
Wanita dengan bulu mata lentik, kini tengah melamun memikirkan pekataan dari mantan suami. Dimana ia melihat nomor plat yang dikatakan Raka, apa dia harus mencari nomor motor berpalt itu? Atau hanya sampai di sini saja setelah Raka di dalam penjara?
Tangan kekar tiba tiba memegang bahu Anna, wanita itu terkejut tentu saja menatap ke arah belakang. " Adam. Ternyata itu kamu? "
Adam tersenyum kecil di saat Anna kaget," Kamu ini kenapa? Apa yang kamu pikirkan sekarang? "
Anna memberikan nomor plat motor yang diberikan Raka, nomor itu membuat Adam terdiam sejenak. " Maksud. "
" Mas Raka memberikan nomor itu padaku, katanya masih ada sangkut paut tentang kecelakaan itu dengan nomor motor ini. "
Menjelasakan dengan detail, membuat Adam mengereyitkan dahi. Sorot matanya terlihat bingung.
"Aku kurang mengerti, Anna? " Pertanyaan Adam tentu saja membuat Lina menarik napas beratnya, ia kini membahas masalah saat di rumah mantan mertuanya.
"Kamu masih ingatkan saat Raka menjelaskan tentang kejadian kecelakaan di masa lalu. Dia sempat membahas motor."
Saat itulah ingatan Adam mulai tercerna, ia ingat dan berkata. " Ya. Aku ingat, Anna. "
"Kalau kamu ingat, apa kita harus mencari tahu soal itu? "
"Sepertinya itu hanya akan membuang buang waktu, sebaiknya kita pikirkan dulu Ajeng. Dimana ia kabur, dan tak mau mengakui kesalahanya. "
"Apa yang dikatakan kamu memang benar, Adam. "
Anna kini menyimpan plat nomor itu di ponselnya, tak mempedulikan siapa pemilik plat nomor itu. Ia kini hanya memikirkan bagaimana cara menjebloskan Ajeng yang kabur dan belum di temukan.
Sosok kedua orang tua Ajeng kini menghampiri Anna, dimana wanita itu tengah mengobrol dengan serius bersama Adam.
"Anna? "
Panggilan dari lelaki tua membuat Anna menatap ke arahnya, bibirnya tersenyum ramah, ia tak mau menapilkan sisi kesalnya pada kedua orang tua Ajeng.
"Eh, ibu dan bapak. Ada apa? "
__ADS_1
Pertanyaan Anna, membuat kedua pasangan yang sudah menua itu menampilkan raut wajah sedihnya dengan berkata, " Anna, apa kamu bisa mencabut tuntutan Ajeng agar dia tidak di jebloskan ke dalam penjara. "
Mulut memang mudah berucap, tapi hati apa bisa menerima dengan apa yang sudah diperbuat mereka di masa lalu kepada Anna.
Anna masih dengan wajah datarnya, ia sesekali menahan rasa kesal. " Anna, kami tahu kesalahan kami begitu fatal. Apa bisa kamu mengabulkan keinginan kami berdua. Kami tidak mau melihat anak semata wayang kami menderita di dalam penjara, Anna. Apa kamu tega sesama wanita berbuat seperti itu. "
Waw, mulut wanita tua yang mejadi ibu Ajeng itu begitu pintar bersilat lidah, Anna yang sudah malas melayani wanita tua dihadapanya kini membalas. " Hem, ibu tadi bilang sesama wanita? "
Anna bertanya dengan nada tegas. Kedua orang tua Ajeng terlihat menundukkan pandangan apalagi dengan Pak Aryanto lelaki tua yang kini jabatanya sudah di cabut. Malangnya nasib Pak Aryanto yang sekarang.
Anna menatap ke arah mereka berdua, " bagaimana jika ibu ada di posisi saya. Apa masih bisa kalian bilang sesama wanita begitu tega. Kemarin bapak kemana saja saat saya menderita, tidak ada kan? Kalian hanya meminta di saat kalian sudah menyesal! Maaf pak, bu. Saya tidak banyak waktu. "
Anna membalikkan badan membelakangi mereka berdua, tak peduli permintaan mereka. "Anna."
Panggilan itu kini membuat Anna membalikkan badan dengan berkata. " kenapa lagi pak, kalau bapak terus memohon. Saya akan tetap pada pendirian saya sekarang. Tolonglah sebagai orang tua simpan harga diri bapak. "
Deg ....
Perkataan Anna membuat Pak Aryanto tentu saja malu, para sahabat Pak Aryanto membicarakannya di belakang.
"Tapi. Pak? "
"Sudahlah bu, bapak malu! "
Sang istri terus memaksa dengan harapan bisa membuat hati Anna luluh, wanita tua itu berlari mengejar Anna. Hingga ia rela bersujud di depan para sahabat sang suami.
"Anna, saya mohon. Tolong kabulkan permintaan saya saat ini. "
Anna merasa kesal dengan apa yang dikatakan ibunda Ajeng berulang kali, membuat ia berkata. " Sudah saya bilang, tidak ya tidak. Ibu ngeyel banget. "
Air mata kini turun dari kedua mata wanita tua itu, " Saya mohon Anna. "
Adam berusaha menghampiri ibunda Ajeng, ia mengangkat tubuh wanita tua itu agar berdiri. Anna melipatkan kedua tangan menatap ke arah wanita yang menjadi ibu Ajeng itu.
__ADS_1
"Saya sudah katakan, bu. Jangan jadikan harga diri ibu sebagai alasan agar Ajeng bebas dengan tuntutan saya, ibu ingat ya. Hukuman itu harus berlaku bagaimana pun itu terjadi. Dan sebagai orang tua ibu tentulah harus menerima. Anggap saja semua untuk masa depan Ajeng agar berubah tak melakukan kesalahan kedua kalinya. "
"Anna, ibu tahu ini hal yang tak seharusnya ibu lakukan. Tapi demi seorang anak, apapun ibu lakukan. "
Itulah didikan orang tua yang salah, dimana membela anaknya di saat anaknya melakukan kesalahan, bukanya menegur dan memberi tahu dengan baik.
"Maaf, bu. Saya masih banyak kerjaan. "
Anna kini berjalan untuk segera menaiki mobil, ia malas mendengar kedua orang tua Ajeng yang terus mengemis meminta agar gugatan Ajeng di cabut.
Saag Anna menaiki mobil ia melihat wanita tua itu menangis terisak-isak dari kaca spion mobilnya yang Anna lihat. Ada rasa tak tega melihat tangisan yang keluar dari kedua mata wanita tua yang menjadi Ibu Ajeng.
Namun harus bagaimana lagi, ini adalah suatu pelajaran untuk kedua orang tua Ajeng agar mereka sadar akan kesalahan yang sudah dibuat oleh mereka berdua. kesalahan yang sangat fatal dan merusak kehidupan orang lain.
*******
Setelah perginya mobil Anna, yang kini sudah tak nampak lagi di depan mata. Pak Aryanto mendekat ke arah sang istri dengan tatapan sayunya.
" Sudah, bu. Sebaiknya kita pulang dari sini, percuma meminta pada Anna. Dia sudah pergi jauh."
"Tapi pak, kalau Ajeng sudah ketemu. Ibu enggak rela dia masuk ke dalam penjara. Bagaimana masa depanya nanti. "
Pak Aryanto terlihat bingung, ia juga memikirkan apa yang dikatakan sang istri. "Sebaiknya ibu berdoa saja. Mungkin ini balasan untuk keluarga kita, karna sudah membuat Anna menderita. "
Pak Aryanto berusaha membujuk sang istri agar pergi dari lingkungan polisi, ia tak mau jika hidupnya di perlihatkan banyak orang. Apalagi di sana masih banyak sahabat sahabatnya.
"Ayo bu kita pulang. " Merangkul bahu sang istri, kini Pak Aryanto pulang dengan menaiki angkot.
Mobil kini sudah habis di sita sebagai barang bukti dan menebus denda akan kesalahanya.
"Pak, nasib kita jadi seperti ini."
"Yang sabar ya, bu. Bapak nanti akan usahain cari pinjaman. Supaya kita mempunyai kendaraan lagi untuk bisa berpergian. "
__ADS_1
Angkot yang membawa Pak Aryanto dan sang istri tiba tiba berhenti, ramai terdengar dari orang orang yang keluar dari dalam mobil dan memadati jalanan. Ada apa?