Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 261


__ADS_3

Mendengar pernyataan dari Intan, membuat dada Anna merasakan rasa sesak dan sakit, karena Lulu di jual paksa.


"Berapa kamu menjual anakku pada dia?" tanya Anna, berusaha bersikap tegar mendengar setiap baris kata yang dilontarkan Intan.


Anna tidak mau menampilkan kemarahan, yang malah akan membuat Intan ketakutan dan tidak mau menceritakan kejadian sebenarnya.


"Seratus juta!" jawab Intan. Nominal uang yang cukup lumayan besar, sepertinya Marimar bukanlah sosok wanita sembarangan, ia membeli seorang anak dari Intan senilai meliaran. kemungkinan besar Marimar menjual kembali dengan nominal yang lebih besar dari jumlah yang diberikan pada Intan.


"Sekarang kamu apakan uang itu, kamu pakai senang-senang atau kamu .... "


Belum pertanyaan Anna terlontar semuanya, Intan memotong pertanyaan sang ibunda Lulu. "Saya belum pakai uang itu sama sekali, selembar. "


Anna duduk sembari menatap lembut Intan, " lalu kamu kemanakan uang itu, jika memang belum tersentuh olehmu sedikitpun?"


"Dalam perjalanan menuju bus, ada sekawanan orang menahan saya, mereka membawa saya ke hadapan Nyonya Marimar, uang 100 juta itu diambil kembali oleh Nyonya Marimar!" jawaban yang begitu memilukan, terdengar oleh kedua telinga Anna.


Intan menelan ludah, dan berucap kembali." saya malah disiksa, di sekap oleh Nyonya Marimar dan tak diberi makan sedikit pun. "


Perkataan Intan tak membuat hati Ana luluh, kemungkinan besar itu adalah hukuman untuk seorang gadis yang tega menjual anak orang lain. Tanpa memikirkan nasib kedua orang tuanya.


"Sekarang Lulu ada dimana?" Anna bertanya kembali kepada Intan, berharap jika gadis bermata bulat itu mengetahui keberadaan Lulu.


"Setelah memberikan Lulu kepada Nyonya Marimar, sampai saat ini saya tidak tahu Lulu dibawa ke mana oleh Nyonya Marimar, karena dari cerita semua orang yang bekerja di rumah Nyonya Marimar. Setiap kali seorang ibu menjual anaknya, dalam satu hari anak itu sudah tidak ada di rumah."


Deg .... Penjelasan dari Intan malah membuat Anna semakin bersedih.


"Sebaiknya Nyonya Anna menemui Nyonya Marimar, karena hanya dia yang mejual Lulu kembali pada orang amat membutuhkan seorang anak?"


Galih ternyata mengintip di balik gordeng ruangan Intan, lelaki berbadan kekar itu meluapkan emosinya dengan memukul tembok.


Bruggg ....


Intan semakin ketakutan, tubuhnya bergetar. Melihat pemandangan wajah Galih yang begitu amat menyeramkan, seperti ingin menelan mentah-mentah Intan saat itu juga.


Intan berlindung pada Anna, sampai di mana wanita berbulu mata lentik itu, menyuruh Galih untuk tidak marah terhadap Intan.

__ADS_1


"Kalau begitu saya akan menemui Marimar, untuk mendengar penjelasan dia."


Intan hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini, ia menyesali semuanya. Hatinya benar benar diabang kehancuran.


Anna mulai berdiri dari tempat duduknya, meninggalkan ruangan Intan, sampai di mana perkataan yang tak di inginkan oleh Intan kini terlontar dari mulut Anna.


"Intan."


"Iya."


Anna berusaha tak menatap, gadis yang sudah membuat hidupnya kini menderita. Sudah banyak kejahatan yang dilakukan oleh Intan, sampai Ainun mengalami krisis.


"Jangan harap setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu akan bebas begitu saja. Aku sudah menyiapkan penjara untuk kamu, agar bisa merenungi penyesalanmu sendiri."


Jantung berdebar, hati tak karuan. Dengan terpaksa, Intan menerima semuanya, karena mungkin ini semua teguran dan balasan yang setimpal untuk Intan.


Nita menangis, dia adalah sahabat yang selalu peduli terhadap Intan.


"Intan, kamu harus menerima semuanya, aku tidak bisa membantu kamu lagi. Semoga setelah ini kamu bisa menjadi sosok seorang gadis yang baik seperti dulu, walau mungkin semua terasa sulit, tapi aku yakin kamu pasti bisa melewati semuanya."


"Terima kasih Nita, Kamu Memang sahabat terbaik, selama ini aku salah sudah berpikir yang tidak-tidak kepada kamu. Seharusnya dari awal aku menyadari kesalahanku sendiri, bukan malah menjadi wanita egois yang mementingkan segala hal yang aku inginkan."


Nita perlahan mengusap bahu Intan, membuat kata semangat untuk sahabatnya itu," Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, mereka pasti melakukan kesalahan, aku memaklumi semuanya. Harapanku saat ini kamu bisa menjadi Intan yang dulu, di mana aku mengenalmu sebagai wanita polos yang begitu baik hati."


Senyum terukir dari kedua ujung bibir Intan. " Aku akan berusaha menjadi sosok Intan yang dulu."


"Semangat."


Kata kata semangat, menghasilkan sebuah energi positif untuk diri Intan.


Pelukan kini terlepas, suara Anna memanggil nama Nita.


"Aku pergi dulu, kasus ini belum selesai. "


Intan menganggukan kepala sembari melambaikan tangan, melihat kepergian sahabat satu-satunya.

__ADS_1


Intan berharap dari semua penyesalannya, ia berubah dan tak menyimpan dendam sedikitpun.


Nita datang menghampiri Anna yang ternyata sudah menunggunya dari tadi.


"Ayo kita ke kantor polisi, untuk menanyakan ke beradaan Lulu. Sebelum terlambat."


Mereka bertiga mulai menaiki mobil, untuk segera pergi menuju ke kantor polisi menemui Marimar.


*******


Marimar duduk sembari menundukkan pandangan. Iya kini menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut sang polisi. setiap kali Marimar menjawab ia terlihat gugup hingga jawabannya itu selalu salah dan diulang lagi kembali.


Polisi terus menekan Marimar untuk berkata yang sebenarnya, karena dengan cara itulah wanita bertubuh ramping dengan pakaian seksinya bisa mengakui kejahatannya dari dulu.


Kedua mata Marimar berkaca-kaca, ya sudah tak sanggup menjawab perkataan dari polisi.


Kepalanya terasa pusing, apalagi setiap pertanyaan itu diulang dan diulang lagi.


Suara mobil polisi kini terdengar kembali, ternyata Afdal datang dibawa oleh Polisi untuk dimintai keterangan.


Afdal datang dan duduk di samping kiri istrinya," Mas Afdal akhirnya kamu datang juga, aku sudah lama menunggu kamu dari tadi. Sampai aku lelah menjawab perkataan polisi yang terus bertanya kepadaku berulang-ulang.


"Mm."


Polisi menghentikan pertanyaan Marimar yang terus bertanya kepada suaminya.


Memukul meja, sampai di mana ia terkejut, dan menghentikan perkataannya.


Marimar merasa heran dengan sang suami yang terlihat cuek saat bertemu dengannya, padahal setiap kali ada masalah. Afdal selalu melemparkan senyuman untuk sang istri, ya tak pernah bersikap cuek ataupun menampilkan wajah kesalnya.


"Kenapa denganmu, Mas, sikapmu yang sekarang tak mencerminkan keperibadianmu seperti dulu. Padahal kita sudah tiga bulan tak bertemu, kamu begitu terlihat kesal dan marah kepadaku." Gumam hati Marimar, ia terlihat begitu bersedih ketika melihat suaminya tak melirik sedikitpun ke arahnya.


Biasanya kata-kata semangat saat mempunyai masalah, Afdal selalu membisikan pada telinga sang istri, tapi sekarang Afdal benar-benar terlihat marah besar.


"Boleh saya tanya, anda siapa Nyonya Marimar?" pertanyaan polisi membuat hati Marimar berdetak tak karuan, seperti akan ada sesuatu yang menyakiti hatinya saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2