
Anna berusaha bangkit dari tempat tidurnya, melihat siapa yang datang. Dengan berjalan tergopoh gopoh. Wanita dengan rambut yang tergulung itu kini membuka pintu kamar.
" Ya, ada apa?" tanya Anna, kepada seorang pelayan rumah yang baru saja mengetuk pintu. Pelayan rumah terlihat ketakutan, saat menjawab pertanyaan Anna.
"Maaf, Nyonya. Di luar ada yang mencari tuan, dia memaksa saya! " jawab pelayan itu dengan tangan yang bergetar.
Anna menatap kearah Galih yang terlihat merenung, " biar saya yang temui dia. "
Pelayan itu malah membalas dengan nada mencegah. " Mm, maaf sebelumnya. Tamu itu ingin bertemu langsung dengan tuan, bukan Nyonya."
Anna mengangkat kedua alisnya, ini sungguh aneh bagi dirinya. Kenapa bisa seorang tamu besikukuh ingin bertemu dengan Galih. " Saya juga bingung. Soalnya tuan lagi nggak enak badan. Jadi biar saya yang menggantikan. "
Beranjak pergi, sang pelayan menahan kembali Anna, seperti ada sesuatu yang disembunyikan pelayan dihadapan Anna. " Loh, kenapa? Saya ingin memberi pengertian kepada tamu itu, jadi kenapa kamu malah melarang saya. Kamu ini aneh, membuat saya jadi penasaran. "
Sang pelayan terus mengikuti langkah sang Nyonya, sesekali ia menahan tubuh wanita yang sekarang menjadi majikanya ini. " Nyonya. "
Galih yang merenung, kini mendengar teriakan pelayannya, seakan memberi kode sesuatu yang ia mengerti.
"Anna." Berlari dengan menyusul Anna, Galih berusaha mencegah istrinya.
"Anna." Teriak Galih. Wanita itu membalikkan badan kearah sumber suara Galih, " Mas. "
"Anna, maaf tadi saya melamun. Kamu mau ke mana? "
Pelayan yang sudah lama bekerja dengan Galih memberi kode mata, di bawah ada tamu yang tak seharusnya Anna tahu.
"Oh ya, tadi pelayan kamu bilang ada tamu yang mau ketemu sama kamu. Kebetulan tamu itu tetep mau ketemu sama kamu, karena aku penasaran jadi biar aku saja yang menghadapi tamu itu, memberi pengertian kalau kamu sedang tak enak badan. " Jawaban Anna, membuat Galih panik. Saat itulah sang suami merangkul bahu istrinya dengan berkata. " sebaiknya, kamu cepat mandi. Biar saya saja yang menemui tamu itu, keadaan saya sekarang baik baik saja. Kok. "
Anna mengganggukan kepala dan barkata, " baiklah, kalau begitu. Mas. Kebetulan sekali aku udah nggak nyaman, pengen cepat mandi dan membersihkan badan. "
__ADS_1
Pada akhirnya Anna mengalah dengan apa yang dikatakan Galih, ia tak merasa curiga lagi karena Galih sudah memberikan pengertian.
******
Kepergian langkah Anna yang sudah menjauh, membuat Galih bertanya pada sang pelayan. " Siapa? "
Pelayan itu membisikan sesuatu yang tak terduga, bagaimana bisa ia datang kembali, setelah kebahagian tengah dirasakan Galih.
"Maaf tuan, untung saja tuan cepat menghampiri Nyonya Anna, jika tidak pasti akan ada keributan. "
Mengusap kasar wajah, semua semakin ruyam." Untung saja aku cepat sadar dari lamunanku karena tak bisa menggauli istriku sendiri saat ini. " Gerutu hati Galih.
"Ya sudah, kamu jaga istriku agar tidak turun kebawah menemui saya, ya. "
"Baik, tuan. "
Galih mulai berjalan menuruni anak tangga, ia melihat sosok itu telah kembali, sosok cantik jelita dengan kerudung yang selalu menutupi keindahan rambutnya.
"Ainun, kamu kembali. " Galih masih tak menyangka dengan apa yang ia lihat di depan matanya sendiri, Ainun kembali menampakan diri dengan mengangkatkan kedua ujung bibir dan menampilkan senyuman didepan Galih.
Galih mencoba menolak senyuman wanita dihadapanya, tentulah membuat Ainun merasa heran. "Kenapa kamu tidak menyapaku dengan baik. Aku kembali karena aku sudah memaafkanmu dan ingin kembali bersamamu. "
Menarik napas rasanya sesak, setelah mendengar perkataan Ainun kepada Galih. " kenapa kamu lama sekali pergi, sampai meninggalkan anak kita yang sudah berumur tujuh belas tahun."
Kedua mata lelaki berbadan tegap dengan hidung mancungnya berkaca kaca, memperlihatkan rasa kecewa di depan sang wanita yang tiba tiba datang dan mengucapkan kata rindu.
"Aku meninggalkan kamu, karena dulu belum bisa menerima kamu Galih. Tapi sekarang aku kembali, dan ingin menerima kamu lagi begitupun dengan anak kita." Terlihat Ainun, mencari sosok anak muda yang diperkirakan sudah berumur tujuh belas tahun di rumah Galih. Anak itu sengaja diberi nama Alex.
"Alex, nak. Dimana kamu, ini ibu. "
__ADS_1
Ainun berteriak memanggil nama anaknya, ingin melihat seperti apa Alex yang sekarang.
"Dia sudah aku buang. "
Perkataan Galih, tentu saja membuat Ainun menatap tajam kearahnya, ia tak percaya dengan apa yang dilakukan Galih. Berjalan dengan sepontan memegang kerah baju lelaki yang sudah membuat hidupnya menderita dan menjadi gila.
"Jangan gila kamu Galih, mana mungkin seorang ayah tega membuang anaknya. " Cecar Ainun, semakin erat memegang kerah baju Galih. Membuat ia sedikit sulit bernapas.
"Lepakan, Ainun. "
Wanita yang mecekram kerah baju Galih semakin gila, mengenggam erat membuat Galih dengan terpaksa mendorong tubuh wanita berhijab itu, " cukup. Ainun kamu hampir saja membunuhku. "
"Sekarang dimana Alex. "
"Ainun, sudah aku bilang. Aku terpaksa membuang dia kepada orang yang bisa memberinya kasih sayang, sedangkan aku tak mungkin mengurus dia di saat kamu pergi, hatiku rapuh. Sakit Ainun, aku tak mau nanti saat dia tumbuh besar mencari sosok ibu yang tega meninggalkannya begitu saja. Kurang tanggung jawab apa aku ini Ainun, mengurus kebutuhan kamu dan juga menikahi kamu. Tapi kenapa kamu malah pergi, hanya karena kesal dan marah akibat perlakuan hilapku dengan Daniel di masa lalu?"
Ainun menundukkan wajah, ia tak sanggup menatap Galih. Karena dirinya mengaku salah, karena tega meninggalkan Galih yang bertanggung jawab. Karena kemarahanya, anak lelaki yang diberi nama Alex terpaksa dibuang oleh Galih.
"Kenapa kamu diam saja, Ainun? Aku tahu pasti kamu marah karena aku tega membuang Alex. Coba saja dulu kamu tidak pergi dari kehidupanku, mungkin kita akan bersama, melupakan masa lalu dan hidup bahagia. Asal kamu tahu Daniel sudah meninggal dunia. "
Mendengar peryataan Galih, Ainun malah menangis menutup mulut dengan telapak tangan, mencoba tetap tegar. "Aku tahu kamu pasti menangisi Danielkan? Kamu masih cinta dengan dia. Maka dari itu kamu meninggalkanku, karena hatimu masih berat pada Daniel, orang yang tak bertanggung jawab itu. Buka mata kamu Ainun, aku di sini mencintai kamu dulu, tapi kamu malah mengabaikanku begitu saja."
Palkkk .....
Tamparan keras yang dilayangkan Ainun mendarat dipipi kiri Galih, tentulah membuat lelaki berbadan kekar itu merasa kesal.
"Jaga mulutmu, Galih. Aku tidak mau membahas masa lalu itu, karena sangatlah menyakitkan. "
"Kalau memang menyakitkan, kenapa setelah kamu sembuh dari deprsi dan hampir gila kamu malah meninggalkan aku. "
__ADS_1
"Aku meniggalkan kamu karena kamu ini .... "
Belum perkataan Ainun terlontar semuanya, Anna tiba tiba saja datang memanggil Galih.