Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 278


__ADS_3

Perawatan di rumah sakit, cukup lumayan lama. Anna sudah merasa bosan, terus menerus terbaring di atas kasur. Ia ingin pulang segera mungkin mencari lagi keberadaan Lulu.


Galih datang setelah perdebatan bersama ibu-ibu telah usai. Menghampiri sang istri dan bertanya?" Loh kenapa, kok cemberut begitu?"


Lelaki berbadan kekar perlahan demi perlahan mendekati sang istri, ia menampilkan senyumannya di hadapan Anna." kenapa ayo katakan?"


"Aku sudah bosan di sini, gimana kalau kita pulang ke kota saja." Ucap Aira memohon kepada sang suami. dengan harapan jika Galih mau mengabulkan permintaannya.


Memegang tangan Anna, Galih mulai menasehati istrinya itu, berharap jika Anna akan mengerti." Kalau kita pulang sekarang. Aku takut dengan kondisi kamu kenapa-napa nanti di dalam perjalanan, sebaiknya kamu sabar dulu kita tak bisa pulang cepat-cepat, karena keadaan Nita yang belum siuman."


Bukan seperti ini yang diharapkan Anna, ia ingin sehat sedia kala, mencari lagi keberadaan Lulu.


"Kalau aku terus berada di rumah sakit. Bagaimana dengan nasib Lulu?"


Perkataan Anna membuat Galih juga mengerti, tapi di situasi yang tak memungkinkan, seperti sekarang, rasanya susah sekali mencari keberadaan Lulu.


"Kita berdoa saja, jika nasib Lulu di sana baik baik saja," ucap Galih, mengusap pelan jidat sang istri.


"Bagaimana pun, kamu harus tetap tenang ya, kamu harus ingat dengan kondisi kamu yang sekarang," Galih mencoba membuat Anna tidak terlalu terbebani akan masalah Lulu yang belum ditemukan sampai sekarang.


Anna sebagai seorang istri hanya bisa menurut perkataan Galih, yakini mengganggu kan kepala dan diam.


********


Farhan dan Radit, hanya bisa menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang mencari Lulu. Hati mereka seakan resah, karena sang adik sampai sekarang tak ditemukan. Dan tak ada info sedikit pun.


" Kak, bagaimana keadaan Lulu ya?" Tanya Radit begitu mengkhawatirkan adik kesayangannya, sebagai seorang kakak, Radit. sangat merindukan sekali Lulu. Ia selalu terbayang senyuman adiknya yang mengerjainya.


Namun senyuman itu sekejap mata hilang, ketika Lulu tak kembali juga, Farhan lelaki yang sudah menginjak masa remaja, berusaha menenangkan sang adik agar tidak larut dalam kesedihan.


"Kamu harus tenang, percaya pada mama dan papa. Pasti mereka pulang akan membawa Lulu."


Radit tak yakin dengan perkataan kakaknya, ia mencoba menghubungi kedua orang tuanya.

__ADS_1


" Aku tak yakin dengan perkataan Kak Farhan, "


Radit berlari menuju kamarnya, mencari ponsel untuk segera menghubungi Anna sang ibunda, Radit benar-benar kuatir sekali karena sudah dua hari ini tidak ada info dari kedua orang tuanya itu.


Padahal Lulu berjanji kepada Radit, setelah pulang sekolah dia akan bercerita tentang kesedihannya. Tentang aktivitas di sekolah juga, tapi semua perkataan itu hilang sekejap mata.


Radit mencoba meraih boneka kesayangan adiknya, menatap dalam-dalam boneka itu dan bertanya," Kamu sebenarnya ada di mana Lulu, Kenapa belum pulang-pulang juga ke rumah, katanya kamu sudah berjanji mau bercerita kepada Kak Radit."


Radit benar-benar merasa kehilangan sekali, hatinya kini rapuh dan sepi, hanya sosok Lulu lah yang selalu menemani.


Farhan baru menyadari jika adik lelakinya tidak ada di sampingnya saat ini, berteriak memanggil sang adik." Radit."


"Radit."


"Kamu di mana?"


Farhan begitu terkejut melihat adik laki-lakinya berada di kamar Lulu, Farhan perlahan berjalan menghampiri sang adik, " kenapa kamu malah ada di sini?"


Kedua mata berkaca-kaca itu Radit tampilkan di hadapan Farhan. " Radit, kamu menangis lagi. Apa karena Lulu. "


"Radit, kakak tanya sama kamu?"


Radit mulai membuka mulutnya, mengatakan apa yang dirasa sekarang. " Iya kak, Radit benar-benar merindukan Lulu sekarang. Radit merasa sedih jika Lulu sampai sekarang belum di temukan."


Farhan mendekat lagi, karena memang menasehati seorang adik bukanlah hal yang mudah, Farhan hampir kewalahan, ya tak bisa membujuk Radit agar bisa tenang.


"Radit, kamu harus tenang ya?"


"Bagaimana aku bisa tenang, kak. Aku hubungi mama beberapa kali tapi tak diangkat juga! "


"Kakak juga mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, tapi kita itu tidak tahu keadaan Mama di sana bagaimana, kamu harus lebih tenang tidak terlalu larut dalam kesedihan."


Dreet ....

__ADS_1


Tiba tiba perdebatan kecil antara adik dan kakak seketika berhenti, di saat Ana menelepon.


Radit tampak senang, ada satu panggilan dari sang ibunda. Dadi tadi Radit menantikan sang ibunda menelepon, sama setiap kali Radit hubungi sang ibunda, tak ada jawaban sama sekali.


Mengangkat panggilan telepon dan berkata," Halo mah, pah. "


Anna bahagia mendengar suara Radit," Radit. Apa kamu baik baik saja di sana."


Radit mengusap air matanya yang terus berjatuhan, dengan kasar." Mama. Kami di sini baik-baik saja. Bagaimana keadaan Mama dan juga Papa?"


"Papah dan mama di sini baik baik saja, mama dan papanya ingin memberitahu kalian. Jika kita pulang akan lebih lama lagi!"


Deg ....


Mendengar perkataan sang ibunda dari sambungan telepon, membuat Radit kini bertanya keadaan Lulu," di mana Lulu. Apa dia sudah ditemukan, Radit rindu sekali dengan Lulu, Radit ingin sekali mendengar suara Lulu."


Anna seketika terdiam, ya bingung harus menjawab apa kepada anaknya. Karena Anna juga sangat merindukan Lulu, sampai hari ini pun Ana dan juga Galih belum menemukan keberadaan Lulu, belum ada informasi lagi dari pihak Kepolisian.


"Mah, kok kalian malah diam saja saat aku bertanya? Ke mana Lulu, apa dia baik-baik saja?" tanya Radit menekan sang ibunda untuk menjawab pertanyaannya.


Farhan berusaha menenangkan adik pertamanya itu," sudah kamu jangan marah-marah saja. "


Sang kakak memang selalu peduli dengan adiknya," Radit, kamu tak boleh menekan mama dan papa seperti itu."


Bukannya merubah pertanyaan tentang Lulu, Radit malah mengatakan hal yang tidak menyenangkan untuk hati Anna dan juga Galih, " Kenapa sih setiap kali Radit melayangkan pertanyaan? Kalian malah dia membisu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Lulu. "


Farhan sedikit mendengar Radit membentak Anna dan juga Galih. Farhan yang tak suka dengan amarah Radit, kini dengan lantang mengambil ponsel yang dipegang oleh adiknya itu.


"Kak, kembalikan ponsel itu."


Farhan mengerti situasi sang ibunda sekarang seperti apa, dia mulai menasehati adik pertamanya dengan berkata," Kakak ini tidak suka dengan kamu yang selalu membentak orang tua, Seharusnya kamu ini lebih sopan dan belajar beradap."


Radit melipatkan kedua tangannya seakan tak memperdulikan apa yang dikatakan Farhan, kelakuan Radit begitu Sama persis dengan ayahnya yang kini ada di dalam penjara.

__ADS_1


"Kembalikan ponselku, kakak tidak berhak merebutnya dari tanganku begitu saja," bentak Radit seperti tak ingin dinasehati.


__ADS_2