Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 201


__ADS_3

Anna berlari mengejar anaknya, ia memegang tangan Radit, di mana tubuhnya terasa lemas. Rasa tak nyaman pada lambung masih terasa.


Ingin rasanya Anna berlari memuntahkan kembali isi perutnya.


Namun karena melihat Radit berlarian, membuat ia mengejar anak keduanya. Menahan rasa tak nyaman pada dirinya sendiri. " Radit, kenapa kamu malah berlarian nak, ada apa?"


Anna bertanya kepada anak keduanya, dia melihat raut wajah Radit seperti menaruh kebencian.


Kedua mata anak berumur belasan tahun itu menatap ke arah perut sang ibunda, memang dari dulu Radit tak pernah menyetujui pernikahan ibunya dengan Galih.


Tatapan tajam menusuk perasaan Anna," kamu kenapa sayang?" Anna berusaha bertanya kembali, berharap jika Radit menjawab pertanyaannya walau hanya satu patah kata.


"Kalau mama ngomong itu jawab, sayang?"


Radit, membuang wajah di hadapan ibunya sendiri. Ia berusaha melepaskan pegangan tangan dari Anna.


Dimana wanita berbulu mata lentik itu berusaha mencengkram tangan anaknya agar tidak pergi." mama belum dengar jawaban kamu, coba kamu jawab. Kamu ini kenapa, raut wajah kamu menanam kebencian."


Anna sudah menduga apa yang dirasakan anaknya sendiri, jika ada rasa iri dalam hati Radit. Ketika mendengar Anna tengah mengandung.


"Lepaskan tangan Radit." Bentak anak kedua Anna, karena sang Ibunda yang tak mau melepaskan tangan Radit, membuat anak itu menggigit tangan ibunya sendiri.


Anna meringis kesakitan dan kini melepaskan tangan anaknya sendiri," Radit."


Teriakan Anna diabaikan oleh anaknya sendiri, Radit pelarian begitu kencang meninggalkan ibunya yang terus memanggil namanya.


Radit sudah tak perduli lagi dengan ocehan sang ibunda, karena kini hatinya direnungi dengan rasa iri, Radit dan Lulu tidak mau kasih sayangnya terbagi, apalagi Ana jarang memperhatikan mereka berdua, semenjak bisnis yang semakin hari semakin menjulang tinggi.


Galih mencoba menghampiri istrinya, iya memegang tangan yang terlihat memerah." kenapa Radit mengigitmu. Sayang?" tanya Galih, melihat tangan Anna ada bekas gigitan dari Radit.

__ADS_1


"Entahlah mas, aku juga tidak tahu kenapa anak itu menjadi seperti itu. Dia begitu cepat berubah, dan menjadi seorang pemarah!" jawab Anna, meringis kesakitan menahan bekas gigitan dari anaknya sendiri.


Galih mulai merangkul bahu istrinya, menenangkan mental dan juga pikiran Anna, berharap jika Anna tidak Sok dengan perubahan anak-anak yang semakin hari semakin tak bisa diatur.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu."


Anna mengganggukan kepala saat suaminya menyuruh sang istri untuk beristirahat.


Wanita berbulu mata lentik kini merupakan tubuhnya, ia memikirkan Radit. Air matanya kini keluar mengalir menuju ke dasar Pipi.


Anna memegang dada, terasa sesak, melihat perubahan anaknya yang membuat ia sedikit sakit hati. " Ada apa dengan kamu Radit." Gumam hati Anna.


Memang tidak mudah seorang ibu mendekatkan anak kandungnya terhadap orang lain, apalagi dia adalah Galih lelaki yang menjadi suami Anna, padahal Galih sudah berusaha mendekati Radit dan juga Lulu, tapi mereka berdua tetap saja selalu memikirkan Raka yang kini membekam di dalam penjara.


Galih mengusap pelan kepala rambut sang istri, ia bertanya penuh dengan rasa kasih sayang," sudah jangan terlalu memikirkan Radit, namanya juga anak-anak kadang moodnya berubah-rubah. Jadi kamu jangan heran."


Apa yang dikatakan Galih memang ada benarnya, tapi Anna tetap saja merasakan ketidaknyamanan saat anak-anaknya merasa jauh dari dirinya.


Mendengar hal itu, membuat Anna sedikit lega. Ia mencoba menutup kedua matanya untuk segera beristirahat, karena memang tubuhnya begitu terasa lemas membuat ia tak bisa beraktivitas seperti biasa.


Galih menunggu sang istri hingga tertidur, hingga satu kesempatan Iya manfaatkan untuk menelepon anaknya Farhan. Galih mencoba menjauh dari hadapan sang istri yang tengah tertidur.


Setelah menemukan situasi yang cukup lumayan aman, pada akhirnya Galih mulai menelpon Farhan, dimana anak remaja itu, berada di rumah sakit menunggu ibu kandungnya dirawat.


Galih berharap jika Farhan langsung mengangkat panggilan telepon darinya, ya sudah tak sabar ingin menanyakan kejadian yang terjadi tadi malam pada Ainun.


Drett ....


Akhirnya panggilan telepon pun terhubung, Di mana para langsung mengangkat panggilan telepon dari ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Halo, Farhan kamu ada di mana?" pertanyaan Galih kini mencoba Farhan jawab dengan nada sedikit terdengar pelan, ia melihat ibunya sudah tertidur pulas.


Maka dari itu Farhan mencoba meninggalkan ibunya sementara waktu hanya untuk mengangkat panggilan telepon dari ayahnya.


"Halo pah, ada apa? "


Mendengar suara Farhan tentu membuat Galih senang.


"Farhan, kamu masih ada di rumah sakit kan menemani Ibu Ainun di sana?" tanya Galih, terdengar begitu cemas dengan keadaan Mantan istrinya itu.


"Ya Farhan masih menjaga Ibu menemani Ibu di rumah sakit, jadi Papa jangan kuatir. Ibu Ainun pasti aman dengan Farhan, Papanya fokus aja dengan mamah Anna!"


Jawaban yang membuat Galih bernafas lega. begitu pintarnya anak semata wayangnya, bertanggung jawab menemani sang ibu berada di rumah sakit.


Galih yang masih mengobrol dengan Farhan, sesekali melirik ke arah istrinya yang tengah tertidur pulas di atas ranjang tempat tidur, lelaki berbadan kekar itu tidak mau jika istrinya semakin cemas setelah mendengar bahwa Ainun sampai dirawat di rumah sakit karena kejadian semalam.


"Oh ya, pah. Tadi Farhan lihat ibu Ainun begitu sedih karena Papa tidak datang ke sini, sepertinya ada yang ingin ibunda Ainun katakan pada papa, hanya saja saat Farhan tanya ibu Ainun malah diam dan mengalihkan pembicaraan, agar Farhan tidak menanyakan hal yang pernah dilamuninya oleh ibu Ainun."


Mendengar hal seperti itu, membuat Galih merasa cemas, ia penasaran apa yang akan diceritakan mantan istrinya setelah kejadian semalam. Karena sampai sekarang kasus yang dialami sahabatnya itu belum selesai juga entah kenapa banyak kendala yang meliputi Ainun.


"Mas Galih."


Galih mulai menyuruh anak semata wayangnya itu untuk segera datang ke hadapan Ainun. Galih berpesan dengan nada yang begitu mengkhawatirkan keadaan Ainun.


"Ya sudah, papah masih ada urusan untuk mengurus ibu kamu di sini, jadi kamu harus jaga baik-baik ibunda Ain un jangan sampai ia stress dan memikirkan kejadian semalam, sebisa mungkin Farhan harus membujuknya ke hal-hal yang lain agar ingatannya itu tidak membuat rasa trauma pada diri Ainun."


Mendengar amanat dan rasa cemas dari mulut sang ayah, tentu saja akan dilakukan Farhan untuk ibunya kandungnya sendiri .


"Iya pah, Farhan Mengerti dengan apa yang dikatakan papah."

__ADS_1


"Bagus kalau kamu memang mengerti Farhan, memangnya di saat kondisi seperti ini kamu masih bisa bertanggung jawab dan mampu menjaga ibu kandung kamu sendiri, Papa berharap kamu akan selalu menyayangi ibu kamu sendiri."


__ADS_2