
Lelaki gendut itu mencium kening Ajeng, semakin aku yakin pelakunya adalah dia.
"Pak Galih lihat, Ajeng. Dia bersama lelaki tua, aku berpikir sepertinya kasusku bisa saja di tutup dan dilupakan begitu saja karna ada lelaki tua yang menjadi ayah Ajeng."
Pak Galih melihat ke arah lelaki yang aku tunjuk, lelaki itu pergi menaiki mobil, terlihat Ajeng melambaikan tangan dan tersenyum senang saat mobil papahnya pergi begitu saja.
Kasus masa laluku semakin terbuka, aku sudah yakin pelakunya pasti Mas Raka dan Ajeng.
Aku merogoh tas, untuk mengambil poto dan memotret poto yang aku temukan pada diaryku. mengirimkan pada Tasya.
Beberapa menit kemudian, poto terkirim. Tasnya langsung membalas.
(Aku tahu dia, itu Adam dia teman dekat Daniel. Dia tinggal di jakarta, ini alamat rumahnya, jalan kepala duren. Nomor rumah 14.)
Aku langsung mencatat alamat rumah yang dikirim Tasya lewat pesan.
Menujuk kepada Pak Galih," bapak bisa antarkan saya ke sini?"
Pak Galih menganggukkan kepala dan berkata," tentu saja."
Kami jauh jauh mencari alamat ini, hingga dimana nomor rumah sudah di temukan.
Perlahan aku mengetuk pintu rumah, hingga sosok seorang wanita cantik dengan balutan hijab berwana hijau muda datang membuka pintu.
"Siapa ya mbak?"
"Saya mencari Adam! Apa dia ada di rumah ini?"
Wanita berhijab hijau itu mempersilahkan masuk dan duduk di sofa, menyiapkan beberapa cemilan.
Ia langsung memanggil nama Mas, sepertinya wanita itu adalah istri Adam.
Sosok lelaki berbadan kekar dengan jangot di dagunya datang. Kedua matanya seperti kaget saat melihatku saat itu juga.
"Anna."
Dia tahu namaku, tapi aku yang hilang ingatan ini tak mengigat wajahnya sama sekali. Ia sedikit berbeda dengan poto masa lalu, yang mungkin poto di masa muda.
__ADS_1
"Ada apa kamu datang ke sini?"
"Adam, aku ingin menanyakan tetang Daniel?"
Hening, Adam seperti orang yang heran menatapku.
"Kenapa kamu mengungkit lagi Daniel, bukanya kamu sudah bahagia menikah dengan orang lain."
"Aku ingin tahu kebenaran yang terjadi saat kecelakaan menimpaku dan Daniel. Kebetulan sekali, aku baru tahu jika aku divonis amnesia oleh dokter baru baru ini, dan Kak Indah juga baru menceritakannya sekarang."
"Amnesia!"
"Iya Adam, aku baru mencari tahu semuanya. Semenjak aku dan suamiku bercerai."
Berusaha meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.
"Sebenarnya An, saat kecelakaan itu terjadi aku sempat menengokmu dan Daniel. Hanya saja di sana banyak polisi yang berjaga. Untuk masuk pun aku susah, apalagi melihatmu."
Aku tetap fokus mendengarkan cerita Adam.
"Maka dari itu aku berusaha mencari tahu padamu Adam, karna Deni dan Bu Sumyati terus menerorku, mereka berkata jika Daniel mati karna aku. Dan urusan ini begitu ribet. Membuat aku belum menemukan titik terang sampai sekarang."
"Aku tak tahu jika setelah kecelakaan kamu akan mengalami masalah yang berat, memang Bu Sumyati dan Deni tengah mencari tahu tentang kasus kecelakaan Daniel, karna mereka kini seperti orang yang hanya diabaikan oleh polisi begitu saja."
Adam kini berjalan mencari ponsel, menunjukkan pesan dimana Ia tengah chating dengan Deni.
"Kamu lihat ini?"
Aku membaca isi pesan yang diperlihatkan Adam, kedua mataku membulat setelah membaca pesan itu.
"Adam, jadi Daniel pernah di isukan meninggal dunia, dan mayatnya tidak di perlihatkan pada keluarganya? Dan mereka bilang mayat sudah di kuburkan."
" Iya makannya, Deni dan Bu Sumyati Kesal pada para polisi dan pihak rumah sakit. Sampai mereka menggali kembali Kuburan Daniel, dan kamu tahu tidak, jasad Daniel tidak ada. Makanya mereka murka, dan bisa saja menyalahkan semuanya pada kamu Anna, karna mereka tak tahu jika kamu mengalami Amnesia. Oh ya, bukanya saat mengalami Amnesia ibu kamu tahu siapa lelaki yang menjadi pasangan kamu saat itu? Kenapa dia tidak memberitahu kamu akan Daniel?"
"Itulah yang membuat aku bingung. Karna Ibu yang sudah tua tak sempat menceritakan semuanya, karna memang kata dokter jika aku mengigat sesuatu di masa lalu. Itu akan mempengaruhi kesehatanku. Di umur ibuku yang sudah tua itu, ia meninggal dunia, sampai dimana kakakku, Kak Indah menjagaku, ia juga tak tahu akan masa laluku, karna aku yang kurang dekat dengannya. Hingga dimana ada sosok seorang lelaki datang mengaku sebagai calon suamiku. Ia bernama Raka, maka dari itu kak Indah yang mengurusku hanya percaya begitu saja, tanpa mencari tahu terlebih dahulu."
Aku melihat Adam begitu mendengarkan apa yang terucap pada mulut ini. "Anna, aku tak tahu jika kamu begitu berat menjalani hidup."
__ADS_1
Setelah berbincang dengan serius bersama Adam, saat itu aku berpamitan pada Adam untuk segera pulang. Karna waktu untuk pulang bukanlah waktu yang sedikit, kami harus menempuh perjalanan berjam jam.
Baru melangkah pada pintu keluar, aku di kagetkan dengan penampakan Deni.
"Kamu,"
Deni memalingkan wajah, ia seakan benci padaku saat ini.
"Deni, kebetulan sekali kamu datang ke sini," ucapku kepada lelaki muda yang selalu menganggu kehidupanku.
"Ya." balas Deni begitu datar.
Adam mendekat dan berkata," kenapa kalian tidak bekerja sama saja mencari tahu siapa penyebab kecelakaan di tahun lalu."
Deni yang membenciku kini menjawab perkataan Adam." Jangan gila kamu, aku tidak sudi harus bekerja sama dengan orang jahat seperti dia. Orang yang sudah membuat ibuku menderita dan membuat kakaku mati."
"Deni stop, jangan terus menyalahkan aku atas kematian Daniel, jelas jelas aku juga korban saat itu."
"Korban, korban apa. Hah. Kamu sudah menikah dan mempunyai anak. Lantas kamu terus mengatakan bahwa dirimu korban. Benar benar luar biasa, wanita licik seperti kamu bisa membela diri."
"Aku sudah menyakini kamu, tapi balasan kamu tetap saja seperti ini."
"Aku akan seperti ini selama kamu bisa menemukan siapa pelaku tabrakan itu, dan menemukan jasad kak Daniel."
Adam berusaha menenangkan kami berdua dan mengakurkan kami, agar tidak terus menerus bertengkar.
"Bisa tidak kalian itu bekerja sama, jangan egosi satu sama lain."
Deni melirikku sekilas begitu pun dengan aku.
"Aku tidak mau."
"Is, siapa juga yang mau akur sama anak muda pemarah seperti kamu, Deni."
"Hey, ayolah jika kita saling bermusuhan dan juga saling dendam, kalian tidak akan menemukan bukti yang ada keributan terus menerus, dan dendam yang keterpanjangan."
Apa yang dikatakan Adam memang benar, tapi Deni begitu menyebalkan bagiku.
__ADS_1