Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 243


__ADS_3

Nita mendengar perdebataan antara Pak Kosim dan juga Saiful, membuat Nita sedikit membentak keduanya," stop. Kalian kenapa jadi ribut begini."


"Ya maaf, Nita. Aa kesal sama Pak Kosim pake acara ngerayu gitu," timpal Saiful, mengerutu kesal.


"Sudah Aa, Pak Kosim juga sudah punya istri," balas Nita, membulatkan kedua matanya.


Nita membalikkan badan ke arah Pak Kosim dan bertanya." Maaf ganggu, Pak Kosim. Nita ke sini mau tanya soal Intan. "


Lelaki tua itu mengerutkan dahi, " Intan. Yang mana ya neng, soalnya tadi penumpang banyak gadis sama janda. Cuman ada tadi sekitar jam sebelasan mungkin, gadis bawa anak kecil."


Mendengar Pak Kosim berkata soal gadis yang membawa anak kecil, membuat Nita langsung menjawab." ya, yang itu Pak Kosim. Seorang gadis bawa anak kecil seusia 3 tahun."


"Oh, dia minta di antarkan ke rumah Nyonya Marimar."


Deg ....


Sudah tak salah lagi, benar dugaan Nita. Intan pasti ingin menjual Lulu pada Nyonya Marimar, betapa kejamnya Intan, jika mempunyai niat seperti itu.


Nita sekarang tak melihat sahabatnya yang dulu baik hati. Kini berubah menjadi kejam dan juga tega. "Intan kenapa kamu lakukan semua ini."


Nita mulai berpamitan kepada Pak Kosim, berterima kasih karena sudah memberitahunya," Pak Kosim terima kasih ya."


"Ya, neng sama sama."


Ponsel wanita terus berbunyi, di mana ia sedang berjalan menemui Saiful, perlahan ya rogok saku celana, melihat siapa orang yang sudah meneleponnya.


Jelas tertulis dari nama ponsel itu, adalah Galih. Nita kini dibuat bingung, entah apa yang harus ia lakukan, memberitahu yang sebenarnya atau menyembunyikan terlebih dahulu.


"Nita, ayo."


Saiful berteriak menyuruh Nita untuk menaiki motornya.


"Iya, Aa."


Nita berjalan untuk Segera menaiki motor Saiful, dengan terburu-buru ia tak memperdulikan ponsel yang terus berbunyi.

__ADS_1


kemungkinan, kedua orang tua Lulu masih berada dalam perjalanan menuju ke kampung halaman Nita, masih banyak waktu untuk bisa membawa Lulu dari jeratan Marimar dan juga Intan.


"Sekarang kita pergi ke mana?" pertanyaan Saiful membuat Nita sedikit gugup, apalagi ia melihat seorang wanita tua berjalan menghampiri mereka berdua.


"Aa, tanya sama kamu loh, neng," ucap Saiful menatap ke arah Nita.


Namun Nita menunjuk ke arah seorang ibu yang tengah berjalan ke arahnya. Terlihat dari kejauhan ibu itu menampilkan kemarahan," kamu kenapa?"


"Aa liat ke depan, itu seperti Ibu Nira?" tanya Intan, Saiful kini menatap ke arah depan, memang iya melihat sosok wanita tua menghampiri dirinya.


Dimana wanita tua itu adalah sang ibunda," Saiful ternyata kamu ada di sini."


Sebenarnya Bu Nira tak ingin memarahi anaknya sendiri, apalagi Nita. Ia merasa tak tega jika harus memisahkan kedua Insan yang sedang jatuh cinta.


"Ibu. Ngapain ibu datang ke sini."


Bu Nira memberi kode kepada anaknya, begitupun dengan Nita. Agar takut terhadapnya, karena ini adalah sebuah drama, agar ibu-ibu percaya bahwa Bu Nira memisahkan mereka berdua.


Sebelum para ibu-ibu datang, Bu Nira membisikkan perkataan di hadapan kedua anak-anaknya." kalian harus takut terhadap ibu ya, saat para biang gosip itu datang menghampiri kita."


Nita sudah tahu dari dulu, bahwa Bu Nira itu adalah orang yang baik. Wanita tua itu juga yang menyumbangkan uang untuk pemakaman kedua orang tuanya, ia tahu Bu Nira berpura-pura baik terhadap ibu-ibu di kampung.


Para ibu-ibu yang berlarian, untuk melihat pertunjukan di mana Bu Nira memarahi anaknya sendiri begitupun dengan Nita.


Mereka seperti senang, di saat Nita dihina dan dicaci oleh orang-orang sekampung.


"Tuh, kalian lihat ibu-ibu sudah pada datang ke sini, waktunya berakting."


Nita berpura-pura menangis, sedangkan Saiful hanya bisa terdiam.


"Kenapa, kamu terus mendekati anak saya, apa tidak ada lelaki lain yang mau sama kamu?" Bu Nira berpura-pura membentak Nita di hadapan para ibu-ibu.


Saiful yang berperan menjadi penolong Nita kini berucap," Ibu jangan suka melarang-larang Saiful untuk menolong Nita, sudahlah Bu. Saiful ingin pergi bersama Nita."


Bu Nira memegang berpura-pura mencengkeram tangan Nita, agar ibu-ibu semakin percaya, bahwa Nira begitu membenci Nita.

__ADS_1


"Bu, Ibu ini apa-apaan sih, apa ibu malah menyakiti Nita. Dia itu gadis yang baik bu, jangan pernah salahkan dia."


" Baik dari mananya, jelas kedua orang tua Nita itu adalah seorang penipu."


" Dari mana Ibu tahu kalau kedua orang tua wanita itu seorang penipu, apa Ibu sudah menyelidikinya dengan polisi, atau hanya karena ucapan saja dan juga fitnahan orang-orang di kampung."


"Sudahlah Saiful kamu jangan suka membantah ibu ya, jelas Nita itu sudah bersalah begitupun dengan kedua orang tuanya. Kalau memang salah mana buktinya Bu, bukan malah memfitnah seenaknya."


Bu Nira berusaha menyempurnakan aktingnya, ia memegang bahu Nita, tangannya mulai melayang ke arah pipi Nita. Namun dengan Sigap ditahan oleh Saiful," Ibu ini apa-apaan sih. Jangan pernah sakiti Nita."


"Tapi dia pantas menerima semua itu, Sudahlah sebaiknya kamu pulang ke rumah. Jangan pernah urus gadis penipu ini."


" Ibu tidak ada hak melarang-larang Saiful untuk dekat dengan wanita manapun, apalagi Nita."


"Saiful."


"Sudahlah bu, ibu itu terlalu mendengarkan perkataan dan juga gosip para ibu-ibu di kampung. Sampai membuat kita menderita, harusnya ibu itu bisa melihat Siapa yang salah dari kejadian kedua orang tua Nita."


"Apa maksud kamu."


"Bukan maksud apa-apa, Saiful hanya mengingatkan ibu. Karena suatu saat nanti akan ada Karma yang menimpa orang yang sudah membuat fitnah dan juga jahat terhadap kedua orang tua Nita."


" jaga ucapan kamu Saiful."


"Di jaga bagaimana lagi, bu. Sudahlah setelah ini Saiful akan menyelidiki kasus tentang penipuan yang dilakukan oleh kedua orang tua Nita, begitupun dengan melaporkan kasus mereka kepada polisi, polisi menyelidiki kasus penipuan itu."


Deg .... Bu Suci yang mendengar perkataan Saiful merasa ketakutan, jantungnya berdebar kencang tak karuan. Karena merespon rasa takut setelah mendengar kata polisi.


"Asal ibu tahu ya, polisi itu pasti bisa menyelidiki siapa penjahat dan juga dalang fitnah yang sudah membuat kedua orang tua Nita meninggal dunia dengan cara yang sadis."


" Sudahlah Saiful kamu itu terlalu dibutakan dengan cinta sebaiknya kamu pergi ke rumah dan jangan pernah mengantarkan Nita ke mana-mana."


" Saiful tak peduli Bu."


Saiful kini menjalankan mesin motornya, di mana Nita masih duduk di belakang motor Saiful.

__ADS_1


"Saiful."


" sudahlah Bu Saiful dan Nita pergi dulu, Ibu tak usah kuatir dengan kami. karena kami bukan anak kecil yang sebisa Ibu diatur."


__ADS_2