
Aku mulai berjalan menyesuaikan diri, dengan perlahan. Melihat Pak Galih menatapku tanpa berkedip, karna kebutulan sekali, Kak Indah membelikan baju sedikit menarik perhatian semua lelaki yang memandangku, membuat aku yang selalu berpakaian sederhana merasa malu.
Kak Indah mendekat dan berkata," kenapa raut wajah di tekuk."
Menarik napas, dan membuangnya secara kasar," enggak nyaman bajunya, enggak biasa."
Kak Indah menggelengkan kepala dan berkata," pakai aja dulu, nanti juga lama lama biasa."
Setelah perkataan Kak Indah seperti itu, maka dari sini aku hanya menurut dan berjalan lagi ke arah pak Galih. Perlahan tangan ini, mulai melambai lambaikan ke arah wajahnya.
"Pak Galih kenapa?"
Lelaki itu mengusap kasar wajahnya dan berkata." aku enggak kenapa kenapa." Hingga kata kata kecil, terdengar dari telinga kiriku," cantik."
"Kenapa pak?" Bertanya sekali lagi, membuat kedua pipi lelaki berkumis tipis dengan hidung macungnya, memerah, entah karna malu melihat penampilanku yang tak biasa.
Baru saja kami mulai berjalan ke luar rumah, memulai bisnis. Suara ketukan pintu terdengar, dimana suara itu semakin keras dan membuat Kak Indah terlihat kesal.
Saat membuka pintu rumah.
Sosok seorang wanita datang melemparkan sebuah kertas putih dengan tulisan yang membuat aku penasaran.
Terlihat dadanya naik turun, seperti menahan kekesalan, ia menatap tajam ke arah kakakku, setelah melemparkan kertas yang begitu banyak dan berhaburan ke atas lantai.
"Kamu baca surat itu." Perintah Siren pada Kak Indah, dimana kakakku mulai berjongkok untuk mengambil lembar kertas di atas lantai.
Hanya saja sebagai seorang adik aku langsung menahan, Kak Indah agar tidak mengambil kertas itu.
" Jangan kak."
Kak Indah menurut, ia tak jadi mengambil kertas putih yang di hamburkan Siren.
"Ayo ambil, kenapa kamu malah diam saja." Pekik Siren dengan menyuruh dan menekan kakakku.
Aku mendekat ke arah Siren dan berkata," Heh, pelakor muda kelas rendahan. Tolong deh jangan suruh kakakku wanita terhormat ini, untuk mengambil sisa sisa sampah yang kamu buang sendiri. Rasanya tak etis."
Siren sepertinya kesal dengan perkataanku, ia kini menunjuk wajahku dengan berkata," tak usah kamu ikut campur urusanku. Ingat kamu tidak ada urusanya denganku dan si Indah ini."
__ADS_1
Karna perkataannya yang tak sopan itu. Akhirnya aku mulai menarik jari tangan yang berani menunjuk wajahku ini.
Kupelintirkan, hingga dimana ia kesakitan. " Gimana sakit, memang ya. Tangan ini harus di beri perlajaran biar tidak asal tunjuk orang."
"Lepaskan tanganku." Siren meringis kesakitan, membuat aku semakin kejam menyiksa telunjuk tangan ya ini.
"Lepaskan, ahk. Sakit." Teriak Siren, aku melihat gerakan sepatunya mulai menginjak kakiku. Sampai dimana dengan gesitnya, aku mulai menginjak keras kaki Siren.
"Waw, kurang cepat." Ledekku pada wanita muda berdarah pelakor seperti Siren.
"Keterlaluan kamu, kurang ajar. " Kata kata kasar terus terlontar dari mulut kecilnya.
"Anna, sudah hentikan." Teriak kak Indah. Membuat aku langsung berhenti dan mendorong tubuh Siren.
Akan tetapi Siren kini tertahan tubuhnya oleh lelaki yang diketahui bahwa lelaki itu kekasihnya.
"Kurang ajar."
Aku tertawa terbahak bahak, melihat wanita itu kemungkinan masih merasakan rasa sakit akibat aksiku.
"Heh, Siren. Jika ingin bertamu datanglah dengan cara baik baik, agar kamu itu di hargai. Bukan datang malah melemparkan kertas kewajah kakaku dengan marah marah tak jelas. Hingga mengotori rumah ini dengan kelakuan sampahmu itu."
"Aku hanya ingin memberikan ini padamu."
Perlahan Kak Indah membaca sebuah lembar kertas, yang disodorkan Siren. Membuat kedua matanya seperti tak bisa aku mengerti.
Kak Indah terlihat santai dengan surat yang diberiKan Siren. Sesekalo ia tersenyum kecil dan berkata," kenapa kamu malah memberikan surta cerai ini kepadsku, apa maksud kami ini. Kamu ingin aku menyesal atau senang gitu."
"Gara gara kamu ini, Mas Danu akan menceraikanku."
Kak Indah sepertinya siap dengan perkataan Siren, ia mulai melipatkan kedua tanganya dan berkata." Heh itu resiko kamu. Kenapa kamu malah menipu Mas Danu."
"Menipu, kata siapa. Kamu yang sudah memiftanahku."
Aku tak menyangka dengan perkataan Siren yang membalikan sebuah fakta kebernarnya yang memang di tunjukan pada Mas Danu.
"Heh, bocah tengik. Seharusnya kamu ini sadar diri. atau ngaca dirilah, kamu yang mengatakan kebenaranya. Ya jadinya kami terpaksa merekam untuk bukti nyata kepada Mas Danu."
__ADS_1
Siren sepertinya tak terima dengan perkataanku hingga dimana tiba tiba. Siren memegang perutnya, ia terlihat meringis kesakitan.
"Ahk, perutku."
Kak Indah terlihat panik, hingga dimana lelaki itu mulai membantu Siren.
"Kamu kenapa, Siren."
Aku berusaha tetap tenang dan berkata," Hah, pasti itu akal akalan si Siren saja."
Siren kini semakin meringis kesakitan, hingga dimana Pak Galih berucap," sepertinya dia benaran. Anna."
"Ahk, sakit."
Kak Indah yang tak tega, kini berusaha menolong Siren. Dimana Pak Galih membopong badan wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa tak dibiarkan mati saja." Gerutuku.
Kak Indah menarik tanganku dan berkata," Anna, kamu cepat pergi ke rumah sakit."
"Aku malas kak, biarkan saja. Pak Galih yang membawa dia." balasku. Pada Kak Indah.
Kedua tangan wanita berambut pendek itu, memegang bahuku, ia berkata," kamu ini bagaimana sih Anna, jelas jelas Si Siren itu harus di bawa ke rumah sakit, kalau kita biarkan dia kesakita. Yang ada kita akan berurusana dengan polisi, kamu paham adikku."
"Iya, iya."
Karna permintaan sang kakak, pada akhirnya aku ikut masuk le dalam mobil, untuk mengantarkan Siren ke rumah sakit."
Di perjalanan menuju rumah sakit, Siren terus menangis meringis kesakitan, aku hanya bisa menatapnya dari arah cermin. Hingga berkata," sudahlah enggak usah lebai. Tadi aja datang pakai acara marah marah sekarang sok sokan lebai pakai acara kesakitan. Drama sampah."
Pak Galih menjawab perkataanku," Anna, kamu tak boleh berkata seperti itu. Dia itu tengah kesakitan, kamu harus tenangkan emosi kamu."
"Pak Galih ini, bagaimana sih. Pake acara dukung dia segala, sudah tahukan. Pelakor muda ini kena hukum karmanya."
Aku tak suka dengan Pak Galih yang membela Siren, bagaimana pun Siren sekarang dia tetap tak butuh di tolong. Karna ini hukuman untuk orang yang berani menghancurkan hati sesama wanita.
"Hah, Anna. Aku ini tidak sedang berdrama, aku ini kesakitan, kenapa kamu malah menuduhku yang tidak tidak." Teriak Siren kepadaku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum sinis sembari menatap wajah yang menahan rasa sakit.
"Iya iya bawel. Aku mengerti kamu, kamu tenang saja, aku masih punya hati nurani begitupun dengan kakaku. Jadi aku mamaafkan kamu hari ini. Dan menolong nyawamu. Oke." Ucapku, tak ingin lagi berdebat denganya. Kini kunyalakan lagu dari mobil Pak Galih. Hingga rauangan kesakitanpun tak terdengar lagi. Aku asik mendengar suara musik.