Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 288


__ADS_3

"Memangnya ibu terlihat tidak baik baik saja begitu?" tanya wanita tua yang bernama Bu Nira.


"Ya, ibu terlihat kurang sehat. Dan kenapa mereka ada di sini!" jawab Saiful merasa penasaran akan kedatangan para ibu ibu di kampung.


"Meraka datang ke sini untuk menunggu kedatangan Nita, dari tadi siang mereka menunggu kepulangan kalian berdua. Makannya mereka langsung menggerumuni Nita, Kamu mau tahu kenapa alasannya," ucap Nira membuat anak semata wayangnya itu penasaran.


"Memang alasannya kenapa?" tanya Saiful, dimana Bu Nira menaruh cemilan di atas meja depan rumah. Iya kini menjelaskan Kedatangan para ibu-ibu yang menunggu di rumahnya," kamu Ingatkan kemarin perkataan Ibu di rumah sakit, mereka itu datang hanya untuk bertemu dengan Nita dan meminta maaf kepada dia, karena alasan mereka yang tidak mau masuk ke dalam penjara."


Saiful baru sadar dan juga mengingat hal itu, ia tersenyum lebar, di mana sang Ibu juga turut ikut tersenyum karena bagaimanapun para ibu-ibu itu pantas diberi pelajaran.


"Oh jadikan karena alasan itu, baguslah agar mereka sadar, dengan kesalahan mereka sendiri."


Ibu dan anak itu hanya memandangi para ibu-ibu yang menggerumuni Nita. Mereka melipatkan kedua tangan dan berkata.


"Kita tunggu jawaban dari Nita."


*****


Nita merasa tak nyaman dengan para ibu ibu yang terus mengerumuninya, " Nita, kami minta maaf."


Kata kata maaf dari mulut ibu ibu terus terucap terdengar dari kedua telinga Nita." iya."


Para ibu ibu masih tak puas dengan jawaban yang terlontar dari mulut Nita, mereka menggenggam tangan Nita," apa kamu sungguh-sungguh Nita memaafkan kamu semua."


Raut wajah gelisah nampak pada para ibu-ibu, Kelihatan sekali mereka ketakutan," Kami menyesal, karena sudah menyakitimu dulu."


Nita tetap memperlihatkan senyumannya," sudah tak usah memikirkan kejadian dulu, sebelum kalian meminta maaf Nita sudah Maafkan kalian semua."


Betapa mulianya hati Nita, memaafkan para ibu-ibu begitu saja tanpa menghukum dan membuat mereka jerah.


"Kamu benar-benar wanita yang begitu baik, kami semua salut kepadamu, beruntung Saiful mendapatkan wanita sesabar kamu Nita."


Nita mengerutkan dahi mendengar pujian dari para ibu-ibu," sudah kalian tak usah memuji Nita begitu berlebihan. Nita bisa ikhlas menjalani kehidupan Nita yang sekarang, melupakan penderitaan yang dulu Nita rasakan."


Para ibu bergantian memeluk Nita, mereka bernapas lega," terima kasih Nita."


Nita memperlihatkan betapa indahnya memaafkan.

__ADS_1


Setelah ibu ibu mengelilingi Nita, mereka kini menghampiri Bu Nira.


"Bu Nira, kami pamit dulu ya, sekarang perasaan kami benar-benar tenang setelah mendapatkan kata maaf dari Nita," ucap para ibu-ibu berterima kasih kepada Bu Nira.


"Iya, kalian semua tenang saja, calon menantuku itu memang baik hati."


Lagi dan lagi Nita mendapat pujian dari Bu Nira, membuat kedua pipinya memerah. Ia merasakan betapa indahnya Rasa Bahagia," cie. Calon mantu."


Para ibu ibu mulai berlalu pergi meninggalkan Nita, di mana raut wajah gadis itu tetap saja menampilkan kemerahan. Karena rasa malunya, " Ibu ibu, sudah ah bercandanya malu."


********


Saiful mulai berpamitan kepada ibu dan juga calon istrinya," Bu, Saiful pamit dulu ya mau pergi ke rumah teman."


"Loh, jangan pergi lah ibu kan tidak ada temannya, apalagi sekarang ibu sudah siapkan makanan untuk kamu dan juga Nita."


"Nggak enaklah bu, masa iya Nita nginap di sini pas ada aku di rumah."


"Kan ada ibu ini, Biarkan kita tidur di kamar Ibu saja, kamu di luar rumah."


"Aduh bu, dingin dong."


"Tuhkan Saiful jadi malu."


"Sudah ayo. Kalian pasti lapar kan belum makan di jalan. "


Pertanyaan sang ibunda sangatlah benar, selama Saiful dan juga Nita pergi, mereka sampai lupa mengisi perut mereka berdua.


Saking sibuknya menjenguk intan dan juga Bu suci, membahas tentang Nyonya Marimar.


"Belum sih."


"Tuh kan benar kata ibu, ayo masuk sekarang."


Bu Nira merangkul bahu Nita, membuat Saiful yang melihat pemandangan itu kini menghentikan langkah kakinya dan berkata," lah. Masa Nita saja yang dirangkul bahunya. Saiful kok nggak. Ibu jadi pilih kasih begitu sih Saifulkan kesal."


Tawa mulai dilayangkan Nita dan juga Bu nira, melihat tingkah Saiful yang terlihat begitu kekanak-kanakan," Kamu ini gimana sih Saiful, Kamu kan udah gede. Biarkan saja ibu yang memanjakan calon menantu Ibu ini, kamu kan sudah kenyang dari waktu kecil hingga segede ini."

__ADS_1


"Ya elah bu, tetap saja kan perhatian itu harus ditunjukkan dari orang tuanya sendiri," balas Saiful, dimana Bu Nira kini melangkahkan kakinya Ke belakang untuk merangkul anak satu-satunya."


"Tuh, kan udah ibu rangkul."


Saiful nampak begitu bahagia, sekilas ia menatap ke arah wajah calon istrinya, mengedipkan kedua mata seraya memajukan kedua bibirnya.


Nita yang melihat pemandangan calon suaminya, kini membalas dengan satu kepalan tangan mengarah ke arah Saiful.


Hidangan sudah tersedia.


Bu Nira langsung menyuruh Nita untuk duduk begitupun dengan anaknya, mereka mulai menyantap makanan mereka, terlihat sekali begitu bahagianya mereka bertiga.


"Wah, masakan Ibu enak sekali."


Pujian kini dilayangkan oleh Nita kepada Ibu mertuanya, Saiful yang melihat pemandangan istrinya kini mengatakan hal yang tak enak hati di depan sang Ibunda," terlalu berlebihan masakan Ibu ini enak tapi terlalu asin."


Bu Nira mendengar ucapan Saiful kini menjewer anak pertamanya itu," tadi kamu bilang apa masakan ibu itu keasinan."


"Aduh bu, sakit."


Baru kali ini Nita melihat pemandangan seorang anak dan juga ibunya tengah bercanda hanya karena makanan, dia tersenyum kecil mengingatkan sang Ibunda yang sudah tiada.


"Nita, kamu menangis sayang?" tanya Bu Nira kepada calon menantunya itu.


Nita berusaha mengusap pelan air matanya yang mengalir, ia tak sadar jika dirinya tengah menangis mengingatkan Ibunda yang sudah lama meninggal dunia.


"Apa yang kamu tangisi, sini peluk ibu."


Bu Nira menawarkan sebuah pelukan agar Nita merasa nyaman dan juga merasa hangat akan dekapan sosok seorang ibu.


" Apa sekarang kamu sudah merasa nyaman?"


Pertanyaan Bu Nira, membuat Nita terlihat begitu senang. Baru hari ini mendapatkan sebuah pelukan hangat dari sosok seorang ibu yang akan menjadi mertuanya.


Saiful melihat pemandangan itu tersenyum lebar, tak sia-sia ia memperjuangkan cintanya untuk Nita, yang di mana Nita perempuan baik, penyabar dan juga tidak pernah menyimpan dendam.


" kamu harus kuat ya. Jangan bersedih lagi, kedua orang tua kamu itu tengah bahagia. Jadi sekarang kamu harus bahagia dengan jalan kehidupanmu sendiri, Tak usah kamu memikirkan lagi masa lalu yang sangat menyedihkan."

__ADS_1


Nasehat dari Bu Nira membuat sebuah kata-kata semangat bangkit dari dalam hati, saat itulah pihak polisi menelpon Nita.


Entah maksud apa polisi menelepon?


__ADS_2