
Di ruangan panas penuh asap, tentulah membuat Nita tak sanggup bertahan, ia kini jatuh pingsan. "Nita. Bagun."
Cahaya putih menyilaukan, entah ke mana hebusan api panas yang hampir membakar tubuh Nita, " Nita. "
Sosok wanita cantik berkulit putih datang menghampri, dia berkata." Kamu rindu dengan mama?"
Mengusap kedua mata dengan punggung tangan, " Mimpikah?"
"Nita, pulang ayo. Biar kita hidup bersama sama di sini. Diluar sana banyak sekali orang yang membenci kamu!"
Nita meraih tangan putih sang ibunda, mengenggam erat, ikut pergi dengan sang ibunda. Namun di pertengahan jalan ada sosok lelaki berbadan kekar, wajahnya penuh dengan debu dan berkata." Nita jangan pergi."
Kedua mata lelaki itu berkaca kaca, seakan tak mau kehilangan sang kekasih, Nita masih memegang tangan sang ibunda, menatap sekilas.
"Apa boleh aku bertemu dengannya."
"Tentu sayang."
Nita berjalan menghampiri sang kekasih hati, memegang perlahan pipi Saiful dan tersenyum lebar.
"Kenapa menangis."
Tangan kekar, memegang pipi sang kekasih. Berharap untuk tetap bersama." Jangan pergi? Kita akan menikah."
"Tapi, aku ingin ikut dengan ibuku!"
Siaful berusaha menahan dengan isak tangis yang berderai, " jika kamu ikut dengan ibumu, aku akan kesepian. "
"Kesepian bagaimana? Kan ada ibu kamu yang sangat menyayangimu."
"Tetap tanpa kamu aku tak bisa hidup!"
Sosok seorang ibu memanggil nama anaknya," Nita, ayo sayang."
Panggilan itu membuat Nita melepaskan tangan Saiful yang memegan pipinya, " tolong, jangan pergi."
"Maafkan aku Saiful."
Nita perlahan bangkit, untuk menghampiri sang ibunda yang sudah menunggu dari tadi.
__ADS_1
"Maafkan aku."
Nita tak sanggup melihat sang kekasih hati, terlihat bersedih, ia ingin melihat Saiful bahagia dengan wanita lain, karena jika dengan dirinya. Kemungkinan besar hidup Saiful akan terusik.
Banyak sekali orang orang yang membenci Nita, hanya karena sang ibu di cap sebagai penipu.
"Nita, jangan pergi. "
Brakkkk ....
Suara kayu hampir saja mengenai punggung Saiful, dimana lelaki berfopesi sebagai guru itu menemukan sang pujaan hati.
"Nita."
Kaki serta punggung Nita terkena reruntuhan kayu, membut Saiful yang melihatnya tak tega.
"Nita, bangun."
Sekuat tenaga, berusaha menyelamatkan sang kekasih hati, " Nita bertahan lah."
Nita tak bersuara sedikit pun," Nita, sayang."
Ada percikan api mengenai tangan dan kaki, Saiful. Tapi Saiful tetap memaksakan diri, rumah Nita terbilang cukup besar, hingga reruntuhan itu menbuat kayu saling berhamburan kemana mana.
Suara mobil pemandam api kini terdengar, Bu Nira merasa tenang, jika sang pemadam telah datang.
"Nita, Saiful."
Air mengguyur rumah Nita, dimana perlahan demi perlahan api mulai padam.
Para warga berbodong bodong, saling menyelamatkan rumah Nita, tidak dengan para ibu ibu, mereka sibuk bergosip.
Bu Nira sudah terlanjur kesal, sengaja memvideo aksi cuek mereka. Berharap jika video tersebar, mereka akan sadar, " Rasakan ini, di kasihani malah seenak enaknya."
Bu Suci mulai sadar dari pingsannya, ia melihat para warga berkumpul saling bergotong royong untuk menyelamatkan Nita.
"Banyak warga, ini kesempatan untuk kabur."
Saat Bu Suci bangun, dan bergegas untuk berlari, Galih yang memang memperhatikan wanita tua itu berdiri. Dihadapanya," mau ke mana, Bu Suci?"
__ADS_1
"Eh, Pak Gal-lih. Mau pu-lang."
Galih menghentikan langkah Bu Suci agar tidak pergi ke mana mana, "Mau kabur?"
"Oh itu, tidak kok!"
Jawab Bu Suci, Galih sudah sigap memanggil pemadam kebakaran dan juga polisi, karena ini adalah kasus pembunuhan." Tangkap wanita tua ini pak, karena dia rumah yang kami singgahi terbakar."
Sebelum Galih memukul Bu Suci, untuk menjadi barang buktinya ia sempat berpikir memotret wanita tua itu, dimana posisi Bu Suci tengah menuangkan minyak tanah ke pinggir rumah Nita.
"Kamu jangan asal menuduhku," pekik wanita tua itu. " Jika memang aku yang bersalah, mana buktinya cepat tunjukkan."
Galih tak segan-segan memperlihatkan sebuah foto, yang menunjukkan Bu Suci sebagai tersangka atas kebakaran terjadi di rumah Nita.
"Ini buktinya,
Kedua mata wanita tua itu membulat, tak percaya jika Galih benar benar pintar, sudah merekamnya terlebih dahulu.
" Jadi anda mengira saya ini apa? Seorang laki laki biasa, perkenalkan saya seorang pengacara!"
Balasan Galih, tentulah membuat Bu Suci menundukkan wajah. Ia kini sedang berhadapan dengan seorang laki-laki yang bisa saja membuat dirinya membekam di penjara seumur hidup.
Para ibu ibu kampung, terlihat ingin tahu apa yang dibicarakan polisi dan juga Bu suci, mereka kini mendekat hanya untuk mendengarkan percakapan serius di antara mereka bertiga.
"Pak Galih anda itu tidak punya hak mengatur keluarga saya, anda itu hanya orang luar yang numpang hidup di rumah keponakan saya." Cecar Bu Suci terlihat ia tak menyadari kesalahannya sendiri ingin selalu benar dalam setiap hal.
Polisi langsung mengamankan Bu Suci dengan memborogol kedua tangannya, karena tiba-tiba saja wanita tua itu memberontak dan ingin kabur dari hadapan Galih dan polisi.
"Lepaskan saya, saya tidak mau masuk ke dalam penjara, kalian ini harus tahu ya, saya ini tidak salah. Saya melakukan semua ini atas dasar kebenaran."
Galih hanya menggelengkan kepala, tak mengerti dengan wanita tua itu, tega menghilangkan nyawa seorang keponakannya sendiri.
Entah di mana hati nurani Bu suci dan rasa kasihan terhadap anak yatim piatu seperti Nita, anak yang sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.
"Lepaskan saya, seharusnya bukan saya yang ditangkap. Tapi anak pembawa sial itu, cepat lepaskan saya." Bu Suci seperti orang gila yang terus meronta-ronta, menyalahkan Nita terus-menerus, tanpa menyadari dirinya yang sudah begitu jahat terhadap keluarga Nita.
Galih begitu kesal dengan suci, sampai akhirnya ia menyuruh pak polisi untuk segera membawanya ke kantor polisi dan langsung memenjarakan wanita tua itu.
Para ibu-ibu seperti biasa, saling berbisik satu sama lain membicarakan Bu Suci, Galih yang melihat pemandangan para ibu-ibu saling bergosip di tengah kesedihan yang melanda Nita, kini berkata. " Apa kalian juga Ingin menyusul wanita tua itu ke dalam penjara."
__ADS_1
Para ibu-ibu langsung menggelengkan kepala, melangkahkan kaki ke arah belakang, terlihat mereka ketakutan ketika ancaman keluar dari mulut Galih," Kenapa kalian malah menghindar dan pergi menjauh seperti itu. Apa kalian takut, kalian harus tahu ya, aku tidak akan segan-segan membuat orang yang membuat suatu tindakan kriminal, berkeliaran begitu saja. Dan bisa hidup tenang. Oh ya untuk ibu ibu di sini, seperti yang kalian lihat, Bu suci kini dijebloskan di dalam penjara karena ulahnya sendiri, begitupun dengan kalian. Jika kalian ingin melakukan kejahatan seperti Bu Suci, aku tak segan-segan mamasukkan kalian langsung ke dalam penjara seumur hidup ingat itu. "