Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 59 Sekarang aku tahu


__ADS_3

Deni menyobek kertas di depan wajahku, tentu saja membuat aku geram.


"Deni, apa yang kamu lakukan."


"Aku tidak percaya?"


Lelaki muda dengan postur tubuh tingginya, kini membalikkan badan untuk pergi dari hadapanku, tapi aku mencoba menahan tanganya dengan berkata," Deni. kenapa kamu sampai sebegitunya tak mempercayaiku."


"Lepaskan tanganku, belum puas aku jika tidak membunuhmu."


"Apa maksud kamu. Berarti kamu tahu kakak kamu dimana? Dan orang yang menekan wajahku dengan bantal pasti kamu kan?"


Aku berusaha membuat dia mengakui semuanya," jangan ngaco kamu, jika benar mana buktinya?"


Pak Galih tiba tiba saja datang, dengan menunjukkan sebuah rekaman yang aku belum tahu.


"Kata kamu, kamu butuh buktikan, ini."


Kedua mata Deni membulat, setelah melihat apa yang ditunjukkan Pak Galih di depan wajahku, membuat aku tentu saja penasaran, sebenarnya apa yang di perlihatkan Pak Galih kepada Deni?


"Bagaimana? Apa kamu tidak takut?"


Jawaban Pak Galih tentu saja membuat Deni gugup bukan main, terlihat sorot mata ketakutanyanya.


" Deni, sudah jujur saja. Dari pada kamu saya masukan ke dalam penjara."


"Baik, aku akan mengaku."


Tekanan Pak Galih benar benar hebat, ia bisa membuat Deni ketakutan," memang iya. Aku yang sudah menekan batal pada wanita ini, karna dia itu pantas mati."


Pak Galih memegang kerah baju Deni dan berkata," kamu tidak berhak membunuh seseorang."


"Kenapa, dia pantas mati. Kenapa bukan dia saja yang mati saat kecelakaan itu!"


"Kecelakaan, kakakmu. Hey Deni, mana aku tahu kecelakaan itu menimpa aku dan kakakmu, kamu tahu sendirikan keadaanku waktu itu kritis."


Aku menimpal perkataannya, dimana ia terus memojokan dan menyalahkanku.


"Sudahlah, aku malas berdebatan dengan orang seperti kamu."


"Deni, tunggu."


Anak muda memang susah di atur, aku ingin tahu semuanya, di malah pergi begitu saja.


"Anna, kamu harus tenang ya. Aku akan berusaha menolong kamu agar kamu bisa ingat semuanya. Walau mungkin itu akan sulit."

__ADS_1


Aku hanya menganggukan kepala berusaha mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Galih.


"Anna, sebaiknya kita pergi dari sini," ucap Pak Galih kepadaku.


"Iya, pak. Sekarang saya sudah tahu, siapa ibu Daniel, hanya saja saya ingin mencari tahu. Tentang Deni, kenapa dia tidak mengatakan semuanya, dan dimana Daniel?" tanyaku pada Pak Galih.


"Semua butuh proses. Oh ya besok kita bisa mulai bisnis kita, kamu tinggal menjalani semuanya!" balas Pak Galih, tentulah membuat aku semangat. Kedua mata sayu kini tiba tiba bebinar.


Kami mulai pulang ke rumah, setelah mengetahui semuanya. Perasaanku perlahan sedikit lega, aku bisa mengetahui masa lalu dengan orang orang yang membantuku saat ini.


Setelah naik ke dalam mobil," Anna?"


"Iya, pak."


"Apa kamu merasa pelakunya adalah Raka?"


"Iya, saya juga merasa begitu, tapi bagaimana kita membuktikan semuanya kalau memang Mantan suamiku Mas Raka yang bersalah!"


Pak Galih mengusap pelan dagunya dan berkata." Benar juga apa yang kamu katakan. Saya juga berpikir seperti demikian."


Obrolanku teralihakan disaat aku melihat Radit dan Mas Raka tengah berada di sebuah cafe.


"Pak, pak. Tunggu?"


"Kenapa, An?"


Pak Galih kini menghentikan mobilnya, membuat aku membuka perlahan mobil dan terlihat mereka tengah menikmati makanan di cafe itu.


"Radit, sayang. Nak?"


Aku menyapa anakku, dengan harapan dia akan pulang kembali kepadaku. Ibunya ini.


Mas Raka berusaha menjauhkan Radit dari hadapanku, terlihat sekali anak itu seperti ingin bersamaku.


"Radit, pulang yuk sayang. Mas kamu ini apa apaan, ngapain kamu bawa Radit tanpa seizinku. Kamu paksa Radit untuk ikut denganmu. Bukanya kamu sudah tahu bahwa hak asuh anak anak jatuh pada tanganku."


"Sudahlah, Anna. Aku ini bapaknya, jadi wajar aku bawa Radit jalan jalan, dan meginap di rumah ibu."


"Tapi bukan dengan cara membawa anakku tanpa seizinku mas."


"Sudahlah tak usah kamu pelit seperti ini, Anna."


Aku mulai menarik Radit, untuk membawanya pulang, hanya saja saat aku menarik tangan anakku, ada bekas warna biru pada tanganya.


"Mas, tangan Radit."

__ADS_1


Mas Raka, malah memeluk Radit dengan erat erat, sedangkan kedua mata Radit berkaca kaca.


Pak Galih kini turun untuk membalaku.


" Raka, kembalikan Radit pada Anna?"


Lelaki yang menjadi mantan suamiku itu tertawa, terbahak bahak dan berkata," tidak akan. Oh ya, Anna. Aku sekarang paham, kamu meninggalkan aku pasti karna lelaki ini ya, lelaki yang sudah membela kamu."


"Apaan sih mas, aku memang sudah lama ingin berpisah dengan kamu, karna kamu yang bisa adil."


Mas Raka tertawa dengan apa yang aku katakan." Kenapa kamu tertawa mas."


Aku penasaran dengan Mas Raka, untuk apa dia menahan Radit, dan lagi kenapa di tangan Radit ada bekas memar. Aku takut anakku kenapa kenapa, Mas Raka benar benar keterlaluan.


Aku berusaha mendekat lagi ke arah Radit, tapi Mas Raka malah berjalan mundur dan berkata." Sekali lagi mendekat, kamu akan menyesal."


"Apa yang di maksud Mas Raka."


"Mas, apa jangan jangan kamu yang sudah menyebabkan kecelakaan 15 tahun yang lalu."


Mas Raka terdiam, ia seperti orang salah tingkah, saat aku mengatakan tentang kecelakaan yang menimpaku.


"Maksud kamu apa?"


Aku ingin mengungkapkan semuanya, maka dari itu, aku bertanya kembali." Mas, jujur saja?"


Ajeng tiba tiba saja datang, menghampiri perdebatan kami. Aku yang tak mau bertele tele terus menekan Mas Raka.


"Ayo Mas, kamu harus jujur. Sebelum aku membuat kamu masuk ke dalam penjara dengan kasus penipuan dan tabrak lari."


"Heh, Anna, kamu ini dasar udik, ngapain kamu menyalakan suamiku, dia itu tidak salah."


Aku mengereyitkan dahi, ketika Ajeng berkata seperti itu." Tidak salah? Apa kamu juga terlibat dalam kecelakaan itu!"


Ini menarik, dua insan yang aku tekan tiba tiba terdiam kaku, seperti ada rahasia yang harus aku selidiki pada mereka.


Karna menikah dengan Mas Raka dulu, aku seperti di buat permainan oleh dia. Bagaimana tidaK, aku seperti babu. Dan juga di perlakukan tidak baik oleh ibunya. Dihina dicaci dimaki, ditertawakan.


"Kenapa kalian diam saja," bentakku.


Mereka menundukkan kepala, hingga dimana. Mas Raka menarik tangan Ajeng dan pergi begitu saja dari hadapanku.


"Heh. kalian mau ke mana?"


Pertanyaanku membuat mereka dengan cepatnya berjalan menuju mobil." Anna."

__ADS_1


Teriakan Pak Galih tak aku tepis, hingga dimana ia menarik tanganku dan berkata," Anna. Kamu harus sabar dulu, biarkan mereka pergi. Kita tak usah gegabah kalau gegabah gini mereka bisa melakukan hal yang tidak baik pada kamu."


Aku terdiam, dan melihat ke arah wajah Pak Galih yang begitu cemas kepadaku.


__ADS_2