Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 218


__ADS_3

Bagaimana bisa Lulu kuat menerima perlakuan Intan yang begitu kejam terhadap dirinya, "tapi kak .... "


Intan menarik kembali tangan anak kecil itu, untuk segera menaiki angkot. Intan berencana untuk pergi ke kampung halaman sahabatnya, karena itu jalan satu-satunya bersembunyi dari kejaran polisi.


Dan lagi Intan sudah bersiap-siap, akan menjadikan Lulu sebagai ancaman, jika Galih nekat menjebloskan Intan ke dalam penjara.


"Kak, sebenarnya kita mau ke mana? Perasaan nggak nyampe nyampe."


Intan kesal dengan pertanyaan Lulu, sampai ia tega membentak anak kecil yang berada di dekatnya.


"Bisa tidak kamu diam, aku pusing dengar kamu ngoceh setiap waktu."


Lulu memajukan kedua bibirnya, kedua matanya berkaca-kaca, ia berusaha menahan tangisan karena bentakan keluar dari mulut Intan.


Anak berumur tiga tahu itu, ingin segera keluar dari jeratan Intan yang membuat dirinya tersiksa,


Perut terus saja berbunyi, membuat Lulu tak bisa menahan rasa laparnya, ia melihat anak kecil tengah memakan coklat di hadapannya.


Karena rasa lapar yang tak bisa ditahan lagi oleh Lulu, membuat anak kecil itu dengan beraninya merebut coklat pada tangan penumpang yang berada di hadapannya, sontak ibu dari anak itu langsung menegur Intan.


" Mbak, kalau punya anak itu kasih makan coba jangan dibiarin kelaparan dia jadinya ngerebut makanan orang lain." ucapan penumpang memarahi Intan, anak ibu itu terus menangis karena coklat yang ia tengah makan direbut oleh Lulu sampai tak tersisa sedikitpun.


Intan berusaha memperlihatkan keramahan di depan ibu yang duduk di hadapannya, menenangkan anak kecil dengan sebuah permen kecil yang selalu dibawa oleh Intan.


"Aduh, bu. Maaf ya saya tidak tahu kalau adik saya ini merebut makanan dari ibu, jadi sebagai gantinya saya punya permen untuk anak ibu."


Dengan lembutnya Intan membujuk anak yang sudah Lulu buat menangis.


Anak itu, awalnya menolak saat diberikan permen oleh Intan, sampai di mana Intan dengan berusaha membujuk anak itu memberikan sebuah lembar uang.


Melihat lembaran uang yang disodorkan Intan, anak itu tersenyum ceria ia mengambil uang dari tangan Intan.


Ada rasa kesal menyelimuti hati Intan, karena uang yang sengaja ya irit-irit melayang padahal yang tak penting.


wanita itu masih terlihat marah, yang memberhentikan mobil untuk segera keluar dari angkutan umum.

__ADS_1


"Sudahlah saya turun saja dulu di sini."


Intan melihat kekesalan terpancar dari raut wajah wanitan itu, menjadi ibu dari anak yang sudah dibuat Lulu menangis.


Intan menatap sinis ke arah Lulu, Iya Tak sabar ingin sekali memarahi Lulu saat itu juga, membuat Lulu tidak melakukan hal yang memalukan bagi Intan.


Amarah sudah memuncak pada ubun-ubun, mobil yang melaju begitu lambat mengantarkan mereka berdua ke tempat tujuan.


Rasa tak nyaman terasa pada diri Intan, mengepal kedua tangan.


Intan melihat Lulu tampak tenang setelah memakan coklat orang lain.


Anak kecil berumur tiga tahun itu, mulai menyandarkan kepala pada tubuh Intan. Lulu ternyata tertidur begitu pulas, membuat Intan merasa terganggu sekali.


Intan berusaha mendorong-dorong tubuh Lulu, agar tidak menyandar pada tubuhnya.


Beberapa kali, Lulu tetap saja menyandarkan pada tubuh Intan.


"Anak ini, benar-benar. Buat aku kesal."


Lulu tetap saja tertidur, padahal Intan sudah beberapa kali mencubit tangan dan tubuh Lulu.


Intan dengan terpaksa menggendong tubuh Lulu, karena anak Anna tetap saja tertidur.


"Anak ini bikin susah saja."


Perjalanan menuju kampung halaman teman Intan sangatlah jauh, sampai Intan harus menggendong tubuh Lulu sambil berjalan.


"Lulu, bangun. Kamu ini kenapa? Tidur terus."


Lulu tetap tertidur, sampai dimana Intan menemukan sebuah pos ronda. Meletakan Lulu, ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, menelepon sahabatnya. Beberapa kali menelepon, tetap saja panggilan telepon tak diangkat.


"Si Nita ini kemana coba, katanya ini kampung halamanya, aku telepon malah tak diangkat. Mana harus gendong si Lulu lagi."


Intan duduk di pos ronda, tak ada satu orangpun yang berada di sana. Semua nampak sepi.

__ADS_1


"Padahal baru jam tujuh, tapi orang orang di sini sudah tidak terlihat."


Intan merasa tak tenang, melihat di perkampungan sahabatnya begitu sepi. Tak ada satu orang pun beralu larang melewati jalanan, yang Intan rasakan saat ini hanyalah hembusan angin yang begitu terasa dingin.


Intan kembali lagi menelepon sang sahabat, tapi panggilan telepon tetap saja tak ada jawaban.


"Kemana coba si Nita ini."


Perasaan sudah mulai tak tenang, terlebih lagi setiap Intan menelpon seorang teman, tak ada panggilan telepon pun diangkat.


"Gimana ini." Gerutu Intan.


Lulu belum juga bangun dari tadi, anak itu tetap saja tertidur pulas walaupun hembusan angin masuk ke dasar kulitnya.


*******


Di dalam rumah Ana berusaha keras, untuk mencari keberadaan anaknya, walau kondisi Anna belum memungkinkan.


"Sayang, kamu jangan panik begitu. Jangan pikirkan Lulu lagi, kamu harus. Tetap tenang jaga kondisi kamu yang kini sedang hamil muda."


"Iya mas, tetap saja aku memikirkan keadaan anak kita, aku takut jika Intan melakukan hal yang tak terduga pada Lulu, apalagi dia masih anak kecil dan belum mengerti apa-apa."


Galih berusaha mendekat ke arah sang istri yang tengah melamun memikirkan Lulu, "Sudah ya, jangan pikirkan Lulu lagi, dia pasti akan selamat dan tidak akan mendapatkan perlakuan tidak baik dari kakeknya sendiri.


Anna mengganggukan kepala berusaha tetap tenang, agar bayi dalam kandungannya tidak kenapa-napa.


Anna juga harus bisa memikirkan kedepannya, Jika ia tidak memikirkan ke depannya


, tentu saja dari keegoisan Anna yang tak mau menurut.


Anna mulai menyadarkan tubuhnya, Ya berusaha tidak memikirkan hal-hal di luar. yang ia pikirkan saat ini bisa menemukan dulu dan memeluk erat anak ketiganya.


" Nah gitu dong Kamu harus tenang, kamu juga tahu sendiri kan kamu ini tengah mengandung, " saling mencoba menasehati sang istri, agar bisa berhati-hati menjaga calon buah hatinya dalam perut Anna.


Galih tak diam saja ia mencoba menghubungi semua orang yang dekat dengan Intan, setelah menghubungi mereka hati Galih merasa lega, masih banyak orang-orang yang begitu peduli terhadap Galih dan juga Anna untuk mencari keberadaan Lulu.

__ADS_1


Banyak orang yang begitu peduli dengan Galih, sampai mereka menghubungi Galih dan memberi semangat untuk bisa menemukan Lulu yang sudah seharian ini menghilang.


Galih, tak mengerti kenapa Intan begitu jahat terhadap Ainun dan juga Anna, padahal anak itu begitu baik dan selalu menjadi sosok orang yang membuat Galih kagum, tapi sekarang semenjak Galih menikah dengan Anna, Intan berubah drastis menjadi sosok orang yang begitu jahat dan menghancurkan semua kebahagiaan orang lain.


__ADS_2