
"Saiful." Teriakan wanita tua tak di anggap oleh anaknya sendiri, Saiful pergi melaju kencang motornya, Nita menatap ke arah Bu Nira. Wanita tua itu terlihat berpura pura menangis, sengaja meneriaki sang anak.
"Jadi Bu Nira itu tidak berpihak pada ibu ibu di kampung?" Di dalam perjalanan, Nita bertanya tanya pada hatinya. Masih ada rasa tak menyangka, dalam dirinya.
"kenapa diam saja?" tanya Saiful, melajukkan motor meticnya menuju ke rumah Marimar.
Nita mencoba membenarkan kerudungnya dan menjawab." Ibu kamu berbeda dari biasanya!'
"Berbeda, ya. Jelas, ibu berbeda karena dia sebenarnya hanya berpura pura sekompak dengan ibu ibu di kampung, padahal sebenarnya ibu itu kesal dan tak suka dengan mereka," ucap Saiful. Melirik ke arah kaca sepion untuk melihat wajah cantik Nita.
"Cantik." Gumam hati Saiful. Tersenyum memandangi wajah Nita terus menerus hingga.
"Saiful, awas .... "
Nita berteriak membuat Saiful menatap ke arah depan jalanan, untuk saja dengan sigap lelaki bertubuh kekar itu bisa mengerem motor dengan sigap.
"kamu ini kenapa. Malah melamun?" tanya Nita, mengusap pelan dadanya. Merasa syok dengan apa yang sudah terjadi.
"Aku nggak melamun, cuman liatin kamu!" jawab Saiful malah membuat Nita tersenyum kecil.
"Lah gimana sih."
Di situasi gawat darurat masih saja, mereka saling melempar senyum." Aa, ayo cepat. Kita harus ke rumah Nyonya Marimar cepat cepat."
"Astaga, Aa sampai lupa. Neng."
Saiful melajukkan motornya dengan kecepatan tinggi, untuk segera sampai di rumah Marimar.
Semoga Lulu masih ada di rumah itu, ia tak di bawa ke mana mana lagi, perasaan Nita kini sudah tak karuan. Hati dan pikirannya sudah di rendungi kegelisahan.
Menarik napas, mengeluarkan secara perlahan, Nita merasa ketakutan. " semoga saja Intan belum menjual Lulu."
********
Sedangkan di dalam perjalanan menuju ke rumah Nita, Galih berusaha menghubungi Nita, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Gogel map yang mereka tempuh, tak menunjukkan rumah Nita, tiba tiba saja eror.
"kenapa, mas?" tanya Anna, ikut serta ke kampung halaman Nita.
__ADS_1
"Entahlah, tiba tiba jaringan dan sinyalnya eror begini! Mana gadis itu tak menganggkat panggilan telepon, " balas Galih, mengedarai mobil menatap layar ponselnya.
"Mungkin dia lagi sibuk, mudah mudahan saja Lulu tidak kenapa kenapa," ucap Anna, menyimpan doa di setiap perjalanan menuju ke kampung halaman Nita.
Berharap jika, Lulu baik baik saja, karena pikiran Anna kini nampak gelisah. Seperti mempunyai pirasat tak baik.
"Semoga kamu baik baik saja, nak."
Galih berusaha menganti jaringan kartunya, karena sinyal tak nampak pada layar ponsel. Setelah menganti kartu dalam pengaturan ponsel, pada akhinya sinyalnya bagus seperti semula." Akhinya."
Galih bernapas lega, Gogel map kembali jalan seperti sedia kala. Sedangkan Anna sudah tak sabar ingin segera sampai.
"Mudah mudahan saja, saat kita sampai, Nita sudah mengamankan Lulu dari Intan."
"Iya mas, aku juga berharap begitu."
**********
Di Rumah Marimar.
Akhirnya Lulu menuruti keinginan Intan, ia duduk dan tertarik, walau ada rasa terpaksa sedikit.
Intan sengaja membohongi Lulu dengan berpura pura jika Nita yang menyuruh Lulu tinggal di rumah Marimar.
Lulu masih memperlihatkan rasa tak yakin, sampai ia bertanya kembali.
Memegang erat tangan anak kecil itu, memperlihatkan kelembutan dan mengusap pelan rambutnya. " Kenapa Lulu tak percaya pada kakak, kalau memang Lulu masih tak percaya. Ya sudah, Intan mau nunjukkin sesuatu pada kamu."
Demi melayangkan aksinya, Intan sudah bersiap mengedit suara Nita, berharap jika Lulu yang polos itu menyadari jika memang Nita tak suka padanya.
Hanya memanfaatkan kedua orang tuanya," Gimana Lulu sudah percaya pada Kak Intan?"
Anak berumur tiga tahun itu menundukkan kepala, ia tak menduga jika hidupnya tak dibutuhkan orang. Hanya manis di depanya saja, sedangkan dibelakang menjelek jelekan Lulu.
"Yes, sepertinya anak itu sudah mau bersama Nyonya Marimar, kesempatan emas untukku. Agar bisa mendapatkan uang dalam koper itu." ucap Intan dalam hatinya, kedua mata masih mengarah pada koper hitam, yang berisikan uang cukup lumayan besar.
"Bagaimana Lulu, apa kamu mau ikut dengan Nyonya Marimar."
Wanita bertubuh raping dan seksi itu tersenyum ke arah Lulu, dimana Lulu menganggukkan kepala.
__ADS_1
Intan bersorak hore dengan kemenangannya, ia bahagia dan senang, akan mendapatkan uang dengan nominal cukup lumayan besar.
Marimar mengeser koper berwarna hitam itu, kehadapan Intan, seraya berkata." Dalam koper itu ada uang senilai seratus juta, aku tambahkan lagi lima puluh juta untuk kamu, karena kamu membawa barang cantik dan juga Indah."
Meraih koper hitam itu, Intan melihat isinya. Mengejutkan sekali, ia memegang uang gepokan yang begitu banyak. Tertawa riang dan berkata." Akhirnya aku kaya."
Marimar, melabaikan tangan, menyuruh Lulu untuk mendekat ke arahnya." Lulu, sini."
Lulu menurut kini ia ada di bawah kendali Marimar, sedangkan Intan terburu buru. Berpamitan pada Marimar.
"Nyonya, saya mau pulang dulu. Terima kasih."
"Baiklah."
Intan pulang dengan kebahagian, Samsul menatap ke arah gadis itu dan berkata." Kamu tega ya. Buat anak kecil itu jatuh ke tangan Nyonya Marimar."
"Apa urusan kamu, kamu ini tidak punya hak mengurus urusanku. Jadi minggir, aku mau pulang."
Samsul memegang tangan Intan dan berkata. " kamu .... "
Belum perkataan Samsul terlontar semuanya, Marimar datang mengandeng Lulu, entah kenapa yang dipanggil adalah Samsul, biasanya orang lain.
Intan menyingkirkan tangan Samsul yang memegang tangannya dan terburu buru pergi, membawa koper berwarna hitam itu.
"Iya nyonya, ada apa?"
"Cepat kamu siapkan mobil untuk keberangkatanku!"
"Baik Nyonya."
Samsul pergi untuk mengambil mobil, ia sudah tahu, jika pada ujungnya anak kecil itu akan dibawa pergi menemui pengasuh barunya.
Lulu dengan polosnya bertanya pada Marimar," Kita mau ke mana Nyonya?"
Marimar tak pernah menampilkan wajah kesal atau juteknya, ia selalu bersikap manis pada anak anak. karena anak anak adalah penghasil uang untuk Marimar.
Bisnis perjual belikan anak sudah ditempuh Marimar sejak lama, saat dirinya dan sang suami jatuh miskin.
Marimar saat itu mengandung buah hati bersama suaminya, hingga sebulan lamanya. Bayi mereka lahir, hanya saja biaya persalinan tak mencukupi. Karena paktor ekonomi yang mereka hadapi begitu sulit.
__ADS_1
Hingga dengan rasa terpaksa, Marimar dan sang suami menjual anak mereka. Betapa hancurnya hati Marimar saat itu, demi nominal uang yang ia terima dari menjual anaknya. Cukup lumayan besar, sampai bisa membeli rumah, dari sana rasa hancur hati Marimar terobati. Ia jadi gelap mata, dengan mengiginkan uang lebih, sampai pindah ke kampung halaman Nita, orang orang mengenalnya sebagai Nyonya Marimar.
Wanita kaya raya yang mandul.