Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 248


__ADS_3

Nita masih menunggu di gerbang rumah Marimar, mereka berharap jika Marimar pulang, persaan gelisah mungkin akan tenang saat Nita menanyakan keberadaan Lulu yang sebenarnya.


"Gimana neng, apa kita pulang saja?" tanya Saiful pada Nita.


"Tunggu dulu Aa, kita harus tunggu Nyonya Marimar!" jawab Nita, masih menyimpan harapan di depam rumah Marimar.


Saiful memegang tangan Nita, memberikan katenangan agar Nita tidak gelisah," Nit, kamu kenapa? Sampai gelisah begitu?"


"Aku takut, nanti hanya memberikan informasi palsu dan aku yang tersalahkan!" jawaban Nita membuat Saiful tersenyum lebar, berusaha menenangkan hati dan pikiran gadis yang ia cintai.


"Kamu harus tenang, Aa yakin. Lulu pasti akan ketemu," balas Saiful.


Suara ponsel kini bergetar kembali, pada akhirnya Nita mengangkat panggilan telepon dari Galih.


Dengan tangan gemetar dan juga hati bingung, harus menjawab apa. Saiful menyakini Nita dengan raut wajahnya.


"Halo, Nita. Apa kamu dengar suara saya, kenapa kamu tidak menganggkat panggilan telepon dari saya. Bagaimana keadaan Lulu, saya kuatir dengan anak saya, makanya polisi sudah ada di rumahmu."


Deg ....


Mendengar kata polisi membuat Nita ketakutan, walau ia tak bersalah, tapi ia sempat menyembunyikan Nita berhari hari.


"Maafkan saya, Pak Galih. Lulu di bawa pergi oleh Intan, entah ke mana? Saya cari keberadaan Lulu tak ketemu, mengejar Intan dia sudah kabur," balas Nita, membuat kekecewaan pada hati Galih dan juga Anna.


Mengusap kasar wajah, Galih dan Anna hampir sampai di tempat tujuan, tapi mendengar pernyataan Nita membuat ia kecewa.


"Kamu harus tanggung jawab, Nita. Seharusnya kamu itu menjaga anak saya dengan baik," hardik Galih, rasa kesal menyelimuti pikiran lelaki itu.


Mungkin karena perjalanan jauh, membuat Galih tak bisa berpikir jerni, sampai memarahi Nita yang jelas jelas berniat membantu.


"Saya juga lagi berusaha mencari keberadaan, Lulu. Pak, saya sudah berniat membantu bapak, tapi kenapa bapak menyalahkan saya, bukan saya bilang segera datang saat saya kasih tahu. Tapi kedatangan bapak itu begitu lambat, dan melaporan polisi tidak langsung cepat bertindak."


Gerutu Nita, ia juga merasakan hal yang sama. Kesal karena harus bertanggung jawab, jelas jelas dia hanya korban ketidak tahuan dalam kejahatan Intan.


Galih berusaha tenang, memang ia lambat. Melaporkan polisi. Karena kondisi Anna yang tidak baik pasca kehilangan Lulu, apalagi pekerjaan menumpuk. Membuat ia hanya menyerahkan pada suruhannya.


Dimana suruhannya itu kurang cepat dalam menjalankan printah sang tuan.

__ADS_1


Semua kacau, benar benar kacau. Galih melihat raut wajah istrinya tampak senang. Karena akan bertemu dengan Lulu, tapi setelah sampai di kampung halaman, Galih kebingungan karena ternyata Lulu sudah di bawa pergi oleh Intan.


Informasih yang di jelaskan Nita tak jelas bagi Galih, terlalu berbelit.


Anna melihat sang suami, memperlihatkan wajah gelisahnya, ia mulai bertanya." Mas, kamu kenapa. Kok kelihatan panik begitu?"


Pertanyaan Anna, membuat Galih gugup, ragu mengungkapkan dengan nasib yang menimpa Lulu.


"Tidak apa-apa. Kok, hanya sedikit pegal," balas Galih, masih memegang stri mobil, ia tetap fokus melihat ke arah jalanan.


"Mas, aku sudah nggak sabar ketemu dengan Lulu, memberikan hadiah ia suka. Berharap jika Lulu mau memaafkan aku yang tak pernah memperhatikan," ucap Anna dalam balutan kesedihan, kedua tangan memegang erat sebuah kado yang baru saja ia beli untuk anak perempuannya itu.


Ia rindu sekali dengan senyuman dan juga teriakan Lulu, apalagi dengan tangisan ketika ia merengek menginginkan sesuatu.


Wajah gemas anak itu selalu terbayang dalam Anna, rasa tak sabar sudah memburu dalam hati. Ingin segera melayangkan sebuah pelukan hangat, dan dekapan kasih sayang.


Galih mengusap pelan kepala rambut istrinya, berharap jika Anna sanggup menerima kenyataan yang sesungguhnya.


"Kamu kenapa kok malah nangis, Mas."


Galih tak sadar jika kedua matanya mengeluarkan rintikan air mata, membuat Anna perlahan mengusap air mata itu," masa cowok cengeng."


******


Bu Suci yang kini sampai di rumah Marimar, melihat Nita dan juga Saiful berada di gerbang rumah Marimar.


Mereka seperti ingin pergi, dimana Bu Suci melihat Nita menaiki motor Saiful.


Wanita tua yang menjadi tante Nita kini menuju ke arah keponakannya," tuh pak, dia Nita keponakan saya. Benarkan, dia habis dari rumah Nyonya Marimar."


Polisi mulai turun untuk menghampiri Nita, di mana wanita berhijab itu terkejut begitupun dengan Saiful.


"Polisi."


"Maaf dengan saudara Nita?"


Pertanyaan polisi membuat Nita ketakutan, ia menelan ludah, raut wajah polisi itu sedikit menakutkan.

__ADS_1


"Ya saya sendiri!"


Jawab Nita dengan gugup, sedangkan saiful tetap saja menemani Nita tanpa melangkah pergi.


Bu Suci baru saja turun dari dalam mobil polisi, memperlihatkan raut wajah ketidaksukaannya terhadap sang keponakan, Nita yang melihat sang tante datang dengan membawa polisi, membuat ia merasa jika ada suatu hal yang tak baik.


"Bibi, kenapa kamu ada di mobil polisi?" tanya Nita. Bu Suci mulai memperlihatkan raut wajah sedihnya," Nita, apa yang sudah kamu lakukan dengan anak itu, ke mana anak itu. Kenapa kamu malah menjadi orang jahat. "


Nita tak mengerti dengan perkataan Bu Suci, yang seakan memojokkannya. Saiful kini menimpal perkataan Bu Suci, menbela Nita.


"Bu Suci, jaga perkataan Bu Suci kami ke sini malahan untuk menyelamatkan anak itu."


Polisi yang tak mau ada perdebatan kini, mengajak semuanya untuk memberikan keterangan sesungguhnya.


"Sudah sudah, sebaiknya kalian ikut kami ke kantor polisi untuk memberikkan keterangan, karena jika di sini hanya akan menimbulkan perdebatan yang saling menyalahkan."


Polisi membuat semua terdiam, saat itulah mobil Marimar datang, wanita bertubuh raping dan seksi itu melihat ke arah kaca mobil, ada beberapa polisi dan sahabat Intan.


"Ada apa ini, kenapa mereka berkumpul diwilayahku."


Kelakson di bunyikan, tanda menyuruh mereka untuk menyingkir, hingga dimana Marimar turun dari dalam mobil.


Nita tampak lega, jika orang yang ia tuju akhirnya. Kembali, " Saiful, itu Nyonya Marimar."


"Iya Nita, berharap jika Nyonya Marimar memberikan kesaksian tentang Lulu."


Bu Suci, hanya bisa melipatkan kedua tanganya, berharap jika Marimar tidak ada di pihak Nita dan juga Saiful.


"Ada apa ini?"


Tanya Marimar, setelah sampai di kerumunan yang tak jelas baginya.


Nita mendekat dan bertanya." Nyonya Marimar, saya datang ke sini untuk menanyakan tentang Lulu anak yang di bawa oleh Intan ke sini."


Deg ....


Marimar membuka kaca matanya, ia menatap ke arah Nita.

__ADS_1


"Sial, aku tak boleh mengatakan jika Lulu sudah laku terjual. Sebaiknya aku berpura pura tidak tahu," gumam hati Marimar.


__ADS_2