Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 128 Kepanikan Anna.


__ADS_3

Di dalam kamar yang memang cukup lumayan besar, membuat Ainun berdiam diri duduk di atas kasur dan melihat ke arah jendela. Suara ketukan pintu mulai terdengar, Ainun berusaha tak peduli dan mengabaikan teriakan pelayan yang mungkin membawakan makan siang untuk dirinya. wanita yang masih memakai hijab berwarna putih menggerutu kesal dirinya sendiri, menggenggam erat seprai bermotif kupu-kupu dengan warna biru yang mencolok.


Sedangkan Anna yang sudah selesai memakan makanannya di atas meja, berusaha menghampiri Ainun, ia ingin memberikan sebuah teguran kecil, agar wanita yang hanya menumpang tidak banyak menganggu kemesraannya dengan sang suami.


Ana memang dulu sangatlah lemah, iya terbilang bodoh dalam menghadapi suatu masalah. Hidupnya yang selalu dipenuhi dengan derita akan penghianatan dan juga kebohongan suaminya, membuat dirinya sadar jika hidup jangan terlalu larut dalam kebodohan dan juga ketakutan. Anna harus bisa melawan semua itu, karena jika Anna lemah, kemungkinan besar ia akan terus tersakiti menjadi orang yang hanya menghadapi sesuatu kenyataan tanpa mengubah semua itu.


Sosok Anna yang selalu menangis dan pasrah akan keadaan seakan hilang bak Ditelan Bumi, digantikan dengan sosok wanita yang berusaha kuat dan tegar, menerima apa yang memang terjadi di suatu hari nanti.


Perlahan, Ana mulai menyadari tentang kebohongan yang di simpan suaminya. Apalagi ia semalam menemukan poto anak kecil dan Ainun.


Malam itu, Anna mencari kesempatan di saat Galih tak ada, mengobrak-abrik laci kamar suaminya, yang ternyata begitu banyak Foto tersimpan.


Foto yang ditemukan Ana di dalam laci, hanyalah sebuah foto anak kecil Anna yakin masih banyak foto masa lalu tentang Galih, yang membuat hati kecilnya ingin mengetahui semuanya.


Apalagi foto anak kecil itu begitu persis dengan foto kecil Farhan di masa lalu,


membuat Anna ingin mencari tahu. Apakah anak yang diurus Anna itu adalah anak Galih dan juga Ainun? tapi kenapa Ainun dan juga Galih begitu tega membuang Farhan.


Saat tangan Anna mulai mengetuk pintu kamar Ainun, saat itulah terdengar suara Ainun yang tengah mengamuk di dalam kamar. wanita yang sudah memiliki tiga itu berusaha mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu mendengarkan apa yang dikatakan Ainun dalam kekesalanya.


"Alex."


Ada satu nama yang dipanggil Ainun, dan. " Daniel. "


Kedua nama yang disebut Ainun membuat Anna, membulatkan kedua matanya. Ia benar benar kaget dengan teriakan di dalam kamar yang memanggil satu persatu nama, antar Alex dan Daniel.


Daniel lelaki yang menjadi masa lalu dikehidupan Ainun dulu yang kini sudah tiada, " Kenapa Ainun menyebut nama Daniel, apa ini ada hubunganya dengan. Masa lalunya juga. Kenapa ingatanku sampai sekarang belum juga kembali. "


Galih tiba tiba datang, tangan kekarnya memegang bahu sang istri dengan bertanya. " Anna, sedang apa kamu di sini? "


"Ee, aku hanya kuatir dengan keadaan Ainun yang mengunci kamar tidunya dari tadi. " Terdengar suara terbata bata, Anna. Membuat Galih sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Biarkan saja, nanti juga kalau dia lapar keluar sendiri. " Ucapan Galih membuat Anna, kini mendengarkanya, ia langsung bergegas pergi dari kamar Ainun.


Sedangkan Galih terlihat gusar dengan Anna yang terlihat curiga dengan Ainun.


Bersikap tenang, Galih mengajak Anna untuk mengobrol di ruang tamu.


Entah apa yang akan di ceritakan Galih, tentulah membuat Anna sedikit penasaran.


Hanya saja saat langkah kaki, mengikuti langkah Galih. Suara ponsel berbunyi, mengangetkan Anna yang tengah melamun, memikirkan kedua nama lelaki yang disebut oleh Ainun dalam teriakan kekesalnya.


Mengangkat panggilan telepon. " Halo. "


"Anna, bisa tidak kamu ke sini sekarang. Kami membutuhkan kamu?" Terdengar suara Bu Sari seperti menangis, saat meminta Anna datang ke rumah sakit.


Tanpa basa basi dan bertanya kenapa. Anna kini menjawab, " baik, saya akan ke sana sekarang juga. "


"Terima kasih, Anna. "


Teleponpun di matikan sebelah pihak, Anna bergegas bersiap siap, dimana Galih yang ingin mengatakan kejujurannya, malah terabaikan.


"Anna. Kamu mau ke mana? "


Terlihat wajah panik, meliputi diri Anna. " Galih, sepertinya aku mau ke rumah sakit dulu. Ada hal yang ingin dikatakan Bu Sari. "


"Apa kamu mau aku antar? " Galih menawarkan diri, sedangkan Anna yang tengah panik hanya berkata, " tak usah. Aku bisa sendiri. "


"Anna, memangnya apa yang terjadi sampai kamu panik seperti ini, " balas Galih, berusaha menghentikan Anna yang tengah bersiap siap.


"Aku juga belum yakin, ada apa. Hanya saja Bu Sari menyuruku datang secepatnya, " ucap Anna. Membuat Galih kini harus mengalah, padahal lelaki berperawakan tinggi dengan hidungnya yang mancung ingin mengatakan sebuah masa lalu, agar bayangan tentang Ainun dan kejahatanya hilang.


Galih ingin bahagia, menikmati hidupnya bersama sang istri, tanpa ganguan masa lalu atau pun orang ketiga yang mengganggu.

__ADS_1


"Mas, aku berangkat dulu. "


Anna tak lupa mencium punggung tangan suaminya, begitupun dengan kedua pipi sang suami, berpamitan untuk segera berangkat ke rumah sakit.


Wanita berambut panjang lurus yang terurai begitu rapi, dengan cepat melangkahkan kaki untuk segera menaiki mobil.


"Hati-hati, Anna. "


Anna menatap ke arah suara Galih dan tersenyum lebar, mobil mulai melaju meninggalkan rumah besar milik Galih.


Lelaki berparas tampan itu, kini mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah. Perasaannya tak karuan hatinya juga bimbang, meyakinkan diri untuk tidak berpikir negatif.


Baru saja menutup pintu rumah, tiba-tiba Ainun datang. wanita berhijab biru tiba-tiba saja memeluk Galih dari arah belakang, sontak membuat Galih terkejut melepaskan pelukan yang secara tiba-tiba.


"Ainun, apa kamu gila. Jangan sentuh aku. " Tegas Galih, tiba-tiba saja Ainun memegang kepala yang terasa sangat sakit, membuat ia langsung terkulai lemah dan terjatuh ke atas lantai.


Galih, dengan sigap langsung membantu wanita yang menjadi mantan istrinya itu


Ternyata Ainun jatuh pingsan, di mana Galih langsung membopong tubuh Ainun menuju ke kamarnya.


"Ainun, kenapa kamu malah pingsan. "


"Galih."


Ainun tersadar, ia menatap ke arah Galih. Dengan sepontan menarik kepala lelaki yang menidurkanya. Membuat mereka hampir saja berciuman, " Ainun. Gila kamu."


Ainun malah tersenyum dan berkata. " Kenapa? Sudahlah jangan sok alim begitu, Galih. Ayo kita lakukan, saat Anna tidak ada di rumah ini. Bukanya kamu dulu menikmati tubuhku, saat keperjakaanmu itu belum tersentuh. Tapi sekarang kenapa kamu tiba tiba sok jual mahal seperti ini. Ayolah, Galih. Apa kamu tidak rindu padaku, katanya kamu begitu cinta padaku. "


Entah sosok setan apa yang merasuki tubuh Ainun, sehingga wanita itu tak menghargai dirinya sendiri, begitu pun harga diri yang ia punya.


Seperti hilang rasa malu begitu saja, " Ayolah, Galih. Apa kamu mau menyia nyiakan semua ini? "

__ADS_1


__ADS_2