Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 85 Pov Autor. Kecelakaan.


__ADS_3

Bagitu banyak orang orang yang melihat kecelakaan itu terjadi, tentu saja membuat Pak Aryanto dan sang istri penasaran. "Bu, orang orang pada liat kecelakaan, bagaimana kalau kita turun. "


"Buat apa, pak. Ibu takut, sebaiknya kita tunggu aja di sini. "


Pak Aryanto yang melihat sang istri ketakutan, membuat ia mengurungkan niatnya, hingga dimana sala satu lelaki muda dan sang sopir bercerita.


"Miris sekali ya, korban tabrak lari. "


"Denger denger cewek ya? "


"Iya cewek! "


Mendengar cerita dari sang sopit dan anak muda, tentulah membuat Pak Aryanto penasaran. "Maaf pak, apa dia meninggal? "


"Entah pak, saya kurang tahu. Soalnya keadaanya parah. "


Pak Aryanto seakan mengigat sang anak, ialah Ajeng. Ia takut dengan anak semata wayangnya kenapa kenapa.


Anak muda itu memperlihatkan sebuah video kepada Pak Aryanto begitupun dengan istrinya, kedua mata wanita tua itu membulat saat rekaman video di putat memperlihatkan sosok wanita terkulai di jalanan.


Darah terlihat keluar dari kedua hidung wanita itu. " Pak, ini anak kita. Ajeng. "


Bu Ayu berteriak histeris, setelah melihat rekaman video yang menunjukkan wajah Ajeng, membuat tanganya bergetar. Air mata terus ke luar membuat hatinya tak karuan.


"Ibu, tenang dulu. " Sang suami berusaha menenangkan istrinya, dimana anak muda itu kini mengatakan korban kecelakaan dilarikan ke rumah sakit bintang.


Pak Aryanto memohon kepada sang sopir untuk mengantarkan ke rumah sakit, akan tetapi para penumpang yang terburu-buru, seakan tak merasa kasihan dengan isak tangis yang Bu Ayu. Mereka cuek dan tak peduli.


Ada apa dengan orang orang di dalam angkot itu? Mengapa mereka begitu tega, tak memberi kesempatan untuk sopir berbalik arah mengantarkan Pak Aryanto dan Bu Ayu ke rumah sakit.


Sang sopir kini menyuruh pada Bu Ayu dan juga Pak Aryanto untuk segera turun, dan mencari angkutan umum yang mengarah ke arah rumah sakit.

__ADS_1


Setelah turun dari angkot, Bu Ayu menggerutu kesal pada sang suami.


"Mereka tega, enggak ada rasa belas kasihan apa kepada kita yang sudah tua ini. "


Pak Aryanto yang memang kondisinya belum setabil membuat ia merasa tak kuat berjalan, dengan di iringi trik matahari yang semakin menyengat.


"Bapak juga enggak mengerti bu, ada orang yang tega seperti mereka. "


"Mereka itu enggak sadar diri. Bagaimana mereka ada di posisi kita? "


Deg ....


Jantung Pak Aryanto seketika berdetak tak karuan, ia mengigat sebuah kata kata yang percis dengan perkataan istrinya. Hingga dimana." Anna. " mulutnya memanggil nama itu. Membuat Bu Ayu heran dan bertanya?" Kenapa bapak manggil dia. Dia wanita tega pak, kita memohon dia acuh seperti itu. "


Lelaki tua yang sudah keriput itu, membalikkan badan ke arah sang istri dengan berkata. " Bu, sadar tidak. Bisa jadi semua musibah ini adalah teguran untuk kita agar bisa merubah diri dari kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. Ibu ingat tidak perkataan Anna. Perkataannya seperti sebuah peringatan untuk kita. "


Bu Ayu yang mendengar perkataan suaminya, kini membalas dengan wajah penuh amarah. " Alah, bapak masih saja percaya hal begituan. Sekarang udah moderen nggak ada hukum karma. "


Setelah mendengar ucapan dari sang istri, membuat kepala Pak Aryanto terasa sakit, ia kini terkulai lemah di atas lantai, menahan rasa sakit yang semakin terasa sakit tak tertahan.


Kepanikan mulai dirasakan Bu Ayu, hingga wanita tua itu mencari sebuah mobil yang bisa membantunya untuk membawa sang suami ke rumah sakit. Dengan keringat bercucuran dan perasaan tak menentu, Bu Ayu terus berlari meminta bantuan. Sedangkan keadaan Pak Aryanto kini semakin memburuk, membuat ia jatuh pingsan.


Tak ada satu orang pun yang mau menolong mereka berdua, dunia seakan kejam.


"Pak, bangun. Pak bertahannya, bu pasti akan cari bantuan. "


Bu Ayu berusaha sekuat tenanga, hingga dimana seseorang datang menghampiri wanita itu.


"Ibunya kenapa, Pak? Bagaimana kalau saya bantu bapak ke rumah sakit. "


Perkataan lelaki tak di kenal Bu Ayu membuat ia tentu saja mengiyakan, mereka berdua langsung masuk pada mobil.

__ADS_1


"Pak, bertahan ya. Pak. Jangan libatkan semuanya dengan hukum karma, buktinya kita ditolong oleh orang lain. "


Pak Aryanto tak sadarkan diri, Bu Ayu terus memegang kedua pipi suaminya. Hingga ia baru sadari jalanan menuju ke rumah sakit tentu sangat berbeda.


"Pak, apa bapak tidak salah jalan? " Pertanyaan Bu Ayu membuat lelaki tua itu menatap pada kaca mobil, telihat ia menyungingkan bibirnya. Seperti ada niat tersembunyi.


"Ibu, tenang saja. Kita ambil jalan pintas!"


Hati Bu Ayu semakin tak karuan, ada rasa takut menyelimuti dirinya. Karna ia baru tahu menuju rumah sakit ada jalan pintas.


Perjalanan hampir setengah jam di tempuh, mobil belum juga sampai, Bu Ayu semakin ketakutan. Hingga dimana mobil berhenti di jalan yang sepi.


"Ini dimana Pak, saya mau mengantarkan suami saya ke rumah sakit, bukan ke sini. "


Lelaki yang terlihat baik di depan mata Bu Ayu kini menatap tajam dengan tersenyum sinis. "Hari gini saya mau nolong ibu. Jangan harap ya bu. "


Perkataan lelaki muda itu membuat Bu Ayu berusaha melepaskan diri dari mobil, akan tetapi tenaganya yang sudah lemah, membuat Bu Ayu jatuh pingsan karna pukulan lelaki muda itu.


Bertapa sadisnya mereka, mengambil emas yang dipakai Bu Ayu, ponsel dan barang berharga lainya. Bu Ayu di buang di pinggir jalan, begitupun dengan Pak Aryanto.


Mobil yang sudah merampas harta benda milik Bu Ayu dan Pak Aryanto sudah pergi begitu saja, tanpa merasa kasihan terhadap kedua orang tua itu.


Hingga beberapa menit kemudian, Bu Ayu yang jatuh pingsang kini bangun. Ia baru sadar saat hawa dingin menusuk kulitnya, ternyata sudah malam. Wanita tua itu segera melihat keadaan sang suami, mengecek nadi dan napas Pak Aryanto.


Ternyata suaminya masih hidup, Bu Ayu berusaha mencari tas dan juga benda berharganya, "Perhiasan, jam tangan. Ya tuhan, semua tak ada." Hancur hati Bu Ayu saat itu. Bagaimana ia bisa pulang ke rumah sakit, jika semua uang dan harta bendanya tak ada. "


"Kenapa hari ini nasib kami apes sekali. Ada apa sebenarnya. "


Bu Ayu berteriak , ia merasakan rasa sesak di dada. Tubuhnya lemas tak berdaya, ia bingung dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya dan juga anaknya Ajeng. "


"Pak, bangun. " Pak Aryanto tetap saja tak sadarkan diri. Hingga dimana lampu mobil menyala menyoroti Bu Ayu yang duduk di atas tanah. "

__ADS_1


Seseorang keluar dari dalam mobil. Untuk melihat keadaan Bu Ayu dan juga Pak Aryanto.


Siapa kah dia?


__ADS_2