
"Jadi Nyonya Marimar itu menyembunyikan tempat alamat keberadaan orang yang membeli Lulu, orang itu bukan asli orang Indonesia. Melainkan orang bule. Asal kamu tahu Nyonya Marimar itu benar benar licik, ia bisa melakukan apa saja, demi kebahagiannya walau sekarang ia dan suaminya masuk ke dalam penjara."
"Apa Tante bisa membuat Nyonya Marimar itu mengatakan tempat tinggal orang bule yang membeli Lulu?"
Bu Suci menatap ke arah Ita, walau ada keraguan. Tapi mereka harus melakukannya demi kebahagian Nita," hem. Ya sudah, tante akan berusaha, kamu tenang saja, yang terpenting sekarang kamu pikirkan dulu pernikahanmu itu."
Nita begitu bahagia jika Bu Suci mau membantunya, perasaannya sedikit tenang. ya bisa mengatakan kepada Anna, bahwa masih ada kesempatan untuk bisa bertemu dengan anaknya.
"Terima kasih? Tante."
Menganggukan kepala, mereka berdua tersenyum dan akan berusaha.
"Kami akan berusaha, mudah mudahan saja."
Setelah selesai menjenguk Bu suci dan juga Bu Ita, saat itulah waktunya Nita untuk segera pulang ke rumah.
Di dalam perjalanan menuju pulang, Saiful bertanya?" Apa mereka yakin bisa membuat Nyonya Marimar berterus terang?"
"Entahlah, kita lihat saja nanti. Ya mudah mudahan saja mereka bisa, walau sebernarnya aku juga tak yakin!"
Perjalanan yang cukup lumayan melelahkan, Nita hanya bisa memandangi jalanan, ia melihat rintikan hujan turun dari atas langit, di mana rintikan hujan itu membasahi kaca mobil calon suaminya.
Melihat bayangan dirinya, kini terlihat lebih bahagia, jika bukan karena kehadiran Lulu, kemungkinan ia tidak akan sedekat ini dengan Saiful.
"Untung saja aku bawa mobil, coba kalau aku nggak bawa mobil, pastinya kamu akan kehujanana."
Perkataan Saiful membuat Nita tersenyum tipis."
Berarti Aa Saiful pawang hujan ya, bisa tahu kapan turunnya hujan."
"Ya seperti yang kamu lihat. " Tawa menyelimuti kebahagiaan mereka berdua di dalam mobil.
__ADS_1
Bu Nira mengkhawatirkan kepulangan kedua anak-anaknya, karena Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam," ke mana ya Saipul kok belum pulang juga jam segini."
Bu Nira bergegas keluar rumah, dia berniat menunggu kedatangan kedua anak-anaknya. Tapi saat membuka pintu rumah, Bu Nira dikejutkan dengan para ibu-ibu yang berada di depan rumahnya, mereka terlihat begitu basah seperti orang yang baru saja kehujanan.
"Loh, kok kalian ada di sini?"
pertanyaan Bu Nira membuat Bu Ratna mendekat, mereka kini mengatakan maksud kedatangan mereka semua tanpa mengetuk pintu rumah Bu Nira," Bu Nira. Jangan salah paham dulu ya Kalau kami ada di sini."
Bu Nira mengerutkan dahi, melihat raut wajah mereka yang begitu serius. Entah apa yang sebenarnya akan diceritakan oleh para ibu-ibu yang berada di depan rumahnya.
"Kami sengaja ke sini, Karena kami sebenarnya merasa tak enak hati. ingin menanyakan kekurangan Nita, karena sudah seharian ini kami menunggu kepulangan Nita yang tak kunjung Kembali Pulang, makanya kami menunggu saja di rumah Bu Nira."
Bu Nira hanya bisa menampung mereka saat itu, walau sebenarnya merasa tak nyaman dengan kedatangan mereka yang malah mengotori teras depan rumah.
"Oh ya, Kebetulan sekali kami belum makan. Apa Bu Nira mempunyai makanan atau minuman yang bisa kami makan," ucap Bu Ratna dengan lantangnya meminta makanan ke tuan rumah yang sudah mereka kotori teras depan rumahnya.
" kalian ini kenapa sih memangnya tidak masak di dalam rumah, di sini itu bukan warteg ya," balas Bu Nira, melipatkan kedua tangan, terlihat para
"Maafkan kami Bu Nira merepotkan, karena fokus menunggu kedatangan Nita, sampai kami lupa mu ngisi perut kami masing-masing." Bu Nira menggelengkan kepala dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Bu Ratna.
Mau tidak mau Bu Nira harus mengeluarkan makanan di dalam rumah, untuk memberi semua para ibu-ibu yang tengah kelaparan menunggu kedatangan Nita dan juga anaknya.. .
"Ya sudah kalian tunggu dulu di sini, saya akan mengambilkan makanan untuk mengisi perut kalian yang terasa keroncongan itu."
Bu Nira mulai melangkahkan kaki menuju dapur ia menggerutu kesal dalam hati, "ada-ada aja ibu-ibu di kampung ini, menunggu kedatangan Nita, tidak mau mengeluarkan modal sedikitpun, pengennya minta sama saya. "
Nita dan saiful yang masih dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, membuat Saiful bertanya kembali.
"Bagaimana kalau malam ini kamu menginap di rumahku saja, kebetulan Ibu sendirian di rumah."
"Sendirian bagaimana maksud kamu. Bukannya ada kamu di rumah, nanti apa kata orang-orang kalau aku menginap di rumah kamu, kita kan belum sah menjadi suami istri malu lah sama orang." ucap Nita, mengigatkan calon suaminya.
__ADS_1
" kamu tenang saja aku akan keluar rumah menemui sahabatku, untuk mengatur jadwal pernikahan kita yang sebentar lagi akan digelar, hanya meminta kamu malam ini menemani Ibu agar Ibuku itu mempunyai teman untuk sekedar mengobrol dan bercerita." balas Saiful, berusaha meluruskan kesalah pahaman Nita.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Saiful, pada akhirnya Nita setuju karena memang rumahnya belum terenovasi sepenuhnya dan ia masih merasa takut tinggal sendirian.
"Ya sudah kalau begitu."
Mobil sudah sampai di tempat tujuan, di rumah Bu Nira.
Hanya saja saat mereka melihat pemandangan rumah Bu Nira, Nita terkejut mereka takut jika ada sesuatu pada Bu Nira, karena melihat ibu ibu berkumpul di depan rumah.
"Apa terjadi sesuatu dengan Bu nira, Kenapa ibu-ibu pada berkumpul di rumah kamu Aa Saiful."
"Entahlah, jika terjadi apa-apa dengan ibu pasti para ibu-ibu itu akan meneleponku, sedangkan dari tadi pagi hingga malam ini tak ada satu panggilan, menelpon untuk segera pulang ke rumah."
"Ya sudah kita cepat turun dan menghampiri kerumunan ibu-ibu yang berada di depan rumah."
Saiful dan Nita mulai turun dari dalam mobil, setelah Saiful. Menurunkan mobilnya, terburu buru dan berlari ke rumah.
Para ibu ibu terlihat senang dan menangis menghampiri Nita yang baru saja datang.
Saiful merasa aneh dengan pemandangan para ibu-ibu yang langsung menghampiri Nita, entah apa yang sebenarnya terjadi di rumah Saiful saat itu.
"Nita, akhirnya kamu pulang juga kami sudah menunggu kedatangan kamu dari tadi di sini." Para ibu ibu terus menggerumutin Nita, di mana Saiful berlari, melihat sang Ibu baru saja keluar dengan membawa makanan yang begitu banyak.
"Ibu." Saiful nampak begitu cemas ketika menghampiri sang ibu di teras rumahnya.
"Ibu tidak kenapa kenapakan?"
Saiful mengecek badan dan juga wajah ibunya, apakah ada sesuatu yang melukai tubuh ibunya itu.
"Ibu. Tidak kenapa kenapa kan?"
__ADS_1