
"Mama, ita nau ke nana?" tanya anak berumur dua tahun itu, sedikit tak jelas terdengar. Namun bagaimana pun bahasa sang anak, ibu tetap mengerti.
Cika mengusap pelan rambut pendek anak semata wayangnya, perlahan menjelaskan apa yang sudah terjadi, walau anak itu belum mengerti." Sayang, kita mau ke temu papah. Ada masalah sedikit! "
Anak kecil periang itu tertawa senang," hore ita cetemua papah agi."
Raut wajah menampilkan kebahagian, ia belum tahu saja jika sang papah masuk ke dalam penjara, dan jika Afdal mendapatkan hukuman ke dalam sel tahanan, kemungkinan besar anak bernama Khaira itu akan bersedih.
"Mama, kok nangis?" tanya anak mungil dengan raut wajah lugunya. Cika mencubit kedua pipi anak mungil itu dan berkata.
"Mama nggak nangis kok, mama hanya kelilipan saja!" jawab Cika sengaja menyebunyikan kesedihannya, walau sebenarnya hati Cika begitu rapu. Mendengar Afdal ditahan di kantor polisi. Wanita muda yang menikah tiga tahun dengan Afdal berusaha tegar, kini ia mengajak anak satu satunya menaiki taksi.
Padahal baru saja mendengar kata bahagia untuk berangkat bekerja, sekarang. Mendengar kata tak menyenangkan jika Afdal masuk ke dalam penjara. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan suaminya.
Pakaian yang selalu menutupi lekuk tubuh dan hijab menutupi rambut dan leher, kini Cika mulai menghentikan mobil taksi.
Khaira masih dalam kebingungan, hanya diam dan duduk sembari melihat pemandangan.
Hanya menempuh jarak setengah jam untuk sampai ke kantor polisi, " Khaira, nanti jangan rewel ya di sana. Kalau bertemu dengan papah" Cika berusaha menasehati anaknya.
Karena Khaira jika bertemu dengan Afdal selalu manja dan menangis, lelaki berperwakan kekar dengan kulit sawo matangnya itu selalu memberikan kenyamanan untuk anaknya, apapun yang Cika inginkan selalu di turuti, apalagi Khaira.
Afdal seperti suami dan ayah sempurna, bagi Cika dan juga Khaira, nyaris seperti tak ada kekurangan sedikit pun. Selalu memahami sang istri, dan bersabar akan segala masalah dan keributan yang terjadi.
Namun kenapa sampai Cika mendengar kabar Afdal ada di kantor polisi karena satu masalah, apa yang sebenarnya dilakukan Afdal. Pikiran Cika terus melayang layang, mencoba memikirkan kekurangan suaminya.
Khaira mendekat, menyandar pada bahu sang ibunda," apa cecuatu celukai tati mama, ampai mama nagis." Ucapan Khaira walau sedikit terdengar kurang pasih, tapi tetap saja membuat sang ibunda tersenyum senang.
Dalam kesedihan ada buah hati yang mengobati luka, mengusap pelan kepala dan mengecup kening Khiara membuat anak itu terlihat tenang.
Setelah sampai di kantor polisi, Cika berjalan sembari menuntun Khaira agar tak lepas dari pengawasan matanya.
__ADS_1
"Khira, kamu ingat kan pesan mama?" Tanya Cika, dimana anak berumur dua tahun itu menganggukkan kepala, tanda ia mengerti.
Masuk ke dalam kantor polisi, terlihat. Kedua sepasang sedang di introgasi. Di beri pertanyaan seperti akan berlanjut di ruang pengadilan.
"Mas Afdal."
Lelaki bekulit sawo matang menatap orang yang memanggil dirinya, kedua mata tampak berkaca kaca.
Afdal dengan tangannya yang di borgol membuat ia tak bisa memeluk sang istri.
"Pah, apa yang sudah kamu lakukan sampai tangan kamu di borgol seperti ini?" pertanyaan Cika membuat Afdal menundukkan wajah, terlihat raut wajah penyesalan terlintas dari sudut mata seorang suami.
Dari tempat duduk ada dua pasang mata menatap penuh kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Remuk dan hancur hati seorang wanita bernama Marimar, air mata mulai keluar terus menerus mengenai pipi.
Marimar sengaja diam, mendengarkan obrolan kebahagian mereka, dimana semua seakan tak adil.
Marimar merelakan anak anaknya di jual, demi bisa menghidupi kebutuhan dan keinginannya sang suami. Tapi apa balasan dari Afdal malah menyedihkan, ia seperti seorang wanita yang bodoh.
Menatap dirinya, bercermin diri. Memang wanita yang menjadi istri kedua Afdal terlihat begitu sholehah, tentulah membuat Marimar malu.
Marimar meminta izin kepada polisi untuk mendekat suami dan juga istri kedua suaminya, tentulah polisi memberi kesempatan untuk Marimar mengobrol dengan mereka berdua.
"Mas Afdal?"
Wanita dengan baju kurang bahan itu berdiri, di hadapan kedua insan yang baru ia tahu sudah menikah dan memiliki anak kecil.
Afdal menatap ke arah Marimar dengan penuh kebencian, sampai di mana jika bertanya kepada wanita itu," kamu siapa?"
Marimar tersenyum kecil saat istri kedua suaminya bertanya," kenapa kamu malah bertanya kepadaku? Tanya saja pada suamimu itu, aku ini siapa?"
Cika hampir berpikiran negatif, dia menatap ke arah Afdal dengan raut wajah sudah basah oleh air mata." Siapa dia, pah? Apa dia selingkuhanmu, sampai kamu berada di kantor polisi ini?"
__ADS_1
Kesalah pahaman mulai terjadi, Cika menganggap suaminya itu telah selingkuh. Padahal wanita yang memakai baju seksi itu adalah istri pertamanya.
"Kamu jangan salah paham dulu, aku tidak pernah selingkuh!" jawab Afdal, berharap jika istri keduanya tidak salah paham lagi.
"Terus dia siapa?Ayo katakan pah, dia siapa?" tanya Cika dengan raut wajah basah penuh air mata.
"Dia .... " Terlihat Afdal begitu ragu mengungkapkan kebenaran siapa wanita yang berada di sebalahnya itu.
Marimar, melipatkan kedua tangan dengan berkata," saya istrinya."
Cika membulatkan kedua mata, mulutnya mengalah tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita bertubuh ramping dengan Pakaian seksinya.
"Apa benar itu, pah?" tanya Kembali Cika kepada sang suami.
Keraguan dan rasa takut mengelilingi hati dan pikiran Afdal. Ia memegang kedua tangan sang istri. Berusaha menjelaskan agar Cika tak marah.
"Pah, dia istri kedua kamu?"
Pertanyaan Cika membuat Marimar kesal hingga bibirnya merasa gatal, ingin mengungkapkan semuanya.
Khaira anak mungil itu, masih tak mengerti ketika melihat sang ibunda menangis, dia hanya memegang baju dan terdiam sesekali menatap Marimar.
"Kamu tenang dulu ya, aku akan jelaskan," ucap Afdal dengan harapan jika Cika tak menangis lagi.
Marimar bertambah kesal, pada akhirnya ia memberanikan diri menimpa perkataan suaminya dan menjawab pertanyaan Cika.
"Asal kamu tahu, aku ini istri pertama Mas Afdal, istri kedua itu adalah kamu. Kamu yang sudah merebut kebahagiaanku dengan suamiku. "
Cika mendengar apa yang dikatakan Marimar, membuat keningnya mengkerut, ya menatap ke arah Afdal." Bukannya kamu bilang kepadaku bahwa istri pertamamu itu sudah meninggal, kenapa sekarang .... "
Marimar memotong pembicaraan wanita yang menjadi istri kedua suaminya," maksud kamu? suami saya menikahi kamu dengan berbohong, jika dia duda di tinggal mati begitu."
__ADS_1
Marimar langsung mengatakan pada intinya, ia tak mau berbelit-belit dan membuat perdebatan di kantor polisi, dimana polisi pastinya akan murka dan membubarkan obrolan mereka bertiga.