Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 258


__ADS_3

"Bisa bisanya di jam segini ada orang yang ngirim paket, isinya apa ya?"


Bu Suci mulai membuka perlahan isi paket itu, saat ia membuka.


"Apaan ini. "


Melemparkan begitu saja, isi paket itu sebuah daging berlumuran darah. Bu Suci seperti mendapatkan teror bertubi tubi dari malam sampai pagi buta.


Napas tak beraturan kesal bercampur rasa takut, wanita tua itu, berusaha mengambil daging berlumuran darah itu, dan perlahan membuang pada sampah depan rumah.


Tetangga yang melewati rumah Bu Suci, tanpak heran. Apalagi saat melihat gelagat Bu Suci sangatlah berbeda, ia menghampiri wanita tua itu dan kini bertanya." Bu Suci, ngapain?"


Sontak pertanyaan itu bukan dijawab dengan baik, Bu Suci malah membentak orang yang bertanya padanya," Banyak nanya, sana pergi."


Entah karena repleks terkejut atau memang ketakutan karena ia membuang daging yang entah ia tak tahu daging apa itu, Bu Suci kembali pergi masuk ke dalam rumahnya.


Bu Ita sahabat gosip Bu Suci, tanpak heran dengan perubahan dari wanita tua itu, padahal jelas jelas mereka selalu bersama, tapi saat Bu Ita melewati rumahnya. Bukan jawaban ramah yang ia dengar malah bentakan.


"Ada apa dengan Bu Suci, aneh. Padahal aku sengaja melewati rumahnya, ingin mendengar tentang berita kemarin, waktu dirinya di rumah sakit. Lah ini?"


Bu Ita merasa tak dianggap oleh sahabatnya yang langsung masuk ke rumah begitu saja, terburu buru pergi untuk memberi tahu sahabat yang lainnya, karena melihat perubahan tak wajar dari diri Bu Suci.


"Sepertinya aku akan memberi tahu orang lain tetang Bu Suci."


Kurir itu kini di beri uang saku, lembaran merah. Dari tangan Bu Nira, " Nih, kerja kamu bagus, gitu dong. Oh ya, masih ada kerjaan lagi ya, nanti aku kirim lewat pesan. "


Kurik tersenyum dan menganggukkan kepala, setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Bu Nira, ia terima perintah apapun. Yang terpenting berduit.


"Bagus, sana kamu pergi. Seperti biasa saja, anggap kita kenal hanya saat kamu mengirim paket kepada saya," ucap Bu Nira, wanita tua itu tak segan segan akan memberi pelajaran. Pada Bu Suci, wanita bermulut pedas dan suka memfitnah.

__ADS_1


Jika tidak bertindak dan mencari keadilan siapa lagi, setelah kurir itu pergi. Tiba Bu Ita datang melewati rumah Bu Nira, " Bu Nira, Bu Nira. "


Wanita yang menjadi ibunda Saiful itu melirik ke arah Bu Ita yang memanggilnya. "Gawat, apa dia tadi dengar tidak ya percakapanku dengan kurir." Gumam hati Bu Nira.


"Eh, Bu Ita, apa kabar. Tumben lewat ke sini?" tanya Bu Nira, melihat wanita berumur empat puluh tahun yang tak jauh berbeda dengan umurnya.


Bu Ita adalah sosok sahabat paling dekat dengan Bu Suci, mereka tak pernah absen jika mengosipi semua orang.


"Ya, kebetulan aja lewat ke sini. Soalnya ada sesuatu yang saya ingin omongin."


Melipatkan kedua tangan, Bu Nira sudah menduga jika Bu Ita pastinya tak akan jauh bergosip dan membicarakan orang lain.


"Mulai lagi ini orang." Gerutu Bu Nira malas meladeni Bu Ita, sahabat sejati Bu Suci.


Melambai di depan Bu Nira dan menjelekan sahabat sejatinya, " Bu Nira tahu tidak, si Bu Suci. Tadi kaya orang gila ketakutan gitu, masa saya lewat di bentak bentak, kan udah kaya orang gila itu. Benar nggak?"


Bu Nira mendelik mata ke arah wanita berumur empat puluh tahun itu, melipatkan kedua tangan mengelengkan kepala, masih pada posisi yang sama.


"Kenapa? Kok bisa begitu ya?" tanya balik Bu Nira berpura pura tak tahu menahu, tentang perubahan Bu Suci. Walau sebenarnya ia tahu, semua ulah dirinya sendiri, Bu Nira mulai melayangkan aksinya kembali, agar semuanya semakin seru.


"Entahlah, semenjak pulang dari kantor polisi. Tingkah Bu Suci benar benar aneh sekali, apa ada sesuatu dengannya, atau ....! "


Bu Ita menghentikan ucapanya, sampai Bu Nira penasaran. " Atau apa?"


"Dia punya gangguan jiwa, karena stres menghadapi si Nita yang banyak masalah itu!" jawab Bu Ita tetap menyalahkan Nita, yang memang tak punya salah sedikit pun mengusik semua orang tak pernah.


"Dasar si tukang fitnah, bisa bisanya. Berkata seperti itu." Gerutu Bu Nira, tak rela jika Nita di fitnah terus menerus, sekarang mencari cara bagaimana membuat semua fitanahan itu berbalik ke pada Bu Suci.


"Hem, masa sih. Saya lihat kemarin si Nita itu di sanjung loh sama polisi, dan kedua orang tua si anak yang hilang itu, menginap di rumah Nita. Masa ia bikin masalah tapi hidup si Nita baik baik saja, terus dia tak pernah loh julid sama kita," balas Bu Nira, membuat kedua pipi Bu Ita memerah seperti malu.

__ADS_1


Bu Nira mendekat kembali ke arah Bu Ita, dengan membisikan sesuatu. " Eh Bu Ita tahu tidak, aku dengar polisi membahas tentang kasus kematian Bu Siti loh adiknya."


Terlihat Bu Ita menelan ludahnya, merasakan rasa takut yang luar biasa pada hatinya." Euhh,"


Wanita berumur empat puluh tahun itu malah, memperlihatkan raut wajah yang sudah tak nyaman saat semakin dekat dengan Bu Nira.


"Bu Ita tahu tidak, bahwa Bu Suci kenapa kaya orang gila. Katanya polisi menduga kalau kasus kematian Bu Siti ada kaitannya dengan dia, oh ya. Ada lagi? Polisi ingin melacak semua pelaku, " bisik pelan Bu Nira.


Deg ....


Deg ....


Deg ...


Jantung berdetak tak karuan, seakan mendapatkan hal sangat menakutkan.


"Masa sih Bu Nira, mana mungkin Bu Suci melakukan hal semacam itu, Bu Nira tahu sendiri kan kalau Bu suci itu begitu baik terhadap Nita."


Gelagat Bu Ita semakin mencurigakan. Wanita berumur empat puluh tahun itu, mengusap belakang bahunya.


Bu Ita tak enak hati, Iya tak mau berlama-lama lagi mengobrol dengan Bu Nira, karena semakin mengobrol dalam ibunda Saiful itu, semakin memojokkan Bu Ita untuk berkata jujur.


"Oh ya, saya lupa Bu Nira, tadi anak saya nangis katanya mau makan. Kebetulan saya mau masak dulu buat anak saya. " balas Bu Ita, sudah resah ingin segera pergi.


"Oh, ya. Anak siapa, bukannya Bu Ita tinggal sendirian?"


Pertanyaan Bu Nira membuat Bu Ita semakin, salah tingkah dan bingung untuk menjawabnya.


"Itu anak tetangga, di titipkan ke saya, jadi. Aduh udah dulu ya takut dia nangis. "Bu Ita berlari, dengan melabaikan tangan.

__ADS_1


" Mm sudah aku duga, ada dalang. Dari semua ini, sepertinya Bu Ita harus aku selidiki. " Gumam hati Bu Nira.


__ADS_2