Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 227


__ADS_3

"Eh, maaf Bu Marimar."


Mendengar dirinya di sebut Ibu, membuat Marimar tak terima, ia melipatkan kedua tangan, memajukkan kedua bibirnya.


"Sialan dia menyebut aku sebagai ibu, memangnya aku ini ibunya apa, ini tak bisa di biarkan, aku ini kan seksi cantik dan berbody aduhai. Suamiku pun sampai kelepek kelepek, mana ia di sebut seorang ibu. Mm, menyebalkan," gerutu hati Marimar.


"Tadi kamu bilang saya ibu?" tanya kembali Marimar dengan raut wajah tak suka.


Intan menganggukkan kepala dan menjawab." Iya. Bu. "


Kekesalan Marimar bertambah, ia menggerutu kesal pada hatinya lagi ." aku cantik dan seksi begini di sebut ibu lagi, gimana sih ini orang rabun ya. Apa matanya ketutupan debu."


Intan melihat raut wajah kesal pada Marimar, membuat ia sedikit bingung. Padahal saat bertemu Marimar begitu ramah menyapa dirinya, tapi sekarang.


"Ya sudah sana kamu pergi."


Tiba tiba saja Marimar mengusir Intan begitu saja, membuat gadis berbola mata bulat itu menahan Marimar yang akan masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf, apa saya salah?"


Marimar mulai mengatakan semua kekesalanya pada Intan." Ya jelas salah kamu banyak."


Deg ....


Intan menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, heran karena ia dari tadi berbicara semestinya tak ada kata kata yang menghina Marimar.


"Loh, memangnya saya salah apa, ya?" tanya kembali Intan. Ia tak mau jika ladang uangnya malah kecewa dengan dirinya.


"Ya elah, tadi kamu bilang aku ibu. Please deh, apa aku itu terlihat seperti ibu ibu, kamu tahu sendirikan bodyku kaya anak abg!" jawab Marimar, mengeluarkan kekesalanya pada Intan.


Intan menatap Marimar dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, memang body Marimar seperti abg, tapi ia sudah menikah.


"Kenapa diam, apa kamu tak terima bodyku seperti abg?" tanya Marimar sedikit bernada tinggi.


Intan berusaha mengalah, agar ia bisa menjual Lulu pada Marimar." Oh ya, saya minta maaf, tadinya saya juga mau menyebut kalau anda seperti abg tua. Eh salah abg muda, anda pantas jadi model."


Mendengar pujian terlontar dari mulut Intan, tentu membuat Marimar senang, wanita berbaju merah itu haus akan pujian.


"Ahk, kamu bisa aja deh."


Intan tertawa pelan, ia memuji muji Marimar. Bak model luar negri, padahal dalam hati Intan model luar negri yang gagal.


"Terima kasih pujianya, aku tersentuh.".


Marimar menikmati pujian Intan, sampai ia mengizinkan Intan masuk ke dalam rumah.


" Ayo masuk."

__ADS_1


Intan merasa lega, padahal kakinya sudah tak karuan, ia merasakan pegal yang luar biasa. Karena Marimar membiarkannya berdiri dari tadi.


"Iya."


Intan masuk ke dalam rumah, bertapa terkejutnya ia. Melihat isi rumah yang begitu mewah, sepi tanpa penghuni.


"Sepi ya." ucap Marimar. Menepuk kedua tangan, hingga para pelayan datang.


Intan melihat pelayan berjajar seperti itu, membuat ia seperti ada di istana raja.


Marimar menyuruh pelayan membawakan sebuah cemilan dan juga minuman untuk di sediakan pada Intan.


"Tolong ambilkan, minuman dan jus. Untuk tamu ini."


"Baik Nyonya."


Intan senang, ia tersenyum dan menatap ke sana kemari rumah megah yang mewah.


"Jadi ada apa kamu datang ke sini?"


Intan mulai fokus pada tujuanya, ia kini mengungkapkan keinginannya langsung pada Marimar.


"Kebetulan sekali, saya punya seorang anak yatim piatu, dia ikut bersama saya."


"Mm, terus. "


"Woh, memang kamu siapa anak itu."


"Dia adalah anak dari sahabat saya yang meninggal dunia karena kecelakaan. Saya yang mengurusnya saat ini."


Intan membuat karangan yang kurang terdengar rapi, membuat Marimar seakan tak yakin.


"Jadi kamu mau menyerahkannya padaku, agar aku adopsi."


"Iya, karena anda orang yang berada, sedangkan saya hanya pengangguran dan tak bisa membiayai anak itu. Apa bisa anda mengurusnya."


"Mm, bisa saja. Asalkan memang dia anak yatim piatu. Dan berjenis kel*m*n perempuan."


"Ya, dia anak yatim piatu dan berjenis kel*m*n perempuan. Saya ingin menyerahkan ya pada anda, kebetulan sekali saya akan merantau ke kota untuk bekerja."


Marimar yang melihat raut wajah menyedihkan dari Intan, membuat ia merasa kasihan. Dan lagi ia memang ingin mempunyai anak perempuan agar bisa menemani hari harinya saat sepi.


"Bailah, coba besok kamu bawa anak itu kehadapanku."


Intan dengan semangatnya berkata. " iya, baiklah."


Pelayan datang membawakan jus dan cemilan untuk Intan, dimana Intan dengan hausnya meminu jus itu tanpa rasa malu.

__ADS_1


Membekal cemilan pada kantong bajunya, Marimar yang melihat kelakuan Intan, bergidig ngeri. Miris.


Intan belum puas dengan jawaban Marimar, ia kini bertanya lagi." Katanya, jika saya menyerahkan anak yang akan di adopsi, ada akan memberikan saya imbalan sebesar dua puluh lima juta. Benar itu. "


Marimar yang memang bergelimpangan harta, kini menjawab dengan mudahnya." Ya. Memang."


Intan membulatkan kedua matanya, " wah. Apa bisa di tambahin lagi uangnya jadi lima puluh juta."


Dengan lancangnya Intan mengatakan semua itu di depan Marimar. " Mm, kalau kamu mau ya sudah saya akan berikan lima puluh juta pada kamu, asalkan anak itu cocok untukku."


"Hah, yang benar."


"Ya."


Intan begitu senang dengan jewaban Marimar, siapa tak kaget setelah mendengar jumlah uang


yang di sebut Intan akan di penuhi Marimar segera mungkin.


"Kalau begitu saya, akan pulang ke rumah, dan besok balik lagi ke sini," ucap Intan. Dengan perasaan bahagia.


Intan berdiri berpamitan, ingin segera pulang. Sampai di mana Marimar, menghentikan langkah kakinya dengan memanggil nama Intan.


"Tunggu, Intan."


Dengan semagatnya Intan membalikkan badan menatap ke arah Marimar, " iya ada apa, Nona Cantik."


Marimar tersentuh dengan pujian yang dilayangkan Intan untuk dirinya, kedua pipi memerah. Membuat dirinya seakan menjadi ratu tercantik di desa Nita.


"Kalau anak itu memang ada, kamu bisa antarkan sekarang. Aku sudah siapkan uang nominal lima puluh juta untuk kamu."


Intan membulatkan kedua mata, mulut mengagah seakan tak percaya, uang sudah tersedia.


"Hah, baiklah. Saya akan bawa anak itu segera kehadapan anda. Jadi anda tenang saja."


"Ya sudah cepat pergi."


"Baik."


Intan dengan terburu buru, pergi untuk mencari ojeng, tapi Marimar yang suka dengan Intan, memanggil sopirnya agar mengantarkan Intan ke rumahnya.


"Sopir tolong antarkan wanita ini pulang. "


Intan semakin senang, dimana Marimar begitu baik hati akan mengantarkannya pulang.


"Wah, mau antarkan saya pulang. Yang benar saja."


"Ya sudah Intan kamu pulang bersama sopir saya saja."

__ADS_1


Intan semakin senang, ia merasa di hargai oleh Marimar. Tak susah payah datang ke rumah Marimar, wanita cantik dengan harta berlimpah.


__ADS_2