajeng memukul badan Deni, ia berlari kepadaku. Membuat Anna dengan sigap mematikkan ponselnya.


"Bohong. Semua ini bohong. "


Brukkkk ....

__ADS_1


Deni nekad memukul Ajeng hingga ia jatuh pingsan.


__ADS_2