Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 187 Ketukan pintu


__ADS_3

Bu Sari, baru saja menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya, di mana lelaki tua itu menceritakan tentang Ajeng yang datang ke rumah sakit meminta untuk membebaskan Raka dalam penjara kepada Anna.


"Kemarin, waktu bapak ke rumah sakit. Ada Ajeng datang menangis dihadapan Anna. Ia meminta agar Raka dibebaskan dari dalam penjara."


Bu Sari yang penasaran kini bertanya kepada sang suami," apa yang dikatakan Anna ketika Ajeng meminta Raka dikeluarkan dari dalam penjara."


Sang suami menjawab bahwa Anna menolak permintaan Ajeng. Walau Ajeng memohon dan meminta dengan tangisan dan juga belas kasihan, tetap saja Anna tidak memperdulikan keinginan Ajeng.


Wanita tua yang menjadi Ibunda Raka itu, tentulah terkejut dengan jawaban yang terlontar dari mulut suaminya. Ia begitu kuatir, jika Raka pasti akan meminta pada Bu Sari lagi, mencari cara untuk anaknya bebas dari dalam penjara.


"Bu, bu." Beberapa kali sang suami memanggil istrinya, Bu Sari tetap saja tidak menanggapi panggilan dari Pak Sodikin.


Tangan yang terlihat mengkerut kini memegang bahu sang istri, memanggil namanya. " Bu Sari."


Lamunan Bu Sari membuyar, dan menjawab." Kenapa pak?"


Sang suami hanya menggelengkan kepala, merasa heran dengan tingkah istrinya," Ibu ini kenapa sih dari tadi melamun terus? Apa yang telah Ibu pikirkan coba bilang sama bapak?"


"Ibu tidak kenapa-kenapa, cuman sedikit sakit kepala saja!"


Jawaban istrinya membuat sang suami tentu saja tak percaya. karena dari raut wajah dan juga tingkah Bu Sari terlihat sekali ada kebohongan kebohongan kecil yang ia simpan.


"Sudahlah ibu kujur saja, jangan banyak berbohong, mending cerita aja sama bapak?" tanya sang suami sedikit menekan Bu Sari untuk berkata jujur.


Bu Sari masih diambang kebingungan, ia memikirkan Raka, sampai takut bercerita pada sang suami.


"Ayo katakan sebenarnya apa yang terjadi pada, ibu."


Bu Sari menelan ludah pada akhirnya ia bercerita, tentang Raka yang selalu menyuruhnya untuk bisa membebaskan Raka dari dalam penjara.


"Sebenarnya ibu terus dipaksa Raka untuk bisa menyelidiki Galih dan juga menyuruh Ajeng, agar Ajeng membantu Raka keluar dari dalam penjara."


Brakkk ....


Tangan berkerut itu, kini memukul meja setelah mendengar apa yang dikatakan istrinya. Ia berdiri sembari menatap tajam.

__ADS_1


Bu Sari yang melihat kemarahan sang suami, hanya bisa menundukkan pandangan. Ia mengakui kesalahan yang sudah diperbuat olehnya, terlalu memanjakan sang anak.


Hingga pada akhirnya Raka terlalu bergantung dengan ibunya sendiri, iya jadi orang pemalas untuk bersikap dewasa dan mencari jalan keluar masalahnya sendiri.


Lelaki tua itu kini mengusap kasar wajahnya dan berkata." Bu, apa ibu tidak sadar dengar resikonya, jika ibu terus menerus menuruti kemauan Raka, dia akan semenah menah terhadap ibu."


"Maafkan ibu, pak. Ibu menyesal, ibu mikirkanya kan Raka anak kita satu satunya."


"Ibu ini gimana sih, walau anak satu satunya tetap saja, ibu harus bisa membuat dia mandiri jangan bergantung dengan ibu."


Bu Sari menangis, biasanya wanita tua itu selalu melawan, tapi tidak dengan sekarang? Ada apa dengan Bu Sari?


Apa dia sudah menyadari kesalahannya sendiri?


Pak Sodikin berusaha menahan amarah, dan rasa kesal yang terus membara pada hatinya. Ia mencoba menahan diri agar tidak memarahi istrinya terus-menerus.


"Coba saja kalau ibu tidak menuruti perkataan anak kita, kemungkinan semua ini tidak akan terjadi. Ajeng akan sembuh dengan sedirinya tanpa harus di libatkan lagi dalam masalah Raka, bapak ini heran sama ibu, bisa bisanya membela anak yang sudah jelas salah."


"Ya habisanya gimana lagi, namanya juga sayang anak, apapun pasti akan dilakukan."


"Pak."


Berteriak memanggil suaminyapun percuma. Ia kini duduk dengan raut wajah sedihnya.


Hingga beberapa menit kemudia, Pak Sodikin keluar dengan baju yang sudah rapi. Ia menatap ke arah istrinya dengan berkata," kenapa ibu malah diam saja?"


Bu Sari merasa heran padahal dari tadi suaminya memarahinya habis-habisan," memangnya kita mau ke mana sih, Pak."


"Bapak mau menjenguk anak kita di dalam penjara, sambil nasehatin dia agar tidak menyusahkan orang tua."


Ibu Sari yang mendengar perkataan suaminya berusaha menolak Pak sodikin agar tidak mengatakan hal seperti itu," jangan bilang seperti itu Pak, apa nanti tanggapan Raka pada ibu, dia pasti ngomongnya bahwa Ibu tak menyayanginya lagi."


lelaki tua itu terus meyakini istrinya agar tidak takut terhadap anaknya sendiri, walau bagaimanapun namanya orang tua, harus tetap dihormati.


"Sudahlah, Bu. Jangan takut, ada bapak ini."

__ADS_1


Bu Sari menarik napas mengeluarkan secara perlahan, ia bangkit dari tempat duduknya untuk mengganti baju.


"Jangan lama?" Teriak sang suami. Bu Sari hanya menganggukkan kepala dengan raut wajah tak bersemangat.


Ia sudah membayangkan jika anaknya akan marah besar, dan tentunya tak akan menganggap Bu Sari sebagai ibunya lagi.


Padahal keinginan Bu Sari saat ini, pergi dari kota kembali lagi ke kampung, untuk menjalani hidup seperti biasa tanpa masalah dan juga tekanan dari Raka.


Ia ingin menjadi wanita tua yang menjalani hidup sederhana dan apa adanya.


Pak Sodikin, yang lama menunggu istrinya tengah mengganti baju. Membuat ia menyusul melihat istrinya itu.


Saat pintu kamar dibuka, betapa kagetnya Pak Sodikin, melihat istrinya tengah berdiri menatap pada cermin kaca dengan memegang baju yang belum ia pakai.


"Bu."


Bu Sari tetap saja terdiam, saat suaminya terus memanggil namanya," Bu."


Pak Sodikin berusaha tetap tenang, ia kini masuk ke dalam kamar untuk memberitahu istrinya agar cepat memakai baju, karena waktu sudah menunjukkan sembilan pagi.


"Bu."


Memengang bahu sang istri dengan berkata lagi, " Bu, mau sampai kapan liatin cermin terus menerus, itu kapan bajunya dipakai terus saja dipegang dari tadi Bapak nungguin Ibu loh."


kedua pipi wanita tua itu memerah ia malu karena dari tadi terus melamun memikirkan Raka," ya maaf Pak Ibu tadi ...."


Pak sodikin memotong pembicaraan istrinya, " sudahlah Bu. Jangan banyak alasan, bapak juga tahu ibu pasti malas ya bertemu Raka, takut jika nanti Raka marahin ibu. Sudahlah bu jangan mikirin itu terus, kan bapak sudah bilang ada bapak ini. kalau Raka ngomong apa-apa juga. Biar nanti bapak yang menjawabnya, ibu tinggal diam saja mendengarkan apa pembicaraan Bapak dan juga Raka."


Bu Sari mulai menyuruh suaminya keluar kamar, untuk mengganti pakaiannya.


Di saat wanita tua itu mengganti pakaiannya, suara ketukan pintu terdengar dari pintu depan rumah.


Tok .... Tok.


Dengan terburu-buru melangkahkan kaki Pak Sodikin melihat siapa yang datang," ya tunggu."

__ADS_1


__ADS_2