Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 193 Menelepon.


__ADS_3

Anna dan Galih saling memandang satu sama lain, kedua pipi mereka memerah menahan malu. Saat Radit dan Lulu memanganggap semua hanya permainan seperti anak anak.


Anna mencoba menjelaskan kepada Radit, " Mamah sama papah cuman habis mandi saja. Nanti kalau Radit sama Lulu mau berenang, minggu depan kita liburan ke kolam renang gimana."


Mendengar hal itu, tentu saja mereka bersorak kegirangan, merasa senang dengan janji sang mamah dan papah.


"Katanya Ajeng datang ke rumah sakit, ya?" tanya Indah pada sang adik, tiba tiba saja Galih tersedak. Setelah mendengar pertanyaan dari Indah.


"Iya, kak. Dia datang memohon kepada Anna, agar bisa membebaskan Raka, tapi Anna menolak dengan tegas!" jawab Anna, Galih masih meminum air dalam gelas, menatap kearah istrinya.


"Kakak, tak habis pikir dengan si Raka itu. Kenapa dia malah mau memanfaatkan Ajeng, meminta kepada kamu agar bebas dari dalam penjara," ucap Indah, terlihat rasa kesal menyelimuti hati sang kakak.


"Sudahlah kak, jangan memikirkan mereka lagi, toh Anna sudah berusaha menolak dan tak mau berurusan lagi dengan mereka berdua," balas Anna, menyuapkan makanan pada sendok yang ia pegang.


"Iya juga sih, tapi kamu harus berhati hati, Ajeng itu orangnya keras kepala, dia bisa saja menekan kamu dan melakukan hal yang tak terduga, kakak sangat menghuatirkan semua itu," keluh sang kakak memperlihatkan raut wajah kuatirnya.


Anna memegang punggung tangan sang kakak, " terima kasih sudah menghuatirkan, Anna."


Senyuman terlukis dari raut wajah sang kakak." kakak sayang sama kamu, Anna."


"Bu Sari bagaimana, apa dia sudah meminta maaf padamu setelah apa yang ia lakukan. Kakak heran dengan wanita tua itu. Dia selalu mementingkan anaknya yang bersalah, " gerutu sang kakak pada adiknya.


"Sudah ya, kakak. Jangan marah marah terus, jangan terus memikirkan Anna, biarkan saja mereka mau melakukan hal jahatpun. Oh ya, Bu Sari sudah pulang ke kampung sepertinya karena bapak, yang menyuruh Ibu pulang kampung." jelas Anna. Berusaha menenangkan suasana, bagi dia tidak baik memperpanjang masalah, toh Anna sudah tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Raka.


"Syukurlah kalau begitu, kakak benar benar kuatir sama kamu Anna," ucap Indah.


Anna kini melanjutkan suapan yang sempat tertunda, dengan lahapnya memakan dan merasakan betapa nikmatnya kebersamaan bersama keluarga.


Setelah sekian lama menderita.


Ponsel Indah kini berdering, suara panggilan telepon dari seseorang, Anna melihat ada raut wajah cemas dari sang kakak.


Menandakan jika ada sesuatu tak beres, bukan Anna saja kena masalah, tapi Indah.


Wanita bermata sipit, kini berjalan menjauhi meja makan. Ia begitu serius mengangkat panggilan telepon.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya?


Anna berjalan mendekat, ia penasaran dan ingin tahu. Masalah yang kini dihadapi sang kakak.


"Ada apa ya, kok Kak Indah terlihat ketakutan seperti itu, tidak biasanya."


*******


"Halo." ucap Indah mengangkat panggilan telepon dari nomor baru yang baru saja ia lihat.


Terdengar suara tak asing, membuat Indah mengenal dan sedikit gugup. Begitu pun rasa takut, karena pastinya orang itu akan memarahi Indah.


"Halo, bu. Ada apa?" tanya Indah, berucap dengan sopan.


"Ternyata kamu mengenal juga suara saya!" jawab sosok wanita tua bernama Dela. Ia terdengar begitu cetus saat berbicara dan memanggil nama Indah.


Padahal saat di pemakaman, Bu Dela sudah tak menerima lagi Indah, tapi beberapa hari ini, wanita tua itu malah menelepon dan berkata yang kurang menyenangkan.


Kenapa setelah kepergian Danu, Bu Dela malah tak terima dan membenci Indah, jelas kemarin dia sudah rela.


"Halo, bu. Ada apa?"


Indah mulai bertanya kembali, ia mendengar Bu Dela mengeluarkan isak tangis.


"Bu, apa ada sesuatu yang membuat Bu Dela kesal dengan Indah?" tanya kembali Indah, walau dirinya sudah mendapatkan perlakuan tidak baik. Tapi Indah selalu bersikap baik dan tak pernah ingin memusuhi Bu Dela.


Bagi dirinya Bu Dela tetap mertua yang baik dan selalu membuat dirinya nyaman. Walau sekarang jauh berbeda.


"Mm, ibu ada di depan rumah kamu. Apa bisa kamu keluar dari dalam rumah," ucap Bu Dela, sedikit terdengar isak tangis dari sambungan telepon.


"Halo, ibu menangis, Indah sekarang tidak ada di rumah. Indah ada di rumah Anna," balas Indah. Merasa tak enak hati pada ibunda Danu.


"Ya sudah ibu mau pulang sekarang. Jika kamu tidak ada di rumah, " ucap Bu Dela kepada Indah.


Ada nada bicara kecewa keluar dari mulut wanita tua itu.

__ADS_1


Tut ....


Panggilan teleponpun di matikan sebelah pihak, "Halo, bu. Bu Dela."


Anna yang mendengar obrolan dan masalah kakaknya, kini mendekat.


"Kak, kenapa?"


Indah mengusap pelan air matanya, tak ingin memperlihatkan pada Anna sang adik.


"Anna, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Indah terlihat kaget, melihat sang adik bertanya padanya.


"Anna dari tadi mendengar percakapan kakak, Anna kuatir dengan ke adaan kakak yang sekarang. Apa kakak baik baik saja dengan Bu Dela, seperti kalian masih tak akur."


Indah yang terlihat tertekan langsung memeluk Anna dengan begitu erat, ia meluapkan kesedihan kepada sang adik.


"Kak Indah yang tenang, jangan terlalu merasa bersalah, semua sudah takdir. Jika Bu Dela berbuat jahat. Kakak jauhinan saja dia."


"Tapi."


"Sudah kak, jangan terlalu lemah. Kakak itu terlalu menurut pada Bu Dela, sampai kakak sendiri tersiksa, mereka sudah bukan siapa siapa lagi kakak. Anna sudah bilang sama kakak, sekarang kakak fokus dengan kebahagian kakak sendiri."


Indah melepaskan pelukannya dari sang adik, ia berusaha tenang, melupakan rasa sedih akan perkataan Bu Dela.


Anna mulai menuntun tangan sang kakak untuk makan kembali, semua keluarga tengah menunggu kedatangan Anna dan Indah, yang tak kunjung datang.


"Kalian lama sekali, ngapain aja?" tanya Deni.


Indah menatap ke arah adiknya, di mana wanita berbulu mata lentik dengan bibir tipisnya menempelkan jari tangan, memberitahu sang kakak agar tidak berkata jujur kepada suaminya.


Anna tidak mau jika rumah tangga kakaknya akan hancur gara-gara pihak ketiga, yang tak lain ialah Bu Dela.


"Loh, kok. Diem ada apa?" tanya Deni terlihat rasa penasaran dalam diri Deni kepada sang istri.


Indah tetap saja diam, ia malu mengungkapkan semua yang terjadi. Apalagi dengan mengatakan jika Bu Dela menelepon, pastinya Deni akan marah dan menghapus nomor wanita tua yang menjadi ibunda Almarhum Danu, mantan suaminya.

__ADS_1


Deni memegang tangan sang istri, menyuruh wanitanya untuk duduk, " ayo duduk. Kamu terlihat tegang seperti itu." Deni mulai menyodorkan air dalam gelas kepada Indah.


__ADS_2