Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 242


__ADS_3

"Bu Nira Kami punya berita baru untuk ibu, tapi Bu Nira jangan marah ya. Ini berita pastinya bakal membuat ibu Nira terkejut." ucap wanita berumur tiga puluh dua tahun itu dengan tak sabarnya ingin menceritakan tentang Nita dan juga anaknya Bu Nira.


"Emangnya ada apa sih. Bu Suci? Dan yang lainnya juga, kok pada heboh banget. Tumben-tumbenan loh, kalian datang ke rumah saya?" tanya Bu Nira nampak penasaran dengan wajah-wajah para ibu-ibu yang terlihat begitu bergembira di depannya.


"Ya pastinya kita heboh lah, ini menyangkut dengan anak ibu, si Saiful." timpal Bu Sari menyingkirkan Bibir bawahnya. Rasa penasaran semakin menggebu pada hati Bu Nira, apalagi mendengar nama anaknya disebut.


"Ada masalah apa dengan Saiful? Kenapa mereka menyebut nama anakku. Apa anakku melakukan hal yang patal sampai ibu ibu ini, begitu heboh datang ke rumahku," gumam hati Bu Nira. Menatap para ibu ibu biang gosip yang selalu menyebabkan masalah di kampung.


Sebenarnya Bu Nira sudah lelah dan dengan para ibu-ibu di kampungnya, karena mereka keterlaluan. Memfitnah Nita tanpa bukti, kadang menghina Nita.


Apalagi ketika ada orang baru datang ke kampungnya, mereka selalu membuat tak nyaman dan malah memusuhi orang baru itu.


Rasa tak nyaman sudah dirasakan sejak dulu oleh Bu Nira, semenjak bergaul dengan ibu ibu di kampungnya yang pandai bergosip.


Ingin sekali menghindar, tapi apa daya. Jika ia menghindar, ibu-ibu pasti akan mencemooh dan menghina dirinya.


Menyalahkan bahwa Bu Nira adalah orang munafik, dengan keterpaksa Bu Nira menyembunyikan kekesalannya dan kemunafikan pada ibu ibu di kampungnya. Agar namanya selalu baik di mata para orang-orang.


"Ibu ibu. Memangnya kenapa dengan anak saya?" tanya Bu Nira, dengan nada sayunya. Ia memegang dada berpura-pura terkejut setelah nama anaknya disebut.


Bu Suci yang selalu menebarkan fitnah, memegang bahu Bu Nira, " tadi saya pas nongkrong sama ibu-ibu melihat Saiful dan Nita berboncengan, sambil peluk-peluk gitu."


Deg ....


Bu Nira memegang dadanya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan para ibu-ibu di kampungnya, padahal Bu Nira sudah mengingatkan anaknya agar menjauhi Nita.


Namun karena rasa cinta yang begitu besar terhadap Nita, saiful tak memperdulikan omongan ibunya sendiri. Anaknya itu bersih keras ingin memiliki Nita dan meminangnya menjadikan gadis berhidung mancung itu menjadi istrinya.


Lamunan Bu Nira membuyar, saat Bu Suci bertanya kembali," Ibu ini melarang Si Saiful tidak sih, agar tidak berdekatan dengan gadis pembawa sial itu. Ibu tahu sendiri kan dia itu anak si penipu, kedua orang tua Nita itu udah nipu uang kita kita."

__ADS_1


Bu Suci tersenyum tipis, saat berkata tentang kedua orang tua Nita. Di mana ibu Nita itu adalah saudaranya sendiri, bernama Siti.


Sengaja Siti dan suaminya difitnah karena sudah menghilangkan uang ratusan juta, orang orang dikampung. Karena rasa iri Suci, melihat Siti di sanjung orang orang di kampungnya.


Siti pintar mengelola uang para ibu ibu dan yang lainnya, ia membuka investasi besar besaran di kampung halamanya, dimana para ibu ibu percaya.


Mereka perlahan mempercayai Siti dan menginvestasikan uang mereka kepada Siti.


Siti berhasil membuat uang investasi ibu ibu membesar, sampai hal yang tak di inginkan terjadi. Saat Siti selesai membawa uang dari bank untuk memberikan pada para ibu ibu. Pada saat itulah Suci dengan sengaja mencuri uang para ibu ibu dan memfitnah adiknya sendiri.


Bahwa uang itu habis di belanjakan baju dan yang lainnya, Suci sudah merencanakannya dari awal awal. Sampai ibu ibu di kampung marah, dan hilang kendali.


Dimana orang orang begitu sadis, membakara Siti dan juga suaminya, kemarahan itu, tak membuat mereka berpikir dengan jerni dan waras, menyelesaikan secara hukum atau kekeluargaan.


Mereka lebih mengandalkan emosi dan mempercayai omongan dari pada mencari bukti, sampai Nita menjadi korban kematian kedua orang tuanya.


Suci tersenyum bahagia, melihat kematian adik kandungnya sendiri. Karena sifat iri dan suksesnya sang adik mengantarkan ia dalam kejahatan untuk menyingkirkan Siti.


Tak ada keadilan untuk Siti dan suaminya, mereka hanya bisa pasrah dan menerima semuanya dengan lapang dada.


Nira terlihat gugup, ia menjawab." Saya sudah melarang anak saya dan mengancamnya. Tapi kenapa Saiful begitu ngeyel, apa dia tak menyesal sudah kenal dengan Nita."


"Saya sih sayang banget sama si Saiful punya rupa tampan, mapan. Pekerja keras, mau maunya sama anak tukang nipu," ucap Bu Nia. Mempelihatkan kebenciaanya pada Nita.


Bu Nira, sudah tak tahan dengan ocehan para ibu ibu di rumahnya. Apalagi pada Bu Suci yang selalu bersikap baik dan sok benar, " bisa bisanya dia menjelekkan adiknya sendiri, Suci, Suci."


Bu Nira menggelengkan kepala sembari bergumam pada hatinya.


Bu Nira berpura pura kesal dan marah-marah di hadapan para ibu-ibu, agar ibu-ibu di kampungnya, tak mencurigai bahwa sebenarnya Bu Nira sangat menyetujui anaknya dengan Nita.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu. Saya akan susul Saiful dan Nita ya ibu ibu." Ucap Nira, memperlihatkan kemarahannya.


Para ibu ibu mulai bangkit dari tempat duduknya, untuk segera, melihat kemarahan Bu Nira kepada anaknya dan juga Nita.


Bu Suci semakin senang, jika keponakannya itu menderita, selalu tersenyum di atas penderitaan saudaranya sendiri.


"Rasakan kamu Nita."


Suci tak pernah berhenti memfitnah ataupun menjelek-jelekkan keponakannya sendiri kepada orang lain, begitupun ibu-ibu di kampung.


"Bu Suci, ayo kita pergi lihat kemarahan Bu Nira pada anaknya."


"Ya sudah, ayo. Pastinya seru."


*******


Nita dan juga Saiful yang sudah sampai di rumah Pak Kosim, mulai turun dari motor, mengetuk pintu rumah lelaki tua itu.


Nita berharap ada jawaban tentang kepergian Intan dan juga Lulu.


"Nit, kok kamu panik dan gelisah begitu?" tanya Saiful merasa kasihan.


"Jelas Aa, aku takut jika sahabatku sampai menjual Lulu ke Nyonya Marimar, Aa tahu sendiri kan kalau Intan itu cukup jahat!" jawab Nita. Saiful penasaran dengan cerita yang sebenarnya terjadi.


Namun di saat Nita mulai menceritakan semuanya kepada Saiful, sosok lelaki paruh baya itu membuka pintu. "Loh, Neng Nita ada apa?"


"Akhirnya ada, Pak Kosim!"


"Ada apa, kok. Sampai keringatan gitu nyari bapak."

__ADS_1


Saiful tak suka dengan lagat Pak Kosim yang selalu gatal terhadap gadis-gadis di kampung, apalagi terhadap Nita gadis yang ia puja.


"Biasa aja kali nanyanya, sok merayu," cetus Saiful. Memperlihatkan api cemburu. Dihadapan lelaki tua yang tentu saja bukan saingannya.


__ADS_2