Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 214 Lulu dibawa pergi


__ADS_3

Lulu beranjak berdiri, meninggalkan sang pengasuh, terlihat wajah kesal menatap sekilas ke arah pengasuh. Seperti anak yang tengah tertekan, Lulu tak mendengarkan nasehat Lina.


"Lulu, nak. Kamu mau ke mana?" tanya sang pengasuh, beranjak berdiri dan kini mulai mengejar Lulu.


Dalam kekesalan, akhirnya anak itu menangis. Berlari menjauh dari taman sekolah. Lina yang melihat perubahan Lulu, membuat dirinya sangat kuatir.


"Kenapa dengan Lulu?"


Lulu bersembunyi di balik pepohonan, agar sang pengasuh tidak menemukan dirinya.


"Lulu."


Beberapa kali sang pengasuh berteriak memanggil nama Lulu. Anak itu tak juga menjawab panggilan Lina, ia malah sembunyi di balik pepohonan besar yang tak bisa dilihat oleh orang lain di sekitar.


"Ya ampun, Lulu kemana ya."


Kepanikan kini dirasakan sang pengasuh, ia mondar-mandir ke sana kemari mencari keberadaan Lulu yang tak kunjung ketemu.


"Lulu."


Berteriak dan memanggil anak majikanya, Lulu tetap saja tak muncul.


"Lulu, kamu ini kenapa?"


Bertanya pada orang-orang di sekitar sana, tidak ada yang melihat keberadaan Lulu, saat anak itu melintas melewati orang-orang yang tengah mengobrol ataupun berada di daerah sana, dimana mereka tengah berjualan.


Tak ada satupun melihat Lulu sama sekali.


Dengan terpaksa Lina menelepon Anna, " Ayo angkat bu."


Lina nampak tak enak hati, ia terus menatap layar ponsel memanggil panggilan telepon pada majikannya.


"Tak diangkat lagi."


Rasa bingung menerpa Lina, ia berusaha tidak panik dan mencari lagi keberadaan anak itu.


"Lulu."


*********


Di sela, Lina mencari keberadaan Lulu. Anak itu ternyata tengah duduk sembari menangis di balik pohon, ia merasa dirinya sendirian.


Karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari Anna, hatinya kini merasa sepi. Walau pun ada sosok seorang pengasuh, tetap saja bagi Lulu bagi Lulu terasa berbeda.


Lulu menangis terus menerus, hingga di mana Intan yang tengah melintas dengan menaiki taksi melihat anak Anna," itukan Lulu, anak Bu Anna? Mm. Kesempatan emas."

__ADS_1


Intan menyuruh sopir taksi untuk berhenti, di mana ia kini turun menghampiri Lulu yang tengah menangis,


"Lulu."


Lulu membungkukkan wajah, kini menatap ke arah suara yang memanggil namanya. Terlihat Lulu hampir lupa pada wajah Intan.


Dimana Intan membungkukan badan, tersenyum dan bertanya." Lulu, kenapa kok nangis sendirian di sini, mana Kak Lina?"


"Kamu siapa?"


Lulu tak mengenal Intan, padahal Intan pelayan Galih. Kemungkinan karena jarang bertemu di rumah Lulu jadi tak lupa akan wajah Intan.


Gadis manis ber bola mata bulat itu mencuil hidung Lulu, membuat anak manis tersenyum tipis.


"Masa Lulu lupa sama Kak Intan."


Lulu terlihat lucu, saat mengigat seseorang yang ia lupa akan wajahnya. " Coba Lulu, ingat ingat dulu."


"Mm, lupa ya. Lulu pernah kan Kak Intan buat kan sop ayam waktu Lulu sakit."


Intan mencoba membuka memori anak kecil berusia tiga tahun itu tentang dirinya.


Hingga dimana, " oh ya. Lulu ingat, saat mamah sibuk. Kak Intan buatkan sop ayam buat Lulu dan rasanya enak sekali."


Intan mengusap pelan kepala rambut anak kecil itu, ada niat terselubung dalam benaknya. Ketika orang sudah melakukan kejahatan bukanya sadar ia malah semakin menjadi jadi.


"Lulu nangis karena mamah sudah nggak sayang sama Lulu, mama mau punya anak lagi!" balas Lulu terlihat raut wajah kesal ia pancarkan di depan Intan.


Sedangkan Intan nampak terkejut dengan jawaban anak berumur tiga tahun itu, ia baru tahu jika Anna kurang memberi perhatian terlebih lagi Anna kini sedang mengandung anak Galih.


"Kasihan Lulu, ya sudah gimana kalau sekarang Lulu ikut sama kakak," ajak Intan pada Lulu, ia mencubit kecil pipi Lulu. Dengan memperlihatkan kasih sayangnya.


Lulu tampak senang saat diperhatikan seperti itu, "Sini kak Intan peluk."


Kebahagian anak kecil akan tumbuh jika diperlakukan dengan baik, apalagi Lulu yang kurang kasih sayang. Pastinya merasa nyaman dan tenang.


Rasa takut akan hilang dengan sendirinya pada anak kecil seperti Lulu. " Mau ya."


Lulu kini menganggukkan kepala, ia mulai ikut menaiki mobil taksi, terpacar senyum penuh kelicikan pada diri Intan, ia bahagia sudah membuat anak kecil itu mau ikut dengannya.


"Terasa berjalan lancar."


Lulu duduk pada kursi taksi, ia terlihat senang. Sedangkan Intan melihat ke sana ke mari berharap tidak ada orang yang melihatnya membawa Lulu.


"Bagus, aku bisa membawa anak kecil itu ke kampung."

__ADS_1


Lina yang begitu sibuk mencari keberadaan anak asuhnya, merasa ketakutan. Karena dari tadi ia tak menemukan keberadaan Lulu.


"Lulu, kemana kamu?" Air mata menetes perlahan. Membuat Lina begitu panik, hingga ia mengertukan dahi. Melihat dari ujung sana sosok yang ia kenal melirik ke sana kemari dan mulai menaiki taksi.


"Bukanya itu Intan. Apa dia membawa Lulu. "


Rasa penasaran mulai membuat langkah kaki Lina semakin cepat melangkah, hingga ia berlari untuk sampai pada Intan.


"Aku penasaran seperti Lulu dibawa oleh dia."


Intan menyadari jika Lina datang dengan berlari ke arahnya, ia mulai menyuruh sopir untuk menjalankan mesin mobil.


"Jalan pak."


"Baik."


Lulu terlihat tenang, anak polos itu tidak tahu apa apa, yang ia tahu hanya kasih sayang dan juga kenyaman diberikan orang lain.


Intan mencoba bertanya pada Lulu dengan nada lembutnya. " Lulu, jangan takut ya. Kita akan jalan jalan jauh. Biar Lulu nggak sedih lagi."


Mendengar hal itu, Lulu terlihat bergembira ia menjawab dengan nada senang." benarkah. Wah, terima kasih Kak Intan."


Lulu yang polos tersenyum, hingga Intan membalas senyumannya saat itu.


"Kamu bahagia sayang."


"Iya, Lulu bahagia sekali, kak Intan."


"Bagus kalau begitu, kita akan jalan jalan sepuasnya dan beli makanan yang kamu mau. "


"Benaran, kak Intan."


Intan menganggukan kepala menyakini Lulu, sampai anak polos itu begitu percaya.


"Asik, padahal mama dulu nggak gitu sama Lulu, sering membatasi keinginan Lulu. Jarang membeli keinginan Lulu, katanya sayang harus di tabung ini itulah."


Lulu mengerutkan bibirnya, walau nada bicara masih ada yang tak terdengar lancar. Intan tetap memahami anak kecil di sebelahnya.


"Lulu, jangan sedih kan sekarang sama Kak Intan."


"Iya."


Lina tak sanggup berlari, napasnya seakan tak terkendali. Ia tersungkur jatuh, menangis Memanggil nama Lulu.


"Lulu, apa kamu ikut bersama Intan. Kak Lina kuatir sekali jika kamu ikut dengan dia."

__ADS_1


Lina terus menangis, beberapa kali ia menghubungi Anna. Wanita berbulu mata lentik yang kini menjadi istri Galih, tetap saja tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Lina terkadang kesal pada majikannya sendiri, Sesibuk apapun dia tak pernah meluangkan waktu untuk anaknya.


__ADS_2