Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 47 Mendatangi Radit.


__ADS_3

"Radit, jika kamu ingin mainan, jangan terima mainan dari papahmu. Mamah bisa belikan untukmu yang bagus dari ini."


"Mama bohong. Radit kesal sama mamah."


Teriakan Radit begeming di telingaku.


Kak Indah berlari menghampiri kami berdua." Ada apa ini, Anna."


Dada naik turun, dengan kedua mata yang membulat. Mainan yang masih aku pengang, " Anna."


kulemparkan langsung mainan itu pada tong sampah," Radit, nak. Mama buang mainan ini biar kamu sadar papah kamu itu telah berkhianat, dia lelaki baj ...."


Palk ....


Tamparan keras mendarat pada pipi kiriku," Anna, kamu ini harus sadar, jaga kewarasanmu itu. Radit ini masih kecil, dia bukan anak dewasa yang langsung mengerti apa perkataan kamu."


Aku berusaha menahan emosi yang tak setabil, berusaha tenang, dan membuang kemarahan yang terus merasuk pada hati ini.


Kak Indah kini menggendong Radit, memeluk anak kecil yang tak berdosa itu. Air mata baru aku sadari, begitu basah pada wajahnya.


Apa yang aku lakukan? Harusnya aku mengotrol diriku. Agar tidak meluapkan rasa kesal pada Radit.


"Anna, cepat masuk ke dalam kamar tidur. Beristirahatlah, tenangkan dirimu. Biarkan Radit bersama kakak saja."


Aku salah, terlalu mengandalkan emosi setiap Radit mengucapkan kata papahnya. Terlebih lagi Mas Raka merayu Radit agar aku balik lagi ke rumah mertua dengan sebuah mainan. Ahk, liciknya kamu, Mas.


Kaki ini terasa begitu lemas, membuat aku berusaha berjalan ke kamar. Duduk dengan tubuh lunglai.


Tok ... tok ... tok.


Ketukan pintu terdengar, aku mulai bangkit, untuk segera membuka pintu kamar.


"Anna, Radit tidur di kamarku, jadi kakak harap kamu bisa lebih mengedalikan diri kamu. Jangan terlalu mengandalkan emosi. Itu tidak baik bagi kesehatanmu, An."


Aku menganggukan kepala, mendegar nasehat dari kakaku. " Oh, ya. Kakak bawa teh hangat buat kamu."


Mengambil teh hangat yang disodorkan Kak Indah, membuat aku langsung menerimanya." Terima kasih, kak."


Menutup pintu kamar, aku mulai menaruh kembali teh hangat pada meja kamar. Merenungi apa yang sudah aku lakukan pada Radit.


"Maafkan mama Radit." Menatap jendela kamar, hanya terlihat bulan saja yang bersinar. Padahal tadi masih banyak bintang berkelap kelip mengelilingi bulan.


Perlahan aku mulai merebahkan tubuhku untuk segera tidur, mengejamkan kedua mata.


Ahhkkkk.


Keringat dingin membasahi badan dan jidatku, hingga dimana Kak Indah datang dengan membuka pintu kamar.


"Kenapa, Anna?"


Pertanyaan Kak Indah membuat, badanku terasa tak karuan, akibat mimpi yang menyeramkan. Sangat sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Kamu mimpi apa?"


Kedua tanganku memegang erat kepala yang terasa sakit, seperti ada ingatan yang tidak pernah aku ingat. Dan sekarang mucul kembali.


"Anna, kamu kenapa?"


"Kepalaku sakit, kak!"


Kak Indah dengan terburu buru, mengambilkan obat seadanya untuk meringankan gejala pada kepalaku, yang selalu mendadak terasa sakit.


"Ini minum, cepat."


Dengan tangan bergetar, aku mulai meraih obat yang disodorkan kakakku. Meminumya," coba kamu tenangin diri kamu. Kamu mimpi apa Anna?"


"Entahlah kak, di dalam mimpi itu aku seperti orang jahat, dan ahk ...."


Kepalaku kini terasa sakit, setelah menceritakan semuanya. "Apalagi, Anna?"


"Kepalaku sakit sekali kak."


Terlihat wajah panik Kak Indah, di saat aku meringis kesakitan. Wanita bermata sipit itu, menyuruhku untuk tidur. Melupakan mimpi buruk yang membuat aku ketakutan.


Kak Indah duduk di samping tempat tidur, ia menjagaku hingga terlelap tidur.


@@@@@


"Anna, bangun."


Teriakan Kak Indah membuat aku terbangun. Melihat jam didinding, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, membuat aku terkejut dan terburu buru bangun.


Dengan tergesa gesa, turun dari ranjang tempat tidur. Membuka pintu kamar, melangkah ke arah meja makan.


Kedua mataku membulat, melihat hidang di atas meja sudah tersusun rapi. Kak Indah dengan kedua mata pandanya begitu sibuk menyiapkan makanan untukku dan juga anak anak.


Menghampiri kakak wanitaku ini, hingga kupeluk dia dengan begitu erat." Terima kasih kak, sudah menjagaku tadi malam."


Kak Indah meletakan hidangan di atas meja, membalikkan badan ke arahku. Kedua telapak tanganya mencubit pipi dan menjawab." Iya anak manja."


"Ya elah, masa udah anak 3 masih di sebut anak manja."


Kak Indah melepaskan tanganya yang mencubit kedua pipiku. " Ayo sarapan."


Aku mulai duduk diatas kursi berhadapan dengan anak keduaku yaitu Radit. Memperlihatkan Wajah cueknya.


Aku berusaha memulai percakapan pada Radit, dengan harapan Radit mendengarkan apa yang akan aku katakan.


"Radit, yang banyak ya. Makanya."


Anak keduaku itu, memperlihatkan wajah ketidaksukaannya, Iya diam di saat aku terus bertanya kepada dirinya.


"Radit, kamu masih marahnya sama mamah?"

__ADS_1


Aku memulai percakapan bersama anak keduaku, dengan harapan jika Radit tidak marah dan mau bergaul kembali dengan sahabat-sahabatnya.


"Radit, mama antarkan kamu ke sekolah ya?" Beberapa kali aku, membujuk anakku . Tapi tidak ada perubahan pada diri Radit sama sekali.


Radit memiliki sifat yang sama seperti ayahnya, hingga aku tahu apa yang selalu diinginkan Radit Ketika sang ayahnya pulang.


karena aku yang terus menekan Radit menjelaskan semuanya, di mana ia tak mau berbicara, pada saat itulah Radit mulai menghentikan sarapannya.


Ia meletakan garpu dan juga sendok, turun dari kursi dengan wajah cemberutnya.


"Radit. Nak."


Teriakanku tak di jawab sama sekali oleh Radit, ia pergi begitu saja, hingga tak mau megajak salaman orang yang tidak ia kenal.


Aku menundukkan pandangan, melihat Radit marah. Membuat hatiku sakit, "Radit, nak. Biar mama antar."


"Ga usah."


Bruggg .....


Tiba tiba saja Pak Galih masuk ke dalam rumah, membuat Anna tentulah kaget,


"Hey, anak kecil, kalau jalan liat liat." Ucap Pak Galih pada Radit.


Radit menyipitkan kedua matanya, tak suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Pak Galih.


" Kamu mau sekolah, apa mau om antar?"


"Enggak usah!"


Radit dengan wajah kesalnya, sedangkan Pak Galih terus memperlihatkan ekpersi senangnya saat mendengar penolakan yang terdengar dari mulut anak kecil di depanya.


Pak Galih berusaha mengoda Radit agar tersenyum.


"Kok wajahnya cemburut gitu, kenapa?"


Radit terlihat kesal sekali dengan wajah Pak Galih, hingga ia menjawab," bukan urusan, Om."


"Hey, Radit kamu enggak boleh begitu," ucap Kak Indah kepada Radit, berusaha Radit untuk mengerti.


Sepertinya Pak Galih tak berhasil mengoda Radit, hingga dimana ia memberikan satu bungkus permen pada Radit.


"Kamu mau?"


Pak Galih membuka bungkus permen yang sudah ia bawa tadi.


"Aku enggak sukka."


Gerutu Radit.


Sifat ayahnya begitu menurun pada Radit, membuat aku selalu kesal pada anak itu.

__ADS_1


Pak Galih kini terdiam hingga dimana Radit mengatakan hal yang tak terduga.


"Om itu harusnya yang pergi dari sini, gara gara om. Keutuhan keluarga kami enggak nyaman..


__ADS_2