
"sekarang kakak tenang, jangan pikirkan perkataan Mas Danu, lebih baik sekarang kakak ikut dengan Anna, biar kakak bisa tenang jika tinggal di sana. Di rumah Anna kan ada, Farhan, Radit dan Raka, siapa tahu kakak rindu sama mereka bertiga."
"Apa yang dikatakan kamu ada benarnya juga An, mungkin dengan melihat keponakan kakak, perasaan kakak lebih baik, kakak juga butuh hiburan."
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang."
Mereka kini bergegas untuk segera pulang ke rumah Anna, Indah sudah memutuskan untuk tinggal sementara di rumah sang adik, agar perasaannya lebih baik dan pikirannya tidak terlalu memikirkan masalah yang kini menimpa dirinya. Kemungkinan besar jika Indah masih berada di dalam rumahnya, Danu akan terus datang ke rumah meminta sebuah kepastian untuk bisa bertahan lagi bersama dirinya.
Di dalam perjalanan menuju pulang," Kak Indah, kita mampir dulu di rumah makanku untuk mengambil mobil. "
Indah hanya menganggukkan kepala, terlihat sekali wajah penuh dengan tekanan dan juga rasa bingung. Membuat wanita berambut pendek dengan matanya yang sipit masih bersedih.
Galih yang mengantarkan kedua wanita itu kini mulai berpamitan untuk segera pulang di mana lelaki berparas tampan itu mengucapkan empat patah kata terhadap Anna," Tolong pikirkan lagi, Anna."
Anna hanya tersenyum kecil saat Galih mengatakan semua itu, mobil lelaki berhidung maju dengan tubuhnya yang kekar kini sudah pergi tak nampak kembali. Hingga dimana sosok lelaki muda datang menghampiri Anna, " Kak Anna."
Wanita berambut panjang dengan bibir tipisnya, membalikkan badan ke arah belakang, sosok anak muda itu ternyata Deni, ia memberikan kunci yang tadi pagi diberikan oleh Anna.
"Deni, kamu masih ada di sini?"
Pertanyaan Ana membuat Deni tiba-tiba melirik ke arah Indah. Lelaki muda itu merasa terpana akan kecantikan Indah yang terlihat natural tanpa make-up, bibir tipis dengan mata sipitnya, membuat ia seperti anak blasteran indonesia dan cina.
Berulang kali Anna memanggil Deni, akan tetapi anak muda itu tetap saja diam menatap ke arah Indah yang terlihat menundukkan wajah, Anna yang merasa heran dengan Deni kini memegang bahu anak muda itu. Membuat lamunan Deni seketika membuyar.
"Deni Kamu ini kenapa? Dari tadi kakak tanya, kamu bengong saja sambil liatin Kak Indah."
Ucapan Indah membuat Deni salah tingkah, anak muda itu tersenyum lebar ke arah Indah.
Indah yang mendengar perkataan Anna mengerutkan dahi, menatap dengan berkata, " Maksud kamu, Anna?"
Anna menutup mulut tersenyum kecil, pertanyaan sang kakak malah membuat Deni semakin terpesona.
Ada rasa yang tak karuan, dirasakan Deni ketika menatap Indah, wanita yang tak jauh berbeda umurnya dengan Anna. Wajah Indah terlihat awet muda, ia seperti anak SMA walaupun sudah menikah.
"Halo, Deni."
__ADS_1
Sekali lagi, Anna melambaikan tangan ke depan wajah Deni.
"kak, sepertinya anak muda ini. Terpesona deh liat kakak." Bisik Anna, ditengah lamunan Deni yang tak menyadari akan dirinya yang dibicarakan.
"kamu ini, An. kalau ngomong dipikir dulu, masa ia anak muda ini terpesona lihat kakak yang sudah bersuami ini," Balas Indah tersenyum kecil, sembari melihat keluguan Deni.
"Coba deh, kakak tanya. Pasti dia senang deh?"
Perkataan Anna membuat Indah mencubit kecil pipi adiknya itu.
"Dia masih bau kencur, Anna!" Cetus sang kakak.
Anna mengusap mengusap pipinya yang terasa sakit akibat sang kakak yang mencubit keras pipinya.
"Walaupun bau kencur, tetap menantang kak. Deni itu versi muda Daniel lelaki yang pernah ada dihatiku dulu." Goda sang adik yang terus membuat sang kakak lupa akan kesedihannya.
Perlahan Deni mulai menyodorkan tangannya pada Indah, membuat kedua wanita itu terkejut, Anna yang memang terkesan jail, kini mendekatkan tangan sang kakak pada tangan Deni.
"Ayo kak, kenalan."
"Deni."
Indah yang terlihat malu, kini menarik tangan adiknya untuk segera pergi dari hadapan Deni," Kak Anna. Aku pulang dulu ya."
Deni langsung berpamitan begitu saja, membuat Anna merasa tak enak hati, karena sang kakak yang menarik paksa adiknya.
"Iya den, hati hati di jalannya."
Setelah kepergian Deni, Indah menggerutu kesal dengan berkata, " Kamu ini ngapain coba, pake cara gombalin kakak sama itu anak."
Anna tertawa pelan, " Habis Nya Deni liatin kakak sampai sebegitunya, kaya kakak itu bidadari turun dari langit."
Indah melipatkan kedua tangannya," Hah, kamu ini de. Bisa saja kalau lihatin kakak emosi."
Memang itu yang diinginkan Anna sekarang, membuat sang kakak emosi dan juga senang, Anna tak mau melihat air mata turun dari kedua mata sang kakak karena itu sungguh menyakitkan bagi hati Anna sendiri.
__ADS_1
"Habisnya Anna, nggak suka lihat kakak nangis terus, makanya Anna hibur kakak deh lewat, Deni."
Ketulusan sang adik, membuat peran penting bagi sang kakak, dimana kesedihan bisa terobati hanya dengan pelukan dan juga hiburan.
"Terima kasih ya, de. Kamu memang adik kakak yang terbaik."
"Iya dong. Ya sudah ayo kita pulang, Anna juga mau bercerita sama kakak, mencari solusi untuk masalah Anna dengan Pak Galih."
"Maksud kamu apa, An?"
"Sebaiknya kita pulang dulu, biar aku jelasin dengan tenang dan nyaman!"
Anna dan Indah sudah sampai di rumah, dimana Farhan, Radit, dan Lulu berlari setelah mendengar suara klakson mobil sang bunda.
"Rumah kamu besar, An." Karena kesibukan sang kakak, Indah baru saja menginjakkan kakinya di rumah sang adik. Karna Anna yang selalu datang ke rumah Indah, membuat Indah tak menyempatkan diri datang ke rumah Anna.
Betapa senangnya ketiga anak Anna, melihat kedatangan Indah, membuat ia berlari memeluk sang tante.
"Senangnya ada Tante Indah ke rumah."
Ketiga anak Anna, menarik paksa Indah masuk untuk segera main bersama mereka bertiga.
"Ade, kakak. kasihan Tante Indahnya kelelahan mau istirahat jangan kalian ajak bermain."
Ucapan Anna membuat Indah menimpal," Nggak papa An, kakak senang mereka langsung mengajak kakak bermain."
******
pada akhirnya Ana membiarkan kakaknya bermain dengan ketiga anak-anaknya, walau sebenarnya ia tahu kesedihan masih menyelimuti hati sang kakak.
"Mudah mudahan saat kak Indah ada di rumah ini, perasanya lebih tenang, ia tak memikirkan mantan suaminya itu."
Suara ponsel berbunyi, di mana Ana langsung mengangkat panggilan telepon itu . " Pak Galoh, ada apa dia menelpon. Bukannya tadi pagi dia bertemu denganku. Apa jangan-jangan dia mau mengungkapkan isi hatinya lagi. "
Anna berusaha tak menjawab panggilan telepon dari Galih, karena ia takut jika nanti Galih meminta jawaban tentang apa yang sudah dirinya katakan saat di rumah makan.
__ADS_1
(Anna, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku, apa kamu marah karena perkataanku tadi di dalam mobil?)