
"Nih, bang goceng." Intan memberikan satu lembar uang pada pemilik konter itu, dimana sang pedagang sedikit memarahinya.
"Apa'an goceng kurang, nih." cetus sang pemilik konter membuat Intan mengerutkan dahinya.
"Ya elah, berapaan sih. Sampai duit goceng kurang," ucap Intan memberikan satu lembar uang dua ribu." Nih, cukup. Nggak."
Sang pemilik konter menerima uang dua ribu yang disodorkan Intan." Nah, ini baru cukup."
Intar pergi dari hadapan pemilik konter itu, ia menghampiri para ibu ibu bergosip ria di samping kiri konter.
Mereka begitu menikmati obrolan dengan mengunjingi orang lain, Intan tak peduli akan masalah obrolan mereka. Yang sekarang diinginkan Intan itu hanyalah uang dan tak terganggu akan Lulu.
"Maaf, apa boleh saya bertanya?"
Ibu ibu itu saling berbisik, ketika melihat Intan datang bersikap ramah.
"Ada apa ya?"
"Saya mau tanya!? "
"Tanya apa?"
Mereka terlihat tak bersahabat, sampai wajah jutek diperlihatkan untuk Intan.
"Ck, malas sekali aku bertanya pada ibu ibu model begini, kebanyakan sombong dan banyak gaya." Gumam hati Intan, mendelik kesal. Ia harus bisa bersikap ramah.
Kalau tidak, habis Intan dibuat malu oleh ibu ibu biang gosip itu.
"Tadi saya dengar katanya ada yang mencari anak yatim?" tanya Intan pada semua ibu ibu di sana.
Mereka tidak memperlihatkan raut wajah ramah, " Ya, memangnya kenapa?"
Intan ingin sekali menampar para ibu ibu, karena sikap jutek mereka, mengepalkan kedua tangan. Intan berusaha bersikap ramah kembali. Walau amarah sudah memuncak.
"Kebetulan saya ingin bertemu dengan orang itu. Apa bisa ibu ibu memberi alamatnya!" jawab Intan . Menampilkan senyuman, menahan rasa kesal yang sudah ingin ia luapkan.
Ibu ibu saling berbisik kembali.
"Heh, siapa sih dia?"
"Kamu tidak tahu apa, dia itu sahabatnya si Nita!"
Mendengar ibu ibu saling berbisik, membuat Intan berpura pura batuk, para ibu ibu itu menatap ke arah Intan, " Memangnya kamu ada keperluan apa sama, si Marimar."
"Dasar ibu ibu kepo, mau tahu saja urusan orang." Gerutu hati Intan.
Wanita bola mata bulat itu tetap menampilkan senyumannya dihadapan ibu ibu." Kepeluan ini tidak bisa saya katakan karena rahasia."
"Alah sok, rahasia segala."
Salah satu ibu yang berkumpul di sana menunjukkan alama Marimar," Terima kasih. Bu."
" Ya."
__ADS_1
Intan mulai pergi dari hadapan para ibu ibu, dimana ia memegang alamat Marimar.
*********
"Eh, kamu serius. Kasih dia alamat si Marimar?" tanya salah satu ibu berwajah tirus.
Wanita yang menunjukkan alamat pada Intan tertawa terbahak bahak.
"Heh, kamu malah ketawa lagi. Apa yang lucu?"
"Iya, apa yang lucu?"
Tanya para ibu ibu kepo itu, ibu yang menunjukkan alamat pada Intan adalah Bu Dewi, dimana ia menjawab para sahabatnya," Lucu lah, orang dia bakal sampai di kuburan."
Semua melohok, mereka tak menyangka jika Bu Dewi sejail itu. " Jadi kamu beri gadis itu alamat palsu."
Semua ibu ibu saling menatap ke arah Dewi, membuat mereka terdiam. " kalau dia kenapa kenapa?"
"Biarin, siapa suruh sok pake rahasia rahaisaan segala sama kita!"
"Ya elah, iya juga sih Dew, kita kan perkumpulan ibu ibu yang ingin selalu tahu banyak hal. Apalagi pertanyaan tadi."
"Benar itu."
*********
Intan menaiki ojek untuk sampai ke tempat tujuan, ia tak sabar menerima uang senilai dua puluh lima juta dari si Marimar.
Perjalanan lumayan begitu jauh, membuat si tukang ojeng sedikit kewalahan membawa motornya.
Sampai dua puluh menit kemudian. " Sudah sampai neng."
Intan turun dari motor, ia melihat ke sekeliling, banyak kuburan di depan matanya.
"kuburan?"
Ojek yang mengantarkan Intan, terlihat heran. Melihat penumpangnya terkejut padahal alamat di tuju sudah benar.
"Mana rumahnya?" tanya Intan pada tukang ojeg
"Semua kuburan neng, bukan rumah!" jawaban tukang ojeg membuat Intan kesal, alamat yang ia minta pada ibu ibu berarti alamat palsu.
"Ya ampung, aku di tipu! " jawab Intan terduduk lesu.
Tukang ojeg merasa kasihan pada Intan, ia langsung bertanya." Memangnya neng, lagi cari rumah siapa?"
Intan menjawab dengan nada hampiri menangis, " Ibu Marimar."
Tukang ojeg yang memang asli tinggal di kampung Nita, kini menjawab." Biar saya antar."
Intan menatap pada tukang ojeg yang mengatarkannya," yang benar."
" Iya, ayo naik."
__ADS_1
Intan terburu buru bangkit dari duduknya, untuk segera pergi ke rumah Marimar, perasaannya sedikit lega, untung ada tukang Ojeng yang mau menunjukkan rumah Marimar.
Di dalam perjalanan, lelaki yang berkerja sebagai tukang ojeg bertenya pada Intan.
"Neng, memangnya siapa yang ngasih tahu alamat palsu itu sama neng?" tanya tukang ojeng bernama bapak kosim.
"Ibu ibu yang suka nongkrong dan bergosip di dekat kontor!" jawab Intan masih memperlihatkan kekesalanya.
"Mm, pantas saja. Memang ibu ibu perkumpulan di sana agak rese," ucap tukang ojeng yang tak tahu jika Intan mempunyai rencana jahat bertemu dengan Marimar.
"Oh, abang tahu?" tanya Intan dalam perjalanan menempuh jarak lumayan jauh.
"Toh di sana ada istri saya!" jawab Pak Kosim, membuat Intan ingin tertawa.
Masih ada lelaki yang memgakui istrinya suka bergosip, " nah. Sudah sampai. "
Intan kini turun, rumah yang ia tuju sudah benar, memberikan uang ongkos." Makasih ya, bang."
"Oke, neng."
Tukang ojeg itu pergi, meninggalkan Intan, dimana Intan memberanikan diri berjalan mendekat ke rumah Marimar.
"Aku harus berhasil menjual Lulu pada wanita itu, agar aku bisa pergi dari kampung Nita."
Intan mengetuk perlahan rumah Marimar, dimana ia berusaha mencari bel dan akhirnya ketemu juga.
Suara bel berbunyi, Intan tak sabar bertemu dengan wanita bernama Marimar itu.
Pintu rumah terbuka, akhinya Marimar keluar dari balik pintu rumahnya.
"Siapa ya?"
Wanita berparas cantik dengan pakaian seksinya, menatap ke arah Intan, ia merasa heran dan tak mengenali Intan sama sekali.
Intan menampilkan senyuman ramahnya, dimana Marimar membalas senyuman itu.
"Apa anda yang bernama Marimar?" tanya Intan, ia tak menyangka jika wanita bernama Marimar itu begitu cantik dan modis.
Tidak seperti majikannya Ainun yang sederhana dan seperti orang kampung. Intan kembali lagi mengigat saat dirinya bekerja di tempat Ainun, padahal sudah jelas ia sekarang adalah seorang pengangguran.
Bibir tebal dan seksi itu kini menjawab." Ya saya Marimar. Ada perlu apa anda datang menemui saya? Saya baru lihat anda siapa ya anda?"
"Perkenalkan, saya Intan. Baru datang ke desa ini, saya sahabat Nita, " ucap Intan memperkenalkan diri. Terlihat Marimar seakan tak suka dengan penampilan dan gaya Intan.
"Oh, si Nita. Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Marimar, mengerutkan dahi, ia merasa tak nyaman dekat dekat dengan orang kampung apalagi ia belum kenal jelas.
Namun, Marimar berusaha menampilkan wajah ramahnya dan juga sifat baiknya, agar orang orang selalu membicarakan kebaikannya.
"Saya dengar anda sedang mencari seorang anak untuk di adopsi," ucap Intan, masih pada posisinya yang berdiri, ia sudah merasakan rasa pegal. Karena sang tuan rumah belum menyuruhnya duduk.
"Mm, ya. Memang, saya ingin mencari anak wanita yang ingin saya adopsi. Dan sekarang saya mau kr panti asuha. Karena di desa ini tak ada anak yatim," balas Marimar, memperlihatkan kebaikannya di depan Intan.
Intan bersorak hore, jika apa yang dikatakan ibu ibu benar, Marimar tengah mencari seorang anak. Jadi Intan bisa menjual Lulu sekarang juga pada Marimar.
__ADS_1
Marimar yang melihat Intan tersenyum sendiri, merasa heran. Ia bertanya dengan memukul pelan bahu Intan. " Kamu kenapa?''