Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 266


__ADS_3

Cika menganggukkan kepala, di mana Afdal hanya mengusap kasar wajahnya. Lelaki berkulit sawo matang itu merasa frustasi, ya bingung harus menjawab perkataan istri keduanya bagaimana?


Jika Marimar ada disebelahnya.


"Pantas saja, suamiku itu jarang pulang. Selalu membuat alasan yang tak jelas. Ternyata dia menikahi kamu." ucap Marimar, menunjuk wajah Cika.


Dimana Cika kini menjadi korban akan kebohongan yang di buat buat Afdal.


Afdal tak terima jika istri keduanya ditunjuk-tunjuk oleh Marimar," turunkan tanganmu itu jangan pernah menunjuk nunjuk wanita yang aku cinta."


Kedua mata Marimar akhirnya menitihkan air mata, perlahan demi perlahan hingga membasahi kedua pipi," jadi ini balasan kamu, setelah pengorbananku kamu anggap sampah."


"Pengorbanan apa? Jelas tak ada pengorbanan sama sekali. Tidak seperti Cika, dia wanita baik, solehah sedangkan kamu!" ucapan Afdal membuat tangan Marimar lepas kendali, wanita bertubuh ramping itu kini menampar suaminya di hadapan Cika.


Plakkk ....


"Kamu."


"Apa sehina itu aku dimatamu, Mas, sampai kamu bandingkan aku dengan dia. Kenapa kamu tidak menghargai pengorbananku, susah payah aku melahirkan anak-anakku. Dan kamu seenaknya menyuruhku untuk menjual anak anakku, darah daging kamu sendiri, hanya untuk mencari uang, di saat kamu menjadi pengangguran. Aku rela mencari pudi rupiah tanpa memikirkan kesehatanku, hanya untuk kita makan sehari hari. Apa kamu lupa itu. Sudah banyak semua yang aku pertaruhkan hanya ingin menjadi wanita yang kamu cintai dan istri yang berbakti, tapi apa balasan kamu saat ini, PENGHIANATAN."


Marimar mengungkapkan semua isi hatinya, sampai Afdal murka dan berkata." Diam."


Marimar mulai menatap ke arah istri kedua suaminya, bulatkan kedua mata menuju ke arah anak kecil yang berada di samping Cika.


"Anak itu pasti darah daging kamu kan, mas. Kenapa kamu tidak menjual dia. Hah, kamu rela membuat istri pertamamu hancur dan terhina, sedangkan istri keduamu kau jadikan ratu menikmati semua jerih payahku, hingga aku harus melerakan semua anak anakku demi uang."


Khaira terlihat begitu ketakutan saat melihat Marimar menatapnya.

__ADS_1


"Sudah jangan bicara lagi Marimar, semua omong kosong." Afdal tidak mau mengakui kesalahannya sendiri, ya malah menekan istri pertamanya.


"Omong kosong, gila kamu. Mana ada aku bebicara omong kosong, banyak bukti yang aku simpan." Tegas Marimar.


Cika berusaha melindungi anak semata wayangnya itu, iya tak menyangka jika lelaki yang dia anggap sempurna sebagai suami seorang penjahat berdarah dingin.


"Pah, aku benar-benar tidak menyangka. Jika kamu sejahat itu. Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami, kamu benar-benar kejam, pah. Aku kecewa sekali padamu." ucap Cika, dengan deraian air mata sembari memeluk anak satu satunya.


Marimar merasa senang jika istri kedua suaminya tidak egois, " Cika, tolong kamu jangan berprasangka seperti itu dulu, apa yang dikatakan dia adalah sebuah kebohongan besar."


Cika sekilas menatap ke arah Marimar, dan berkata." Entahlah, pah. Hatiku benar-benar sakit setelah mendengar penjelasan dari wanita ini. Padahal aku menganggap kamu adalah lelaki yang terbaik dalam hidupku. Tapi aku benar-benar kecewa dengan sikap kamu."


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan," Cika, tolonglah beri aku kesempatan, aku berjanji akan mengubah semuanya menjalani hidup denganmu."


"Bagaimana kamu bisa menjalani hidup denganku


Jika kamu masih mempunyai seorang istri?"


"Aku bisa menceraikan Marimar, aku tidak mencintai dia. Aku hanya mencintai kamu, Cika."


Deg ....


Sudah Marimar duga, jika memang dirinya tak ada arti di hadapan sang suami, sudah jelas. Marimar hanya dijadikan sebuah alat untuk mencari uang, membahagiakan kedua insan yang saling mencintai itu.


Betapa bodohnya Marimar, selama ini sudah ditipu akan rasa cinta palsu dari sosok lelaki bernama Afdal, sia-sia pengorbanan Marimar, akhirnya dia akan terluka.


Marimar terlalu berharap kepada sosok manusia, hingga pada akhirnya dia kecewa. Dan sekarang Marimar harus membekam di dalam penjara karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


"Pah, kamu gila ya. Dia itu istrimu, mana bisa kamu bersikap tidak adil seperti itu, aku tidak mau. Sebaiknya kamu ceraikan aku saja sekarang." Ucap Cika, sosok seorang wanita berhijab dengan pakaian sederhananya, terlihat memahami apa yang dirasakan Marimar.


Jika kebohongan itu tidak dilakukan oleh Afdal, kemungkinan besar Cika tidak akan ada dalam masalah, dan dia tidak mungkin menjadi orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga suaminya sendiri.


"Papa." Khaira yang selalu dekat dengan Afdal, memperlihatkan kedua sorot mata kesedihan.


Anak mungil itu, perlahan demi perlahan seperti mengerti apa yang dirasakan kedua orang tuanya.


Afdal mendengar suara anak satu-satunya dari Cika, membuat hatinya tenang." Khaira sayang. Sini."


Khaira perlahan mulai berjalan ke arah Afdal, melihat anak mungil itu begitu merindukan sang ayah, padahal baru 3 jam mereka belum bertemu kembali. Tapi rasa rindu begitu membekas dalam relung anak berumur dua tahu itu.


"Papa ni keapa. Kok nagis." Perkataan mungil yang terlontar dari mulut Khaira, membuat Afdal semakin mengeluarkan air matanya begitu deras.


Afdal berusaha tersenyum dengan menahan tangisan dari kedua matanya, Khaira yang mengerti jika ayahnya sedang menangis dan bersedih, membuat kedua tangan mungil itu mengusap perlahan wajah sang ayah yang basah dengan air mata.


"Kita puang yu, pah." Ajak Khaira pada sang ayah, dimana hati Afdal merasa sakit dengan ajakan anaknya.


Marimar melihat pemandangan itu, membuat ia teringat pada anak-anaknya yang ia lahirkan dengan penuh perjuangan, ada rasa sesal yang mendarah pada hati dan pikirannya. Kenapa bisa dan kenapa bodohnya Marimar menjual harta berharganya kepada orang lain. hanya untuk menuruti perkataan sang suami.


Afdal meraih tangan mungil anaknya itu, " Khaira sayang, papa tidak bisa pulang ya, Papa banyak urusan di sini, kamu harus baik-baik sama mama ya. "


Cika berusaha tak melihat suami dan anaknya yang tengah memperlihatkan kerinduan, ia berusaha menjadi sosok wanita yang egois, di mana ia mengingat perkataan istri pertama dari suaminya itu.


Marimar tak kuasa menahan rasa sakitnya, yang memutarkan badan untuk.


"Papah, ciapa wanita itu?" tanya Khaira menunjuk pada Marimar yang sudah duduk karena menahan rasa sesak di dada.

__ADS_1


Cika mendengar anaknya bertanya soal Marimar, berusaha berucap dengan nada lembut," dia itu .... "


Afdal malah memotong pembicaraan sang istri, seakan tak mau membuat luka hati pada anak mungilnya yang berumur 2 tahun dan belum mengerti soal masalah.


__ADS_2