
Terlihat kedua orang tua angkat Lulu sangatlah menyayanginya, mereka selalu berkata lembut, tak ada bentakan sama sekali. Setiap kali Lulu selalu mendapatkan perlakuan yang menyenangkan.
"Waw." Lulu merasa senang, dengan desain kamarnya yang begitu mewah. Kedua orang tua angkatnya begitu kaya raya.
"Kamu suka sayang?" Pertanyaan wanita berumur tiga puluh tahun itu, membuat Lulu langsung menganggukkan kepala.
Lulu melangkahkan kaki mendekat ke arah kasur berwarna pink, warna dominan untuk seorang anak perempuan.
Wanita berkulit putih itu kini menghampiri Lulu, duduk di sampingnya, " Oh ya, Kamu harus banyak-banyak istirahat ya, soalnya besok kita akan pergi shopping."
Sang ibunda, begitu memperlakukan Lulu dengan baik. Memanjakan setiap kali Lulu menginginkan sesuatu.
"Besok kita beli baju kamu. "
Lemari yang terpanjang di kamar Lulu, ternyata kosong. Wanita berumur tiga puluh tahun itu berencana mengisi lemari di ruangan Lulu. Agar Lulu bisa mengganti pakaiannya.
"Lulu, sayang jika kamu butuh apa apa. Bilang saja sama Mommy dan Daddy ya," ucap wanita yang menjadi ibu angkat Lulu.
Wanita itu pergi meninggalkan Lulu, ia ternyata langsung mengunci pintu kamar Lulu.
Memegang jantung yang berdetak tak karuan, anak berumur tiga tahun itu seakan dibayang bayangi sosok seorang ibu.
"Lulu, kangen mama."
Ia menitihkan air mata, tinggal dengan sosok orang tua angkat yang sayang padanya tetap saja tak membuat Lulu bahagia. Teringat wajah Anna, yang terus terbayang dalam pikirannya.
"Apa mama baik baik saja, ya. "
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, ada poto kecil selalu dibawa Lulu, semarah apapun dia, selalu menyimpan poto sang ibunda.
Terlihat kamar megah membuat suasana Indah, tetap saja tak membuat perasaan Lulu tenang.
Anak kecil berbola mata hitam dengan bulu matanya yang lentik, kini membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Melihat ke arah langit-langit, hingga kedua mata anak berumur 3 tahun itu tertidur.
Ia tak tahu apa hari esok akan menyenangkan untuk dirinya atau malah sebaliknya.
__ADS_1
Ibu angkat Lulu bernama Sintia dan sang ayah bernama Markus. Mereka seperti mendapatkan kebahagiaan baru, ketika mendapatkan seorang anak perempuan untuk menjadi pelengkap rumah tangga mereka berdua.
"Apa kamu senang?"
"Tentu!"
Mereka berdua mulai melangkahkan kaki untuk tidur mengistirahatkan tubuh.
******
Dari kejadian kebakaran itu, Galih berjalan menuju ke ruangan sang istri, melihat Anna masih tak sadarkan diri.
Mendekat menahan air mata, agar tidak ada kesedihan terlihat oleh istrinya, Galih takut, jika Anna sampai melihat semua kesedihan yang dirasakan Galih. Kondisi Anna malah semakin memburuk, maka ia putuskan untuk berusaha tetap tenang.
"Mas Galih."
Anna memanggil sang suami, ia kini membuka kedua matanya, Galih menampilkan senyuman, dengan kedua mata terlihat bengkak dan memerah.
"Anna. Apa masih ada yang sakit?" tanya Galih mengkhawatirkan sang istri, dimana Ana berusaha untuk duduk.
"Sudah berbaring saja, jangan memaksakan diri!"
Anna memegang perut dengan tangan kanannya, meraba-raba seperti ada sesuatu yang hilang," Mas, loh kemana anak kita?"
Teryata Anna sadar akan perutnya, Galih berusaha menenangkan sang istri agar tidak panik." Kamu tenangin dulu hati kamu."
"Tapi anak kita, apa dia baik baik saja?" tanya Anna, menatap ke arah sang suami dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Galih tak sanggup mengatakan hal yang tak terduga, yang dimana Ana mengalami keguguran.
"Kamu harus tenang, jangan terlalu memikirkan anak kita. Kamu harus menjaga kondisi kamu."
Anna tetap saja bertanya kepada Galih, memegang kedua lengan suami." aku tanya sama kamu? Apa anak kita itu baik-baik saja?"
Galih diterpa dengan rasa kebingungan, antara menjawab baik-baik saja atau sudah tiada.
"Mas, jawab. Kenapa kamu malah diam saja?"
__ADS_1
Pertanyaan Anna malah membuat Galih menundukkan kepala. Ia seakan enggan mengatakan kejujuran tentang anak yang dikandung oleh istrinya, Galih takut sekali melukai hati sang istri.
"Mas, apa jangan jangan, " ucap Anna, memikirkan hal yang tak terduga, yang menangis terisak di depan Galih.
Perlahan lelaki berbadan kekar itu memeluk erat tubuh sang istri," sudah kamu jangan menangis terus-menerus."
Galih hanya bisa menenangkan sang istri dengan pelukan hangat, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua sudah menjadi kehendak sang Maha Kuasa.
"Terus aku harus apa? Dari tadi aku tanya kepada kamu, tapi kamu malah diam saja."
Galih takut jika ia berkata jujur, Ana malah tak menerima," ayo jawab. Anak kita baik baik sajakan."
Mau tidak mau Galih harus mengungkapkan semua kejujuran akan semua yang terjadi.
"Sebenarnya anak kita sudah tiada, kamu keguguran Anna, sampai anak kita tak bisa terselamatkan. "
Anna kini menangis histeris, Galih sudah menduga dengan hal yang akan dilakukan istrinya." makanya aku tak berani mengatakan semuanya kepada kamu, karena aku takut membuat kamu malah semakin bersedih dan kondisi kamu semakin memburuk, Anna. "
"Justru dengan kamu berkata jujur kepadaku Mas, aku tidak akan terlalu kecewa, walau Sebenarnya hatiku merasa sakit sekali, belum menerima kepergian anak yang aku kandung."
Anna kini memeluk kembali sang suami untuk bisa menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau.
Bertapa pilunya penderitaan Anna, ya sudah kehilangan Lulu dan kini kehilangan anak yang ia kandung.
Bu Nira melihat pemandangan kedua insan yang menangis karena sudah kehilangan anak dalam kandungan Anna, merasakan hal kecewa, dia ikut menangis. Karena terlambat menyelamatkan Anna begitupun dengan Nita yang kini penuh dengan luka bakar.
Bu Suci sudah benar-benar dilampaui batas, kejahatannya tak bisa diampuni.Wanita tua itu harus membekam di dalam penjara.
Bu Nira memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Anna, dia ingin memberikan kata support dan juga semangat, Anna tak terpuruk dalam kesedihan.
"Bu Nira?" Anna Mengapa wanita tua itu yang baru saja masuk ke dalam ruangan, ia berusaha menghapus rasa sedih dan juga rasa kecewanya.
"Anna, maafkan ibu ya, jika Ibu bisa lebih Sigap menahan Bu Suci, mungkin kejadian ini tidak akan menimpakan. Kamu tak akan kehilangan anak dalam kandungan itu."
Anna berusaha menerima dengan lapang dada kata maaf dari Bu Nira, " Ibu tak usah khawatirkan kami, kami sudah mengikhlaskan kepergian anak dalam kandungan kamu, ini semua sudah menjadi takdir dan direncanakan untuk kami berdua. "
Anna begitu baik hati, kebaikannya itu tak jauh berbeda dengan Nita." Ana kamu benar-benar wanita yang kuat dan juga hebat, masih bisa tersenyum dalam rasa sedih."
__ADS_1
" Aku hanya berusaha menjadi sosok wanita ikhlas, menerima cobaan yang silih berganti diberikan tuhan untukku dan juga keluargaku saat ini."