
Ajeng menangis histeris saat Anna, pergi mejauh dari hadapanya, seakan tak ada harapan atau keinginan jika Anna menanggapi dengan diam dan pergi begitu saja.
"Anna, aku mohon. Pasti kamu sebagai wanita mengerti keinginanku, ayolah jangan munafik Anna."
Pak Aryanto berusaha menenangkan Ajeng dari kemarahanya, karena Anna yang tak bisa memenuhi keinginannya.
"Kamu harus tenang, Ajeng. Kita tidak bisa memaksakan keinginan kita agar terpenuhi orang lain." Mendengar nasehat dari sang ayah malah membuat Ajeng memberontak dan memarahi orang tuanya sendiri.
"Tapi, pah."
Tangan lelaki tua itu mengusap pelan bahu anaknya, " Sebaiknya kita pulang Ajeng, karena Anna tidak akan mungkin mengabulkan keinginan kamu ini."
Anna mendengar teriakan Ajeng membuat ia menyuruh sang suami untuk menghentikan kursi rodanya, mengepalkan kedua tangan. Anna, membalikan kursi roda menatap ke arah Ajeng yang tengah memberontak kepada kedua orang tuanya.
Sang suami dengan sigap, mendorong kursi roda istrinya untuk kembali ke hadapan Ajeng. Wajah Ajeng sudah basah dengan air mata. Padahal baru saja ia tinggalkan dan tak menjawab perkataan wanita berambut panjang dengan alisnya yang tebal.
"Apa kamu yakin, Ajeng. Jika Raka keluar dari dalam penjara, ia akan mencintai kamu seperti ucapannya saat ini?"
Mendengar apa yang dikatakan Anna, membuat Ajeng berusaha menyingkirkan air mata yang sudah mengenai kedua pipinya.
"Jelas, dia akan mencintaiku Anna, Raka sudah berubah!"
Jawaban yang terlontar dari mulut Ajeng, tentu tak meyakinkan hati Anna.
"Bagaimana kalau setelah Raka bebas, kamu akan disia-siakan lagi. Bukanya sudah jelas waktu kamu menjenguknya di dalam penjara. Kamu di hina dan juga dicaci maki di hadapanku?"
Pertanyaan yang lumayan membuat Ajeng terkejut, ia tak memikirkan hal itu. Ia pikirkan hanyalah kebahagiaan bersama Raka, penuh cinta dengan lelaki yang dari dulu sangat ia cintai.
"Anna, Raka itu sudah berubah, dia meminta maaf padaku dan memohon untuk bisa bersamaku lagi," ucap Ajeng, berusaha menyakini Anna.
Wanita berbulu mata lentik dengan bibir tipisnya, kini menarik napas mengeluarkan secara perlahan.
"Ajeng, memang ya. Kalau sudah dibutakan oleh cinta, diberi nasehat pun tidak akan mempan sama sekali."
__ADS_1
Ajeng mengeluarkan isak tangisnya, dihadapan Anna, berharap jika wanita dihadapanya mengasihani dan bersimpati dengan apa yang ia lakukan saat ini.
"Anna, ayolah. Aku janji tidak akan menyesal." ucap Ajeng. Memohon dengan penuh harapan.
Lelaki tua yang menjadi ayah Raka, kini mendekat pada Ajeng." Nak, bapak ini tahu sifat asli Raka. Dia orang yang hanya banyak omong kosong, bapak takut jika nanti kamu di sia siakan lagi."
Farhan anak remaja itu, kini menyadari jika Ajeng pastinya dihasut, seperti Farhan saat itu oleh Bu Sari.
"Kamu sebaiknya, lupakan Raka." ucap lelaki tua itu dihadapan Ajeng, ia berniat menyadarkan Ajeng yang begitu tergila gila dengan Raka.
"Alah, seharusnya bapak sebagai ayahnya mendukung sang anak, bukan malah menjelek jelekannya, " pekik Ajeng. Ia menatap kembali ke arah Anna, dengan kedua mata berkaca kaca.
"Ayolah Anna, aku mohon."
Anna menggelengkan kepala, mendengar permohonan yang terlontar dari mulut Ajeng, membuat ia membalas dengan penuh ketegasan." Maaf Ajeng, aku tidak bisa."
Anna kini menyuruh sang suami untuk segera pergi dari hadapan Ajeng, sudah cukup menyadarkan wanita yang begitu bucin terhadap Raka, mantan suaminya sendiri.
"Anna."
Galih, membantu Anna dipindahkan dari kursi roda menuju kursi mobil," gimana sudah nyaman duduknya."
Anna menganggukan kepala tersenyum, setelah merasakan rasa nyaman saat Galih membantunya untuk duduk di kursi mobil.
Lelaki tua yang menjadi suami Bu Sari, hanya berdiri menatap ke arah mobil Galih.
"Loh, pak. Malah berdiri di sana, ayo kita pulang."
Ada rasa tak enak hati saat Galih, mengajaknya untuk pulang bersama.
"Bapak, naik angkutan umum saja."
Galih yang sudah berada di dalam mobil, kini terpaksa turun untuk menarik tangan lelaki tua yang menjadi suami Bu Sari.
__ADS_1
"Bapak ini gimana sih, kan datang sama Galih. Pulang juga harus sama Galih dong pak."
Terasa dihargainya, lelaki tua itu oleh Anna dan suaminya. Berbanding balik dengan sang istri dan juga anaknya Raka.
Ingin rasanya menangis, hadir dikeluarga Anna yang begitu harmonis. Membuat siapa pun orang berada di lingkungan Galih, ia akan nyaman dan dihargai layaknya orang tua.
"Bapak, jangan dulu pulang. Kita makan dulu."
Lelaki tua itu, berusaha menolak karena sudah makan di rumah. Tapi Anna, tetap bersikukuh karena ingin mengajak lelaki tua yang menjadi mantan mertuanya itu tersenyum.
"Kalau bapak tak mau makan, kita bisa bersantai sejenak di tempat yang nyaman, " ucap Anna, membuat lelaki tua itu semakin bahagia.
Farhan, tersenyum ceria dan menimpa perkataan ibunya." Ya, kek. Jarang jarang loh kakek jalan-jalan, mumpung ada di sini."
"Soalnya, kakek inget sama nenek kamu yang nggak ikut, kasihan dia sendirian di rumah."
Farhan, menjawab perkataan sang kakek." Sudah jangan pikirin Nenek terus kek. Nenek kan bisa nanti nanti aja, biar nanti pulangnya aja kita beliin oleh oleh."
Rayuan Farhan membuat sang kakek kini menurut, karena memang ia begitu menikmati momen kebersamaan dengan keluarga Anna yang baru.
" Ya sudah."
Teriakkan Farhan membuat sang kakek terkejut dan sekaligus senang dengan kebahagiaan yang dipancarkan oleh cucunya sendiri.
Galih, kini menjemput Radit dan juga Lulu. Untuk ikut serta meluangkan hiburan keluarga.
Mereka semua terlihat bahagia, aplagi sang kakek, ketika melihat Radit dan Lulu yang jarang sekali bertemu.
lelaki tua itu memeluk kedua cucunya dengan penuh kasih sayang, hatinya benar-benar dipenuhi dengan kebahagiaan. Ia mengira saat kecelakaan itu hidupnya tidak akan lama lagi, tapi ternyata sang Maha Kuasa berkehendak untuk Ia tetap hidup dan merasakan kebahagiaan bersama ketiga cucunya.
Anna mengusap peran air mata yang ternyata jatuh mengenai pipi, lelaki tua yang dari dulu menyayanginya kini tersenyum bahagia.
Hanya Iya yang selalu menguatkan Anna dari dulu, mengerti saat Anna mengerjakan pekerjaan rumah.
__ADS_1
"Terima kasih, Anna. Kamu sudah mengizinkan bapak merasakan kebahagian bersama ketiga anak kamu, padahal bapak banyak salah, karena sudah membuat hidup kamu menderita dengan Raka."
Perasaan menyesal tergambar dari raut wajah lelaki tua itu, " Bapak tak usah menyesali semuanya, Anna kan sudah katakan tadi saat di rumah sakit. Bapak itu lelaki terbaik untuk Anna, jika Anna tidak bersama lagi dengan Raka, Anna tetap menyayangi Bapak layaknya seorang ayah kandung Anna sendiri, karena dari dulu hanya bapak yang selalu mengerti Anna."