Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 58 Menemui Bu Sumyati.


__ADS_3

Pak Galih hanya menampilkan senyum kecilnya, membuat aku tentu sangat heran.


Setelah sampai di rumah sakit jiwa, aku mulai turun, untuk masuk ke dalam. Berusaha menenangkan diri, pertemuanku di kawal oleh beberapa suster penjaga rumah sakit itu.


Sedangkah Pak Galih, memegang Lulu mengajak jalan jalan kedua anakku, memang benar apa yang dikatakan Kak Indah, aku tak repot karna ada Pak Galih yang bisa menjaga Lulu dan Farhan.


Perlahan pintu ruangan Bu Sumyati terbuka, aku melihat wanita tua itu tengh duduk di rajang rumah sakit, dengan wajah sedihnya.


Memanggil manggil nama Daniel.


"Bu Sumyati."


Memanggil namanya dengan nada lembut, membuat wanita itu menangis secara tiba tiba." Kenapa dia menangis."


"Kau sudah menghancurkan harapan anakku?"


Apa maksudnya aku benar benar tak mengerti, saat itulah rasa penasaran membuat aku mendekat kembali, berharap jika dia tak mengamuk seperti orang gila pada umumnya.


"Bu Sumyati."


Aku kini sudah dekat dengan wanita tua itu, duduk bersebelahan. Hingga dimana ia menatap tajam ke arahku.


"Kamu, Anna."


"Iya bu, ini saya. Anna, wanita yang selalu ibu bela di depan Bu Nunik?"


Bu Sumyati malah tertawa terbahak bahak, membuat aku sedikit takut. Akan tetapi aku berusaha besikap tenang, jika wanita di sampingku ini tidak akan melakukan hal yang buruk.


"Bu Sumyati, aku ingin meluruskan kesalah pahaman ini, aku tahu kamu masih waras kan?" Aku bertanya layaknya kepada orang yang tak mempunyai gangguan jiwa.


Wanita tua dengan wajahnya yang terlihat keriput, kini membulatkan kedua matanya, ia seakan kesal dengan apa yang aku katakan, nada bicaranya pun begitu cetus." Kamu tahu itu, tapi kenapa kamu masih bersikukuh memindahkan aku dari penjara ke rumah sakit jiwa ini."


Kata kata yang menakutkan, membuat aku tentu saja menelan ludah, suasana yang tadinya terasa tenang berubah terasa menyeramkan.


Dengan keberanian demi membuka semua masa laluku, Kini tangan ini mulai merogoh tas dan mengambil poto, yang sudah aku persiapkan untuk diperlihatkan pada Bu Sumyati.


"Ini."


Kusodorkan poto itu kepadanya, tanpa banyak basa basi. " Daniel."


Dia menyebut nama itu lagi, apa benar Daniel yang ada di poto yang di simpan almarhum ibu adalah anak Bu Sumyati, poto calon suamiku dimasa lalu.

__ADS_1


"Apa Daniel yang ibu sebut, ialah orang pada poto ini?"


Bu Sumyati memberikan poto itu kepadaku," kenapa kamu bertanya seperti itu, Anna. Bukanya kamu tahu sendiri semua tentang lelaki yang ada pada poto ini."


"Maksud ibu, aku hanya ingin kepastian, apa benar Daniel dari poto ini anak ibu. Aku mohon bu, aku ingin mengigat masa laluku kembali."


Aku berusaha meluruskan kesalah pahaman yang terjadi di masa laluku.


"Sudah cukup. Kenapa kamu malah bertanya balik kepadaku." Hardik Bu Sumyati seakan marah dengan pertanyaanku.


"Bu, tolong mengerti, aku mengatakan semua ini, karna aku ingin tahu masa laluku yang tak aku ingat sama sekali."


Aku berusaha menyakini Bu Sumyati dari segala musibah yang terjadi padaku. Wanita tua itu menangis terisak isak," kamu musibah bagi anakku. Kembalikan Daniel kepadaku."


Aku tambah bingung di buat Bu Sumyati," Bu, aku menglami Amnesia semenjak kecelakaan itu, aku tidak tahu Daniel ada dimana. Aku tak ingat bu."


Bu Sumyati menangis histeris, ia terduduk di atas lantai, sedangkan aku berusaha membantunya untuk berdiri.


"Jangan sentuh."


Aku berusaha berjalan mundur, terlihat wanita tua itu menatap tajam pada wajahku lagi. Ia berdiri dan mulai melakukan hal yang membuat aku kesakitan.


Rambutku dijambak olehnya." Sakit."


"Sebaiknya ibu keluar dulu, sepertinya pasien tidak bisa di ajak berbicara terlebih dahulu."


Perkataan sang suster membuat aku paham, sepertinya Bu Sumyati mengalami depresi berat karna Daniel, yang memang aku tidak tahu setelah kecelakaan itu dia ada dimana?


Deni, anak muda yang mengaku sebagai adik Daniel, kini datang menghampiri sang ibu, dimana Bu Sumyati berteriak histeris.


"Sus, kenapa dengan ibu saya?"


Sang suster kini menyuntikan sebuah suntikan pada tangan Bu Sumyati. Kedua mata Deni berkaca kaca, terlihat ia tak tega melihat sang ibu.


"Anda tenang dulu ya, sebaiknya Bu Sumyati kita biarkan dulu sendiri, usahakan tidak diganggu dulu."


Aku masih berdiri dengan hati tak tenang, membuat Deni kini menatap ke arah wajahku." Sepertinya aku tahu penyebab ibuku seperti ini."


Lelaki muda itu menghampiriku. Membuat aku hanya menatap sayu ke arah wajahnya.


"Kenapa kamu diam saja, hah. Ini semua pasti ulahmu kan?"

__ADS_1


"A-k-u ...."


Belum sempat mengutarakan perkataan, anak muda menarik tanganku, untuk ke luar dari ruangan ibunya.


Ia melipatkan kedua tangan, menarik napas pelan." Apa yang sudah kamu katakan pada ibuku?"


Pertanyaan Deni membuat aku sedikit gugup, karna terlihat sekali sorot mata itu menanamkan kebencian, tak jauh berbeda dengan tatapan ibunya.


Poto yang kugenggam, kini kuperlihatkan pada lelaki bernama Deni itu." Kamu lihat ini."


Deni malah tersenyum sinis, dengan tangan yang masih melipat pada bawah dadanya.


"Kenapa dengan poto itu?"


"Aku ingin bertanya pada kamu. Apa yang di maksud ibu kamu Daniel itu adalah orang yang ada di poto ini?"


"Mm, bukanya kamu sudah tahu jawabanya."


Aku mengira dengan bertanya pada ibu dan anak ini, akan di jawab dengan singkat, jelas dan padat.


"Aku tak mengerti dengan maksud yang kalian katakan, karna aku ke sini hanya ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi."


Deni tertawa terbahak bahak, dengan apa yang aku katakan." Jangan selalu membuat drama, aku muak dengar ya."


Deni mulai membalikkan badan sepertinya ia mulai pergi dari hadapanku, Deni seakan menganggap semua salahku.


Kugengam erat tangan anak muda itu," Deni, aku mohon. Dengan kebaikanmu saat ini, aku ingin mengigat masa lalu yang tak aku ingat. Karna setelah kecelakaan yang diceritakan kakaku, aku Amnesia dan sampai sekarang aku belum mengigat orang dalam poto ini."


Deni menghempaskan tanganku begitu saja," aku tak percaya dengan omong kosong yang kamu katakan, jelas kamu sudah membuat hidup ibuku hancur."


Lelaki itu pergi, hingga aku mengejarnya.


"Deni, Deni. Tunggu."


"Apa lagi, bukanya sudah jelas. Apa yang aku katakan."


"Deni, aku tahu. kamu mengira aku berbohong. Tapi percayalah padaku saat ini, jika kamu tak percaya."


Aku menghentikan ucapanku, dengan tangan yang mencari surat diagonis dokter.


"Ini pemerikasaanku saat di rumah sakit, jika aku mengalami Amnesia sudah lama. Dan ingatanku hampir kembali perlahan lahan, hanya saja. Jika aku memaksakan ingin mengigat semuanya, itu rasanya berat. Makanya aku ingin mencari tahu."

__ADS_1


Deni mengambil kertas pada tanganku.


Hanya saja.


__ADS_2