Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 40 Make- up.


__ADS_3

"Benar juga kata kamu, An. Mm, kakak heran kenapa banyak banget musuh kamu di dunia ini. Sebenarnya kamu ini penjahat berdarah dingin apa mapia yang menyamar jadi wanita polos dan tersakiti."


Aku memukul pipi kiri kakaku, membuat bedak berhamburan ke atas lantai.


"Haduh, kakak ini. Kalau bercanda kelewatan."


Kak Indah tengah memunggut bedak dan membuangnya pada tong sampah." Anna, bedak kakak jadi berhamburan kaya gini." Menapakan raut wajah kesal.


Tok .... tok ....


Hingga ketukan pintu terdengar dilayangkan," ada tamu kak?"


"Iya, tapi make-up kamu belum selesai."


"Terus gimana."


"Sudah kamu tunggu dulu di sini, biar kakak yang buka pintu."


Aku hanya menurut dan duduk seperti biasa menatap cermin. Make-upku hampir selesai.


Menunggu Kak Indah begitu lama, hingga dimana wanita berambut pendek dengan bola mata coklat berlari tergesa gesa ke arahku.


"Ada apa sih, kak, rusuh sekali."


Kak Indah menujuk-nujuk pada pintu depan rumah dan berkata." Kamu harus siap siap, Anna. Ada Pak Galih, dia sudah datang."


"Apah? Pak Galih sudah datang?"


Aku Panik dibuat Kak Indah, setelah mendengar perkataannya. Di mana Pak Galih sudah datang, padahal jam masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Bagaimana bisa lelaki itu menjemput begitu pagi ke sini, ada apa dengan Pak Galih?


"Kenapa kamu malah bengong, Anna. Kamu pasti kagetkan Pak Galih menjemputmu jam segini?"


"Tentulah, kak. Ngapain coba Pak Galih sampai segitunya!"


kuas berukuran kecil berbulu lembut itu, kini menyapu nyapu pada pipi kiriku," itu tandanya dia peduli sama kamu. Ya sudahlah biarkan saja, dia kan rela berbuat apapun demi kamu."


"Mm, kak Indah. Udah deh main jodoh jodohinya!"


"Ya elah siapa yang jodoh jodohin kamu, Anna. Ini hanya perkiraan kakak."


"Ya, iya aku tahu."


Semua alat make-up sudah membuat riasan pada wajahku. Riasan yang menarik, membuat kedua mataku membulat.


"Ya ampun, kak. Ini beneran Anna?"


Kak Indah melipatkan kedua tanganya, mengangkat kedua alisnya yang tebal." Ya iyalah. Cantikkan?"

__ADS_1


"Iya kak, seperti bukan Anna."


"Itu kamu, kamu memang cantik Anna. Jangankan kamu Anna, semua wanita yang membaca novel ini cantik."


Aku tersenyum dan berkata." Terima kasih. Kak."


"Coba kalau si Raka kere itu tahu kecantikan kamu. Mungkin dia akan kelepek kelepek dan menyesal telah menghina kamu, dan memilih si siapa nama istrinya yang sekarang?"


"Ajeng wanita alot, peot kak!"


"Iya itu, kakak jadi penasaran dengan wanita yang selalu kamu sebut alot?"


"Ya sudah, kakak ikut saja dengan Anna, sekarang!"


"Mm, tapi."


"Sudah tak usah tapi tapian, sekalian jagain Lulu ya."


"Iya, iya."


Setelah Kak Indah selesai memoles wajahku dengan alat make-upnya, saat itu juga aku mulai berjalan menghampiri Pak Galih yang sudah menunggu.


"Pak?"


Saat pak Galih menatap ke arah wajahku, saat itu juga kedua matanya membulat. Ia seperti kaget melihat penampilanku.


Berdiri dan berkata." Anna. Ini kamu?"


"Kak Indah."


Menghampiri PaK Galih." Loh, Pak. Ini baru pagi sudah ke sini lagi."


"Hem, Ia An. Soalnya urusan saya lagi enggak ada, jadi buru buru saja ke sini. Biar cepat urusan kamu."


"Oh."


Aku mulai memanggil ketiga anak-anakku, yang dimana mereka datang.


Dengan senyuman mengembang.


"Kakak kamu ikut?" Tanya Pa Galih, dengan wajah sedikit tak suka.


"Iya, nanti siapa yang jagain Lulu, kalau Lulu rewel!" Jawabaku, membuat Pak Galih tersenyum kecil.


Kami mulai masuk ke dalam mobil, bersiap siap untuk berangkat ke pengadilan. Sedangkan aku berusaha menenangkan diri, agar siap menghadapi Mas Raka.


Di dalam perjalanan, aku merasa Pak Galih menatapku sekilas. Membuat aku merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Kenapa, Pak?"


"Oh enggak, hanya ingin memuji kamu, An. Kamu begitu cantik hari ini!"


Aku tak menyangka jika Pak Galih, lelaki dingin, tampan menyebutku cantik. Hanya karna make-up, yang menutup bekas luka.


"Jangan terlalu di puji, pak. Nanti idungnya terbang lagi," timpal Kak Indah yang duduk sembari menjaga Lulu.


Aku hanya diam, menahan rasa malu dan tak percaya. Jika Pak Galih memuji kecatikkanku.


Beberapa jam kemudian, mobil sampai di tempat tujuan, aku dan yang lainnya turun untuk melangkah masuk kepersidangan. Dimana Mas Raka dan juga ibu mertua sudah ada mununggu kedatanganku.


"Heh, Anna. Itukah wanita alot itu?" Aku menganggukan kepala menjawab pertanyaan Kak Indah.


"Mm, si Raka kere, matanya kenapa ya. Katakarak, masa ia pengen sama model tante tante seperti itu." Tertawa dikala kak Indah meledek penampilan seksi si Ajeng. Istri kedua Mas Raka.


"Husss. Udah ah kak, nanti orangnya dengar loh." Berusaha menghentikan Kak Indah agar tidak memancing keributan pada Ajeng dan Mas Raka.


"Habisnya kakak kesel sama mereka semua, pengenlah kakak jadiin tahu goreng dadakan."


Aku semakin ingin tertawa di saat Kak Indah membuat lelucon, meledek Mas Raka dan keluarganya.


Baru saja tertawa, Ajeng datang menghampiriku.


Pak Galih hanya menatap sekilas sedangkan aku terus menatap wanita alot itu dengan durasi yang lumayan cukup lama.


"Akhirnya kamu datang juga Anna, aku kira kamu tidak akan datang karna masih takut kehilangan Mas Raka." Ajeng mendekat sembari memegang pipiku." Waw, Nice appearance. The ugly turned into Cinderella."


Kesal di buat perkataannya yang tak aku mengerti sama sekali. Ia tersenyum, tanganya berpindah pada dagu dan mencekram begitu saja.


Hingga dimana Pak Galih, mengambil tangan Ajeng yang mencekram daguku dan berkata," Hey, Don't be insolent, I warn you not to touch him. He is worth more than you."


Ajeng terlihat marah dengan balasan Pak Galih." Apa kamu bilang dia berharga. Buruk rupa ini, No, he's trash to me."


Pak Galih tersenyum sinis, ia seakan membelaku mati matian dan tiba tiba menunjuk Ajeng." Kamu yang sampah di muka bumi ini."


Aku seperti mempunyai pelindung yang kokoh, mampu membuatku tenang dari hinaan si bibir jontor seperti Ajeng.


"Heh, Ajeng. Jangan suka menghina fisik orang, apalagi adikku. Kamu pasti yang buat Anna, terluka dengan menyiram air panas pada wajahnya?"


Ajeng tertawa terbahak bahak, gigi yang rapih ia tampilkan di saat tawa reyahnya terus terdengar.


"Accusing without proof is not good."


Kak Indah terlihat kesal sekali, ia terdengar mengeramkan giginya di saat Ajeng terus berucap dengan bahasa inggris tak aku mengerti.


"Sok soan bahasa inggris muka pas pasana gitu, sok kebulean. Dasar, lu." sindir kakaku.

__ADS_1


"Heh, tadi kamu bilang apa. Muka pas pasan."


Ajeng sepertinya marah besar, hingga.


__ADS_2