Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 113 Tingkah ibunda Danu.


__ADS_3

Danu dilarikan ke rumah sakit dengan dibawa ambulans, sedangkan sang ibu berada di samping anaknya menemani, perlahan memegang tangan Danu, melihat wajah anaknya yang sudah pucat. "Danu, bertahannya. Nak. "


Dari kejauhan wanita tua itu melihat ke arah jendela, dimana Anna menarik paksa kakaknya untuk duduk di samping Deni. Melangsungkan pernikahan tanpa harus mempedulikan Danu.


"Indah, pasti kamu kuatir. " ucap pelan bunda Danu.


Entah kenapa tiba tiba wanita tua itu sedikit membuat suatu cara agar Indah datang ke rumah sakit menemani Danu. Padahal dia tahu sendiri bahwa kebahagian itu layak untuk Indah.


Tapi kenapa ibunda Danu malah menjadi egois karena melihat anaknya yang pingsan di acara pernikahan Indah, harusnya ia diam saja dan menyemangati sang anak. Tanpa harus menghancurkan pernikahan Indah.


Merogok tas dan menelepon Indah, berharap jika Indah mengangkat panggilan telepon dari ibunda Danu.


Tidak ada jawaban sama sekali.


Ternyata Indah tengah menerima banyak tamu di acara pernikahannya, ia tak sempat menjawab panggilan telepon dari ibunda Danu.


Deni yang menyadari ponsel istrinya menyala, melihat pada layar ponsel nama kontak sipenelepon.


"Ibunda Danu. "


Deni sempat berpikir jika ibunda Danu itu, begitu baik. Tapi kenyataannya, dia malah menusuk dari belakang. Entah apa maksud wanita tua yang menjadi ibunda Danu, menelepon di acara pernikahan yang tengah digelar oleh Deni dan juga Indah.


Bukanya dia tahu jika Indah Itu bukan menantunya lagi, seharusnya wanita tua itu lebih menjaga perasaan calon pengantin pria dan juga acara yang sudah jauh hari dibuat dengan begitu mewah. Apa Deni harus mengalah? Membiarkan Indah untuk pergi menjaga mantan suaminya itu.


Di tengah keramaian para pengunjung yang terus berdatangan, senyuman yang dipaksakan membuat dadanya semakin sesak dan sakit. Deni mencoba meremas dada bidangnya, menahan sesuatu yang membuat hatinya semakin sakit.


Pengunjung mulai menikmati makanan mereka masing-masing, sedangkan Indah dan juga Deni mulai duduk mengistirahatkan kaki yang dari tadi terus berdiri.


Indah yang memang terlihat cemas dari tadi membuat Deni kini bertanya, "apa kamu masih memikirkan mantan kamu itu, Indah. "

__ADS_1


Sebutan Sang Kakak tiba-tiba hilang begitu saja, padahal Deni selalu memanggil sang pujaan hati dengan sebutan kakak, entah karena amarah ataupun rasa sakit pada hati Deni, karena Indah terlihat memikirkan mantan suaminya.


Sekilas wanita bermata sipit dengan bibir tipisnya menatap ke arah Deni, "kamu ngomong apa Deni, ini acara pernikahan kita. Mana mungkin aku memikirkan orang lain. "


Deni mengusap kasar wajahnya ia melihat kedua mata sipit itu tak bersemangat, ada kesedihan di balik wajah Indah.


"Indah. Jangan bohong, jika cinta dan jalinan pernikahan di dasari kebohongan itu tidak akan bertahan lama. Kamu akan terus menerus terikat dalam kebohongan. "


Indah tak berani menatap lelaki di sampingnya, ia malah diam dan tak menjawab perkataan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. "Kenapa kamu malah diam saja, apa yang kamu pikirkan saat ini Indah? "


Deni perlahan menenangkan amarahnya, walau sebebarnya kobaran api kekesalan hampir menggerogoti pikiran jerni dan rasa kasihan dalam diri.


"Ayo katakan, jika memang kamu masih mencintai Danu. Pergilah temui dia, aku tidak mau mencintai wanita yang terpaksa menikah denganku. "


Apa yang dikatakan Deni sendiri adalah kata kata yang sangat menyakitkan hati. Berusaha tetap tegar dan tak menampilkan kesedihan itu adalah sosok lelaki yang kuat.


Indah memang ingin menghampiri Danu, tapi dia juga tak mau meninggalkan Deni. Karena pernikahan bukanlah sebuah permainan yang bisa ditinggalkan begitu saja. Bagaimana pun Indah harus bisa bersikap dewasa.


Wanita yang memakai gaun pengantin itu, seketika mengambil ponsel, melihat Siapa yang menelepon pada dirinya."Dari tadi, Ibunda Danu menelepon kamu. "


ucapan Deni membuat Indah menundukkan pandangan, ya benar-benar tak tahu jika ponselnya berdering dari tadi. karena terlalu sibuk memikirkan keadaan Danu.


Ponsel Indah masih saja berdering, membuat Deni berucap di depan istrinya itu ."Kenapa dilihat saja, cepat kamu angkat Siapa tahu penting. "


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, bingung dan juga tak enak hati di depan dan mengangkat panggilan telepon dari mantan mertuanya itu.


Tapi Deni malah tersenyum di saat kebingungan melanda pikiran Indah. lelaki berumur dua puluh tahun itu, terus saja mempersilahkan istrinya untuk mengangkat telepon dan mengobrol.


Saat jari tangannya mulai mengangkat panggilan telepon dari mantan mertuanya itu, Indah kini dibayangkan dengan perkataan Anna, adiknya sendiri, di mana Anna berkata, "jangan menghancurkan kebahagiaan, hanya dengan sembongka sampah yang mengganggu dan merusak keindahan dari kebahagiaan itu. "

__ADS_1


Deni bagi Indah dia hanyalah seorang lelaki muda yang kemungkinan mencintai dirinya sebatas cinta sesaat. "Kenapa malah diam saja. Ayo angkat, takutnya penting. "


Indah merasa tak enak hati, tapi dia juga penasaran dengan keadaan Danu, mantan suaminya. Maka dari itu Indah mengangkat panggilan telepon dari ibunda Danu.


"Anna."


Baru saja menempelkan ponsel pada telinga, Anna ternyata ada di belakang punggung kakaknya sendiri.


Dengan perasaan kesal, Anna yang memulai percakapan pada sambungan telepon yang dimana Ibunda Danu ingin membuat Indah datang ke rumah sakit.


Baru saja mengucapkan kata Hallo.


Ibunda Danu angkat bicara terlebih dahulu, " Halo. Indah, apa kamu bisa ke sini. Keadaan Danu semakin memburuk, ibu kuatir dengan dia. Jika tidak ada kamu ibu takut Danu kenapa kenapa. Tolong cepat datang ke sini, Danu sangat membutuhkan kamu. "


Anna, tersenyum kecil. Menatap ke arah Indah yang terlihat kuatir dan ingin tahu apa yang dikatakan ibunda Danu, tentang keadaan anaknya.


"Halo, bu. Saya mengerti apa yang dikatakan ibu, tapi tolong jaga ucapan ibu yang seolah ingin membuat pernikahan yang indah dan bahagia ini seakan tak ada artinya , karena harus datang ke rumah sakit. Menemani laki laki yang bukan siapa siapa lagi bagi kakak saya. Kalau pun ibu membutuhkan kakak saya datang ke sana. Masih ada waktu lain hari, karena kami di sini berhak bahagia, dan merasakan acara yang sudah jauh hari kami gelar. Apa ibu tidak pernah berpikir untuk melepaskan Kak Indah, bukanya ibu seorang wanita. Bukanya seorang wanita harus bisa mengerti perasaan sesama wanita? "


Indah seperti tak senang dengan perkataan Anna pada sambungan telepon, ia spontan merebut ponsel dari tangan Anna.


"Kak Indah. " Anna berteriak disaat Indah mengobrol dengan mantan mertuanya.


"Halo, bu. Ini Indah, ibu jangan dengerin apa kata Anna. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Danu. Indah sekarang akan datang ke sana. "


Membulatkan kedua mata geram dengan ucapan sang kakak. Hingga dengan sepontan Anna.


Wah apa yang terjadi?


Asslamulaiakum kkakka, jangan lupa mampir ke novel autor yang masih hangat ya.

__ADS_1


Novel rilis. Berjudul. Gadis Desa Untuk Ceo.


__ADS_2