Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 120 Kumat.


__ADS_3

Galih tak menyangka jika Anna datang, padahal ia sudah berpesan pada pembantunya itu agar mencegah Anna untuk tidak turun kebawah melihat Ainun.


Kedua bola mata hitam menantap kearah Anna, senyumnya yang tipis ia layangkan padanya.


"Mas Galih, siapa dia? "


Anna mendekat kearah suaminya, memegang erat lengan kekar Galih memperlihatkan begitu sayangnya Anna pada suaminya.


Ainun sedikit cemburu dengan apa yang ia lihat, akan tetapi dirinya berusaha menepis rasa tak wajar itu. "Sayang, kenalkan. Ini Ainun, mantan istriku. "


Sayang? Mantan? Itulah yang menjadi pertanyaan pada hati Ainun.


Anna menyodorkan tangan ke arah wanita cantik yang berhijab itu," Anna. "


Ainun seperti enggan berjabat tangan dengan Anna, ia hanya menyebut namanya begitu saja. " Ainun. "


Tangan yang berusaha menujukkan keramahan dan etika, kini terpaksa Anna posisikan kembali. " oh ya, mas. Kenapa kamu tidak suruh tamu kita untuk duduk."


Anna masih dengan sikap dewasanya, tak menampilkan rasa cemburu sedikitpun. Ia bersikap ramah dan sopan terhadap mantan istri suaminya. Karena bagi Anna mantan adalah masa lalu yang sudah menjadi kenangan berlalu.


"Silahkan duduk. " Anna mempersilahkan Ainun untuk duduk. Akan tetapi Ainun malah membuang muka dan berpamitan untuk segera pulang.


"Saya, pulang dulu. Maaf mengganggu waktunya. " Dengan cepat Ainun melangkah keluar rumah tanpa melirik sang pemilik rumah, pergi begitu saja tanpa sopan santun sedikitpun.


Anna yang merasa tak enak hati dengan kepergian Ainun, menyuruh Galih mengejar wanita itu. Akan tetapi Galih malah diam saja, tak ada rasa peduli sedikit pun.


"Mas, kok kamu nggak kejar dia. Kasihan dia, mana di luar ujan lagi, " ucap Anna mengkhuatirkan keadaan mantan istri suaminya.


"Biarkan saja, An. Dia kan bukan anak kecil lagi, dia sudah gede. Bisa jalan sendiri, " balas Galih, tak mau membuat kekacauwan pada rumah tangga yang baru satu hari ia jalani, hanya untuk mengejar wanita yang tak menghargai pegorbanan dan tanggung jawabanya.


"Mm, ya sudah deh. Aku nggak bakal maksa. Toh dia kan hanya mantan kamu, sedangkan aku ini istrimu, mas. " ucap Anna, membuat Galih tersenyum dan memegang dagu istrinya.


"Nah, kamu tahu itu sayang. " balas Galih, perlahan wajahnya mulai ia dekatkan pada Anna, membuat jari tangan Anna ia tempelkan pada bibir sang suami.


"Jangan di sini, pindah aja yuk. "


Bisik Anna, menarik tangan suaminya, berharap jika Galih bisa melakukan hari ini juga.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kamar, Anna mendekatkan jidatnya, menempelkan pada Galih dengan berkata pelan dan penuh kemanjaan." Ingat aku Galih, aku ini istrimu, Anna. "


Galih berusaha melawan ingatan buruknya dengan Ainun, dengan sekuat tenaga. Ia berusaha, walau itu menyakitkan. Anna kini berpindah pada telinga Galih dengan berkata, " Aku mencintaimu, Galih. "


Ingatan terus menerus membuat kepala Galih seakan meledak, saat itulah pelukan Anna terlepas, karena Galih yang menahan sakit memegang kepala yang terus berdenyut dengan kedua tangan.


"Sakit."


"Mas, kamu kenapa lagi. "


"Ahkk, sakit. "


Mencekram erat kepala dengan kedua tangan, Galih tak sadarkan diri berteriak.


"Mas, aku bawakan obat dulu untuk kamu. "


"Anna, tunggu. Obat saya ada di laci. "


"Baiklah, mas. Akan saya ambilkan. "


"Mana obatnya, ya. "


"Anna, sayang. Cepat, saya nggak tahan. Rasanya sakit sekali. "


"Iya, mas. "


Akhirnya Anna menemukan obat yang di suruh Galih, sampai dimana ia melihat poto anak kecil di dalam laci itu. Meraih poto itu, mengigat wajah dalam poto yang ia pengang hingga dimana teriakan kesakitan terdengar kembali.


"Anna, cepat. Ahk sakit. "


Mendengar teriakan Galih lagi, Anna dengan sigap menyimpan poto anak kecil itu pada saku celananya.


Bergegas berlari membawa air minum dan juga obat yang dibutuhkan suaminya.


"Mas, ayo minum. Ini aku bawakan. "


Dengan sigap Galih, langsung meminum obat yang diberikan Anna kepadanya. Hingga perlahan rasa sakit itu hilang, seketika. Saat Anna melihat tulisan dari obat itu, membuat Anna mengerti. Jika obat yang diminum suaminya adalah obat penenang.

__ADS_1


Anna berusaha membantu Galih, untuk berbaring di atas kasur. Melihat kondisinya yang terlihat begitu lemas, membuat ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Kenapa setiap kali, aku mengajak Mas Galih berhubungan badan ia selalu merasa kesakitan di area kepalanya. Ada apa dengan suamiku? "


Menarik napas, Anna berusaha tenang dengan berucap dalam hati.


Kedua mata Galih mulai terlelap, ia seperti merasakan tekanan dan rasa trauma yang berat, "entah apa yang terjadi di masa lalu dengan Mas Galih? Aku semakin curiga. "


Anna tak bisa tinggal diam, ia harus mencari tahu, tanpa disadari suaminya.


Biasanya, malam pengantin itu, adalah momen bahagia bagi kedua pengantin, tapi tidak dengan Anna, tiba tiba saja Galih kesakitan dan mantan istrinya datang memberi kedatangan yang tak menyenangkan untuk Anna.


Kedua mata menatap ke arah jendela, rintik hujan begitu tahu apa yang saat ini dirasakan sang pemilik hati.


Anna perlahan mulai membaringkan badan disisi sebelah Galih, memeluk lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Dengan erat.


*******


Ainun kini berjalan di pinggir jalan, dengan tubuh yang dibasahi air hujan. Hatinya remuk, sakit. Kecewa. Membuat ia tak bisa mengontrol isak tangis yang keluar dari mulutnya.


"Harusnya aku yang berada di rumah Galih sekarang bukan dia."


Melihat jalanan sudah basah dengan air hujan, begitupun dengan tubuh Ainun, "Siapa wanita itu. Kenapa namanya tak asing di telingaku."


Ainun menggerutu kesal di jalanan, ia mencari sebuah taksi tapi tak ada yang berhenti, amarah dan kecewa menjadi satu, Ainun hanya bisa merasakan keterpurukan akan Galih yang sudah menikah dengan sosok wanita bernama Anna.


"Anna, tunggu. Bukanya dia itu wanita yang akan dinikahi Daniel, gara gara dia aku yang menjadi korban pemerkosaan, tapi kenapa Anna tak mengigat wajahku, kenapa dengan dia? Apa dia pura pura tak tahu saja di depanku. Ini Aneh. "


Tid .... Suara kelakson berbunyi, tanda taksi melintas, Ainun yang mengandalkan amarahnya, menggerutu kesal seraya berkata. " Berisik tahu, orang lagi jalan juga. "


Sifatnya kini berubah seketika, tidak seperti dulu polos dan lemah lembut. Setelah pengobatan di Rumah sakit jiwa, Ainun banyak berubah. Emosi sering tak terkendali, kadang mengamuk ketika seseorang menyapa dirinya.


"Eh, mbak, mau pulang nggak." Tanya sang supir dengan begitu ramah.


"Tunggu." Jawab ketus Ainun. Ia mengira jika yang melaksoninya bukan taksi melainkan orang lain yang usil dan sengaja. Saat itulah dengan terburu burunya, Ainun berlari menuju pintu taksi, hingga dimana. Pintu taksi itu malah di tumpangi seseorang, membuat Ainun kesal dan marah.


Siapakah dia?

__ADS_1


__ADS_2