Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 137 Sampai


__ADS_3

"Halo, Gal. Ada apa?"


Sambungan telepon kini terhubung pada Deni, kepanikan mulai terlihat dari raut wajah Indah, setelah kesedihan meraja lela batin, kini Indah dihadapkan dengan Anna yang dikabarkan masuk rumah sakit.


Apa yang terjadi dengan adiknya ini, saat di pernikahan terasa baik baik saja? Indah hanya bisa berdoa, semoga Anna tidak kenapa napa.


Percakapan dalam sambungan telepon, pada akhirnya terputus sebelah pihak, Indah mulai bertanya pada suaminya. "Bagaimana dengan keadaan Anna?"


"Mm, entahlah. Galih tidak mengatakan tentang ke adaan Anna, dia hanya menanyakan kamu kapan datang ke sini."


"Syukurlah, aku takut terjadi apa apa dengan Anna, apalagi dia itu punya riwayat sakit kepala, dan lagi ingatanya belum pulih seperti sedia kali."


"Aku juga berharap seperti itu."


*******


Galih yang menunggu kedatangan Indah, hatinya seakan tak menentu, perasaannya bimbang, bagaimana menjelaskan pada sang kakak jika Anna seperti sekarang karena ulahnya sendiri.


Menepuk jidat dengan keras, tak merasakan rasa sakit, Galih takut jika rumah tangganya akan hancur begitu saja.


Dokter kini keluar dari ruangan Anna, dimana sang dokter menyuruh Galih ikut ke ruanganya.


Perasaan tak menentu, antara takut dan juga sedih bercampur aduk menjadi satu.


"Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi."


Menarik napas menahan semua rasa takut jika dokter mengatakan hal tak terduga.


Masuk ke ruangan sang dokter.


"Silahkan duduk."


Galih perlahan duduk, melihat ke arah sang dokter.


Lelaki tua dengan baju serba putih, melihat ke arah lembaran kertas lebar, ia memakai kaca mata. Melihat setiap bait kata kata dengan jeli, sedangkan perasaan Galih masih tak karuan, suara detakan begitu cepat terasa. Menandakan ketakutan yang berlebihan.


Berdoa dalam hati, semoga tidak ada sesuatu yang mengejutkan Galih saat sang dokter menjelaskan apa yang terjadi pada Anna. Lelaki tua dengan baju putihnya, membuka kaca mata, menaruhnya di atas meja. Perlahan buku lebar itu ia tutup seperti sudah mengerti dan akan menjelaskan.


"Untuk pasien Anna, istri bapak, sepertinya ada kerusakan otak kanan. Sebelumnya apa ada sesuatu yang membuat pasien syok dan takut?"


Pertanyaan dokter membuat Galih mengatakan semua yang terjadi, dokter tidak marah ia mengerti akan situasi yang terjadi. Karena alaminya seorang manusia pasti ingin membuat kejujuran, tapi tidak dengan cara menekan.


Dokter menganggukan kepala, begitu telaten mendengar semua cerita Galih, sampai sang dokter berkata." Ada dua kemungkinan. Pasien sembuh dan mengigat semuanya, dan ada kemungkinan lagi pasien sembuh hanya saja ingatan tak akan kembali normal seperti dulu."

__ADS_1


Mendengar perkataan dokter membuat Galih hanya bisa pasrah, semoga saja Anna bisa mengigat semuanya. Agar tak ada beban dalam hidupnya saat ini. Ia juga ingin melihat Anna bahagia dan membahagiakannya, karena dia juga sudah merusak semua kebahagian Anna yang dulu bersama Daniel.


Karena dendamnya Galih, sampai ia membuat sebuah drama sampai saat ini.


Galih berjalan gontai, membuka pintu ruangan dokter untuk kembali menunggu kesadaran Anna.


Langkahnya tiba tiba terhenti di saat Indah dan Deni berlari memanggil namanya.


"Galih."


"Indah, Deni."


Galih mencoba menyimpan luka dan kesedihan dalam hatinya, agar tidak di curigai Indah dan Deni. Ia menampilkan senyumannya.


"Bagaimana ke adaan Anna, Gal?"


"Kemungkinan besar Anna sembuh dan mengigat semuanya!"


Jawaban yang membuat Indah tentulah senang, " Benar itu? Akhinya Anna kamu akan mengigat semua masa lalu kamu dan kamu bisa tahu siapa saja yang terlibat dalam kecelakaan itu."


Mendengar tutur kata Indah membuat Galih semakin ketakutan, semua masa lalu akan mengigatkan tentang pertemuan dirinya dengan Daniel dan dimana Galih berada di pertemuan itu.


Deni mengerutkan dahi, ada sesuatu yang membuat ia heran melihat tingkah Galih yang tak biasanya, seperti ketakutan.


Memegang bahu Deni dan berkata, " kenapa, Gal?"


"Syukurlah, kalau begitu."


Deni mulai menganjak duduk Indah, ia tahu jika istrinya belum istirahat dengan benar. "Galih."


Beberapa kali, Deni memanggil Galih, lelaki berhidung macung itu tak menyahut. Ataupun menjawab, ia terlihat gelisah dengan langkah kaki yang terus bulak balik ke sana ke mari, seperti orang yang ketakutan.


"Ada apa dengan Galih? Tidak biasanya dia seperti itu. Seharusnya dia senang dan bahagia?"


Menghampiri Galih, hingga kedua mata mereka menatap satu sama lain. Galih terkejut," ada apa, Den?"


"Dari tadi kamu kenapa? Gelisa begitu, apa yang kamu pikirkan, Gal?"


"Tidak ada."


Deni menggelengkan kepala, tanganya menepuk punggung Galih dan berkata." aku titip Indah, keluar sebentar mencari makanan."


"Ya."

__ADS_1


Deni mulai berjalan keluar rumah sakit, mencari cemilan dan makanan untuk Indah, karena ia tahu. Saat mendengar kabar dari Bu Dela tentang Danu. Ia belum memakan makanan yang sengaja dipesan oleh Deni.


Setelah kepergian Deni, Indah mulai bertanya pada Galih, " apa yang tengah kamu pikirkan Galih, sepertinya kamu ketakutan."


Menatap ke arah Indah, Galih berusaha tenang." Tidak ada yang aku takuti."


"Syukurlah, aku sedikit mencurigai kamu, Jika Anna masuk ke rumah sakit gara-gara kamu. "


"Jangan menuduh Indah, jika tidak ada bukti."


"Aku bukan menuduh, dari tadi kamu nampak gelisa. Sebenarnya apa yang terjadi pada rumah tanggamu dengan adikku, jangan sampai kamu bilang sudah membuat adikku terluka."


"Kamu bicara apa Indah, kamu tahu dari dulu aku seperti apa, dan tahu kehidupanku."


Langkah kaki kini terdengar menuju kearah Indah dan Galih, dimana sosok seorang wanita datang memakai hijab oren.


"Ainun?"


Indah terkejut dengan wanita yang menjadi mantan istri Galih datang lagi," kenapa wanita ini bisa ada bersama kamu, Galih. Atau jangan jangan?"


Galih mencoba meluruskan kesalahpahaman Ainun yang datang tiba tiba ke rumah sakit, " kamu jangan dulu berpikir tidak tidak."


"Terus, apa karena dia. Anna masuk ke rumah sakit. Bukannya dia itu sudah pergi kabur dan tak mempedulikan lagi kamu Galih, tapi sekarang kenapa dia tiba tiba datang ke sini."


"Jika aku ceritakan semuanya kamu tidak akan mengerti."


Ainun dengan sengajanya memegang legan Galih dengan manja di depan Indah.


"Aku di rumah ke sepian nunggu kamu."


Dengan sigapnya Galih menghempaskan tangan Ainun dan menjawab." Ainun, jangan buat sesuatu yang akan membuat orang salah mengira."


"Kamu ini kenapa sih."


Indah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Ainun begitu berbeda dengan yang dulu. Dimana Galih berkata jika Ainun mengalami gangguan jiwa tapi sekarang.


"Galih, kenapa dia bisa tinggal denganmu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan istrimu Anna."


Semua menjadi rumit untuk Galih, dengan terpaksa Galih menyuruh satpam rumah sakit mengusir Ainun ke luar rumah sakit.


"Satpam."


"Galih, kamu ini kenapa."

__ADS_1


Ainun seakan enggan, diusir oleh satpam. Ia malah meronta ronta meminta kepada Galih.


"Satpam tolong, usir dia, wanita ini mengganggu ketenangan di rumah sakit ini."


__ADS_2