
Aku mulai mengangkat panggilan telepon, ditengah malam ini, dengan langkah gontai menuju kamar tidur.
Kedua mata menatap pada layar, terlihat nomor baru," Nomor siapa ini?"
Ada rasa ragu di hati ini, hingga jempol tangan menekan layar, mengangkat nomor baru yang meneleponku.
"Halo."
Tidak ada suara, hanya suara druhan napas, seperti sesak." Halo, siapa ini?"
Aku kesal dibuat nomor baru ini, sampai dimana kumatikan panggilan dari orang yang tak jelas.
Tubuh lemas kurebahkan.
Tring, satu pesan datang. Baru saja aku menaruh ponsel di atas meja, kini berbunyi kembali. Membuka layar kunci.
(Bagaimana, menyenangkan bukan?)
Pertanyaan membuat hatiku berderuh kesal, siapa dia? Apa dia Deni!. Tangan mulai mengetik pesan, untuk membalas orang yang mengirim pesan aneh.
(Kamu siapa? Apa kamu yang mengerjaiku tadi?)
Pesan terkirim dan langsung cetang hijau.
(Hahhha.)
Hanya kata kata hahha, apa maksud dia?
Tring .... Satu pesan datang lagi.
(Kenapa tak membalas?)
Jari tangan berusaha tenang, perlahan menekan tombol tombol keyboard di layar ponsel.
(Aku tidak mau meladeni orang yang hanya membuang buang waktuku saja.)
Dreet ....
Ponselku langsung berbunyi, membuat aku mengangkat panggilan pada layar ponsel.
Tawa terdengar nyaring, ia terlihat senang dengan kemarahanku saat ini.
"Aku tahu kamu ini pasti, Deni?"
Menebak dan benar saja, ia malah semakin tertawa terbahak bahak, membuat aku semakin kesal.
"Cepat katakan, jika tidak aku akan mematikkan layar ponsel ini!" Menghardik orang pada sambungan telepon, orang itu langsung berkata." Iya, ini aku Deni."
"Jadi apa kemauan kamu, kenapa kamu terus mengganggu hidupku, bukannya sudah aku jelaskan semua yang menimpaku. Saat kecelakaan itu."
Aku berusaha mengatur napas, agar tidak terlalu terpancing emosi dan menghilangkan banyak tenang.
"Aku belum puas membuat kamu menderita, sebelum kasus kecelakaan itu terungkap, dimana Kak Daniel di kabarkan mati, dan aku tidak tahu dimana sekarang jasadnya. Seakan berita kecelakaan yang menimpa kakakku itu di tutup begitu saja."
__ADS_1
Deni mulai mematikkan panggilan telepon yang membuat aku penasaran dengan ucapanya.
(Aku berharap kamu menemukan jasad kakaku, jika tidak aku akan membuat kamu mati sia sia.)
Aku benar benar bingung dengan perkataan Deni, apa mungkin pelaku pembunuhan itu begitu hebat, hingga biasa menutup kejahatanya.
Bagaimana cara menemukan jasad Daniel, sedangkan ingatanku belum kembali, begitupun. Pelaku tabrak lari itu, kejadian yang sudah lama.
Dreet ....
Ponselku kini berbunyi kembali, membuat aku melihat layar ponsel, siapa yang menelepon?
Saatku lihat ternyata Pak Galih, memang tadi aku sempat meminta bantuan padanya, " Halo."
"Halo, An."
Aku mendengar suara Pak Galih, menguap seperti ia baru bangun tidur.
"Iya. Pak?"
"Kamu ada apa meneleponku. Apa ada yang terjadi pada kamu, An atau anak anak!"
Terdengar suara kekuatiran pada Pak Galih, membuat aku brusaha menutup kejadian dan masalah yang menimpaku tadi.
"Tidak apa apa kok, Pak. Saya hanya ingin bertanya, apa besok saya mulai membuka usaha kita?"
Mungkin obrolanku sedikit tak yambung, membuat aku berbicara ke arah yang tak seharusnya diobrolkan di tengah malam begini. Apa nanti pikiran Pak Galih.
"Untuk besok, bisa di mulai An, saya akan menjemput kamu."
"Iya, jadi kamu istirahat dulu ya, sekarang sudah malah. Biar badan kamu besok fres dan bersemangat!"
Apa yang aku pikirkan benar kan, pastinya Pak Galih akan berkata sedemikian.
"Tentu pak, ya sudah saya tutup dulu panggilannya."
"Iya."
Pak Galih sepertinya kelelahan sekali, karna mendengar suaranya yang sayu, membuat aku merasa tak enak hati.
@@@@@
Jam sudah menunjukkan pukul, 02:00 dini hari, tapi aku belum juga tidur. Kedua mataku tetap saja tak bisa di tutup, seakan semua terasa berat.
Bulak Balik ke sana ke mari, hingga akhinya. Aku ingat akan ucapan Pak Galih yang menyuruhku untuk mencari tahu lewat diary, Supaya ingatanku kembali secara perlahan.
Aku mulai berjalan, menginjak teras rumah. Mulai mecari keberadaan diary yang mungkin bisa menunjukkan aku dalam ingatan dulu.
Semua tertata rapi, hingga dimana aku melihat dus sedang yang dimana dus itu berada di kolong meja riasku.
"Dus apa ini?"
Menarik dus itu. " Apa isi dari dus ini, ya?"
__ADS_1
Aku benar benar penasarah sekali, hingga dimana aku perlahan membuka dus berukuran sedang ini.
Saat di buka, terlihat begitu banyak buku buku Novel yang mungkin di masa lalu aku sering membaca buku ini.
Perlahan lahan." Ini buku diaryku, akhirnya ketemu juga."
Aku perlahan membuka buku diary yang aku temukan, dimana dalam membaca buku itu, banyak cerita yang aku tulis tentang Daniel.
Tidak ada bukti yang membuat aku mengigat semuanya, sampai satu poto jatuh.
"Ini potoku dan Daniel? Terus ini siapa?"
Apa aku harus mecari tahu tentang orang yang berada di poto ini, Sepertinya, aku harus bertanya besok pada Tasya.
Siapa tahu dari sini, aku menemukan titik terang akan kejadian kecelakaan itu.
Mudah mudahan saja semua cepat terselesaikan, agar hatiku tak bimbang dan juga Deni tak terus menerorku.
Beranjak berdiri, aku mulai mengambil poto dan menaruh pada tas. Supaya besok tak lupa menanyakan pada Tasya.
@@@@@
Pagi hari.
Tok .... tok.
Aku berusaha bangun, tapi kedua mataku begitu lengket sampai dimana Kak Indah masuk ke dalam kamar.
Membangunkanku dengan megoyang goyangkan bahu." Anna. Anna. Bangun."
Mendengar suara kak Indah yang teriak teriak, membuat aku merasa enggan untuk membuka kedua mata.
"Ini anak kenapa? Susahnya dibangunin." Gerutu Kak Indah. Membuat aku hanya bisa terbaring dengan kedua mata yang terasa lengket.
"Anna, cepat bangun. Ada Pak Galih menunggu kamu dari tadi."
Aku kaget saat Kak Indah mengatakan nama Pak Galih, membuat aku terduduk dan berkata." Kenapa pagi sekali Pak Galih datang ke sini, sih Kak. Aku masih ngantuk sekali."
Kak Indah menjiwir telinga kananku dan berteriak." Anna, Ini sudah jam 9 pagi. Kamu dari tadi kakak bangunin tetap saja tidur. Untung hari minggu."
Terkejut dan terburu buru bangkit, untuk pergi ke kamar mandi. Karna kejailan kakaku, aku tersandung hingga bibirku mencium lantai.
Kak Indah tertawa kegirangan dengan apa yang terjadi padaku.
"Ahkk, sakit."
"Anna, makanya kalau jalan lihat lihat."
Menyebalkan sekali, Kak Indah langsung pergi begitu saja, membuat aku memukul lantai.
"Aduh sakit."
Aku berusaha bangkit kembali, untuk bergegas mandi. Setelah selesai, perlahan aku mulai memoles wajahku dengan secantik mungkin.
__ADS_1
Semenjak tinggal dengan Kak Indah begitu banyak perubahan pada wajahku, sekarang aku terlihat segar.
Sudah sebulan ini, bercerai dengan Mas Raka rasanya hidupku tenang dan tak ada beban pikiran. Walau masih harus kuselidiki siapa sebenarnya Mantan Suamiku Ini?"