Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 159 Di pecatnya Intan


__ADS_3

Ainun, semakin ingin membuat Intan berkata jujur sampai ia mengungkapkan kenapa dirinya begitu membenci Ainun, apa sebabnya. Karena seseorang jika benci pastinya mempunyai sebuah alasan yang pasti.


"Sepertinya ini menarik jika aku buat Intan terus berkata jujur sampai ke akar akarnya." Gumam hati Ainun.


Wanita berhijab merah muda, menangis terisak isak menatap kekecewaan pada Intan. Ainun seperti ratu drama yang begitu hebat saat memainkan peran. Ia bisa mengeluarkan air mata di waktu yang begitu tepat.


"Intan, saya nggak percaya jika itu obat tidur, " tegas Ainun. Membuat semua menatap ke arah wanita yang menangis dengan mengeluarkan isak tangis begitu keras.


"Nyonya, saya berani bersumpah. Itu hanya obat tidur," ucap Intan berusaha menyakini sang majikan dengan mengancungkan tangan ke arah semua orang yang berada di ruangan itu.


"Kamu bohongkan. Kalau memang obat tidur. Kenapa kamu malah membawa pacarmu ke rumah ini dan memesan karangan bunga atas namamu, " balas Ainun menujuk karangan bunga yang terlihat dari ruangan CCTV tak jauh dari Intan menaruh karangan bunga itu.


"Saya tidak bohong nyonya, saya tidak tahu karangan bunga itu, saya tidak memesannya," tekan Intan berusaha menyakini Ainun.


Walau pun Ainun mempunyai penyakit depresi yang terkadang kambuh saat mengigat masa lalu, ia juga tetap pada dirinya yang ber IQ tinggi, berjalan mengambil bunga itu dari ruangan tengah. Wanita berhijab merah muda menunjukkan bukti pemesanan dan juga pembayaran atas nama Intan.


"Mau mengelak lagi bagaimana, buktinya semalam kamu memesan bunga ini Intan. Dan ini tanda tangan kamu. Kamu yang bayar, sudah mengaku saja, saya benar benar sakit hati dan kecewa karena dikarangan bunga ini kamu seperti mengiginkan saya mati. Memberi ucapan bela sungkawa untuk saya, " gerutu Ainun, begitu menyakinkan pada Galih. Sembari menangis dan kini meleparkan bunga ketempat sasaran wajah Intan.


Intan memungut bunga yang mengenai wajahnya, melihat tulisan yang tertutup dan memang benar ucapan untuk orang mati." kenapa bisa sepas ini." gumam hati Intan.


"Sebenarnya kenapa kamu begitu membenci saya, Intan. Apa salah saya sebenarnya pada kamu?" pertanyaan Ainun membuat semua orang yang mendengarnya diam tanpa ikut campur sedikitpun.

__ADS_1


Terlihat kegugupan pada bibir yang seakan enggan berucap itu, " saya tidak membenci anda Nyonya, anda salah paham."


Mendekat dan menunjuk dada pelayannya itu dengan rasa kesal, mempelihatkan jika dramanya itu bisa berhasil." jangan bohonga Intan, terlihat dari sorot dan apa yang kamu lakukan ini kamu begitu membenci saya."


Farhan dan Andi begitupun Galih yang berada di ruangan itu tak berani bersuara, mereka juga ingin tahu alasan yang sesungguhnya.


Tak tahan dengan teriakan dan tangisan Ainun, pada akhinya, Intan mengatakan rencana yang tadinya ia buat.


"Sudah cukup Nyonya."


Mendorong tubuh Ainun, membuat wanita berhijab merah muda itu tersungkur jatuh ke atas lantai, Galih dengan sigapnya membantu Ainun berdiri dan berkata." Intan apa .... "


Belum perkataan Galih terlontar semuanya, Intan memotong pembicaraan lelaki yang masih menjadi majikannya itu." Diam, tuan. Asal tuan tahu rencana saya ini bukan seperti ini. Saya tadinya memasukkan obat tidur pada minuman Nyonya agar wanita jahat ini tertidur hingga pulas. Setelah itu saya mengirim lelaki agar tidur bersamanya. Agar tuan begitu membenci wanita ini, karena alasan saya membuat jebakan seperti ini. Agar tuan bersimpati pada saya dan menyukai saya."


"Saya takut tuan. Tuan begitu kagum pada dia, dan akhirnya menikahi dia, dari pada tuan menikahi dia lebih baik saya saja yang tuan nikahi. Saya ini masih gadis tuan, saya menyukai tuan dari dulu." Tawa dan tangisan seakan di perlihatkan dengan murni di depan Galih, tentulah membuat Galih yang menjadi majikan masih tak menyangka.


Orang yang ia percayaai itu, menyukai dirinya sudah lama." Jangan bercanda kamu, Intan?"


"Tuan masih anggap saya bercanda. Apa karena saya seorang pembantu? Jadi tuan anggap saya bercanda. Hah." Intan begitu bersikukuh dengan perkataanya. Bahwa ia benar benar mencintai Galih.


"Tuan tahu kan, selama tuan di sia siakan Nyonya Ainun, siapa yang selalu ada untuk tuan itu saya, dimana tuan butu apa apa. Pasti saya selalu ada, walau hanya disuruh membuatkan sesuatu untuk tuan saya begitu bahagia dan senang." Tawa terukir dari bibir gadis yang menjadi pelayan itu.

__ADS_1


Menarik napas, Galih, berusaha membantu Ainun untuk duduk. Ia mendekat ke arah pelayan kepercayaannya itu.


"Intan, kamu ini masih kecil. Usia kamu hanya delapan belas tahun. Mana mungkin kita bersama, dan lagi saya sudah mempunyai istri."


Intan melepaskan tangan sang majikkan yang memegang pundaknya, bagaimana pun situasinya. Galih tetap menghadapi semua masalah dengan tenang, tanpa emosi sedikit pun.


"Cinta itu tidak memandang usia pak. Bagaimana pun seseorang berhak jatuh cinta walau usia mereka berbeda jauh, " tukas Intan. Semakin membuat Galih sulit memberi tahu anak remaja seusia anaknya ini.


"Memang ia, tapi kamu ini masih muda sekali. kamu bisa mencari lelaki yang berusia tak jauh dengan kamu. Intan, " ucap Galih. Berusaha membuat Intan sadar dengan apa yang ia perbuat itu salah.


"Tetap saja, saya mencintai tuan," balasnya dengan nada berharap bisa bersama Galih.


Dengan terpaksa Galih harus memecat Intan, dan memulangkannya ke desa. Ia mengira dengan memperkerjakan gadis desa bisa membuat mereka menjadi dewasa, tapi kenyataanya malah membuat hati mereka jatuh cinta pada Galih.


"Ya sudah, jika kamu bersikukuh. Saya akan memulangkan kamu ke desa, nanti saya akan urus gaji kamu selama kamu bekerja di rumah saya dan juga rumah Ainun." Kenyataan yang diberikan Galih membuat relung hati Intan terasa sakit, bagaimana bisa ia di pecat dalam ke adaan hina di depan Galih.


"Kamu tenang saja, saya tidak akan melaporkan semuanya ke kantor polisi, karena saya masih mempunyai hati nurani, Intan." Timpal Ainun pada Intan, karena bagaimana pun Intan masih muda dan masih layak diberi kebebasan.


Intan kini menangis terisak isak, dan meminta kesempatan pada Galih agar bisa bekerja dengannya." tolong beri kesempatan saya tuan satu kali ini saja saya tidak akan melakukan kesalahan lagi, saya masih membutuhkan pekerjaan ini saya masih ingin mencari uang untuk membiayai keluarga saya di kampung saya mohon tuan. "


sayangnya Galih tidak kesempatan untuk Intan untuk bekerja lagi di rumahnya Apalagi setelah ia mendengar bahwa Intan begitu menyukai Galih.

__ADS_1


"Maaf Intan, saya tidak bisa mempekerjakan kamu lagi."


Ucapan Galih, membuat Intan menangis terisak isak. Tak terima.


__ADS_2