
***** Hai hai, masih Pov Raka. Jangan bosen bosennya baca ceritanya. Untuk kakak kakak cantik dan tampan. ****** Semangat.
.
.
.
Aku kini penasaran dengan raut wajah Ajeng yang tiba tiba kaget setelah menerima telepon dari sang ayah. Apa yang terjadi?
Ajeng tanpa sadar melepaskan ponsel yang ia pengan dengan tangan kanannya.
"Kamu kenapa, Ajeng? "
Tangan wanita yang menjadi istriku itu, bergetar seperti mendengar kabar yabg tak biasa. "Ajeng. Kamu kenapa? "
Aku terus bertanya dengan nada sedikit menekan, agar wanita bermata bulat itu mejawab. " ayo jawab?
Bibir bergetarnya mulai mengeluarkan suara sayu dengan sedikit terdengar serak. " Ayahku masuk ke rumah sakit. "
"Kenapa bisa? "
"Entahlah! Aku takut ayah kenapa kenapa. Karna ayahku mempunyai tekanan darah tinggi! "
Sebenarnya aku juga menghuatirkan keadaan ayah Ajeng, jika terjadi apa apa dengan lelaki tua itu. Aku bisa mampus, membekam di dalam penjara.
Tring ....
Satu pesan datang.
(Bagaimana? Menyenangkan bukan?)
Satu pesan datang dari nomor ponselku, sepertinya itu dari Anna. Ia sengaja memakai nomor ponselku. Ahk, kenapa jadi ruyam seperti ini.
Aku mengacak rambut, merasakan rasa frustasi. Akibat permainan Anna.
"Ajeng, sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah ayahmu masuk ke rumah sakit? Bukannya kamu bilang, aku harus tenang saja tak usah memikirkan ancaman Anna. "
" Aku tak tahu jika akhirnya akan seperti ini. Ayahku masuk ke rumah sakit dengan kabar yang tiba-tiba datang begitu saja. "
Wanita tua yang menjadi ibuku kini berusaha menenangkan setiap amarah yang menggebu pada hati ini, ingin rasanya aku menjambak rambut yang terurai panjang dan indah itu. Rambut yang dimiliki istriku.
"Kamu tenang ya, Raka. Ajeng pasti akan membantu kamu. "
Ucapan ibu tak mampu membuat hatiku tenang.
__ADS_1
"Sudahlah bu. Jangan berharap pada Ajeng bahwa dia akan membantuku saat ini. Bukannya ibu tahu sendiri ayahnya sekarang berada di rumah sakit, bagaimana dia bisa menolong ku saat ini? "
Ibu terdiam saat aku tak sengaja membentak dirinya, Ajeng dengan kedua matanya yang berkaca-kaca kini menatap ke arah wajahku.
"Raka, Kamu jangan kuatir, ayahku pasti bisa menolongmu. "
"Sudah cukup, Ajeng. Bagaimana kamu tahu jika ayahmu bisa menolong ku saat ini, itu rasanya tak mungkin. Apalagi Sekarang keadaan ayahmu kritis. "
Telpon kini berbunyi, dimana nomor yang baru saja ia telepon. Meneleponnya balik. "Halo."
Ajeng kini menangis terisak-isak, badannya terlihat lemas. Iya terlihat menganggukkan kepala," Ada apa lagi Ajeng? "
"Ayah siuman. Sekarang aku harus menemui dia di rumah sakit, menjelaskan tentang masalah yang terjadi padamu."
Aku yang merasa kasihan terhadap istriku saat ini, berusaha berdiri untuk mengantarkan Ajeng menemui Ayahnya di rumah sakit.
mencium punggung tangan sang ibu, aku dan Ajeng mulai berpamitan untuk segera pergi ke rumah sakit.
Apa yang aku rasakan saat ini sungguh melelahkan, perjalanan jauh harus kutempuh kembali untuk segera sampai di rumah sakit.
Aku sengaja meminjam ponsel ibu, agar bisa menghubungi seseorang di kota.
Setelah sampai di rumah sakit. Kami segera menemui lelaki tua yang sekarang menjadi mertuaku, lelaki itu berpangkat polisi. Setelah bertanya pada suster pada akhirnya kamu menemukan ruangan sang ayah, lelaki tua dengan tubuh gendutnya kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Wajahnya putih pucat, merasakan rasa sakit.
"Kaget kenapa? "
Wanita tua yang berpenampilan rapi itu kini memperlihatkan sebuah video, dimana video itu adalah pengakuan atas kejahatan yang selama ini aku perbuat.
Ajeng dengan sigap mengambil ponsel dari tangan ibunya dan berkata. " Dari mana ibu dapat video ini? "
"Saat ayahmu mengalami tensi tinggi, ia menjatuhkan ponsel itu ke atas lantai. Kalau video itu menyebar. Ayah akan di keluarkan atau pangkatnua akan di turunkan kepolisian. "
Deg ....
Seperti petir yang menyambar langsung meledakkan seluruh badan ini, Anna tidak main main dengan apa yang ia lakukan. Aku kini dibuat mati kuti oleh mantan istriku.
Ajeng mengusap pelan air mata yang terus membasahi pipi, ia duduk memegang pipi mengkerut sang ayah. " Ayah, bangun ayah. "
Wanita tua yang menjadi mertuaku sesekali menatap tajam ke arah wajahku. " Raka. Ibu ingin bicara pada kamu sekarang juga. "
Kata kata dari mulut wanita tua itu mampu membuat aku gugup dan ketakutan, aku malas menjawab pertanyaan yang mungkin dilontrkan sebagaian dari wanita bernama Bu Ayu itu.
"Cepat ikut ibu sekarang. "
__ADS_1
Aku di suruh mengikuti langkahnya, perasaanku tak enak. Pasti wanita itu akan membahas video pengakuanku.
Setelah sampai di luar ruangan, Bu Ayu mertuaku menatap tajam ke arahku dengan tangan yang sengaja ia lipatkan.
Aku sesekali menelan ludah, merasa akan ada perkataan yang tak menyenangkan terdengar dari telingaku ini.
"Ada apa, bu? "
"Ibu hanya ingin menanyakan tentang video kamu yang dilihat oleh suamiku, sebenarnya ada peristiwa apa sampai pengakuan kamu membuat suami saya syok. Apa sebagai polisi suami saya pernah membela seseorang yang bersalah yaitu kamu? "
Apa yang aku bayangkan sudah aku duga pasti sebuah pertanyaan. " Sebenarnya. "
Belum jawaban keluar dari mulutku, kini Ajeng datang seperti ingin menyelamtkan aku dari pertanyaan ibunya .
"Ibu, Mas Raka. Kenapa kalian ada di luar ruangan? "
Bu Ayu yang memang sangat begitu menyayangi Ajeng tak berani membentaknya atau menjawab pertanyaan yang keluar dari mulutnya untukku.
"Tidak ada apa apa kok sayang, ibu hanya ingin bertanya hal kecil saja. "
Ajeng tersenyum kecil, menampilkan gigi rapihnya. Ia menarik tangan sang ibuda untuk masuk kembali ke dalam ruangan sang ayah.
Tring ....
Satu pesan datang pada ponsel ibu yang sengaja aku pegang. (Bagaimana mas, semakin seru bukan.)
Ahk, sialnya ternyata pesan yang datang dari Anna lagi. Ia seperti menyusun rencana dengan detail, membuat aku semakin berkeringat dingin.
Menenangkan jiwa agar tetap tenang, aku tidak mau larut dengan rasa takutku sejdiri.
(Mas, siapa siap penderitaan akan terus datang menghantui kamu.)
Anna mengirim pesan kembali, membuat aku membalas pesa mantan istriku ini.
( Anna, hentikan permainan ini. Sebentar lagi aku akan masuk penjara, jangan kamu buat semua orang yang berada di sisiku hancur.)
Anna malah mengirim emojik tertawa, membuat aku tentu saja kesal.
Ia ternyata membalas pesanku lagi. ( Maaf mas, rencana sudah aku susun dengan penuh persiapan dan tak mungkin aku berhenti begitu saja. Rasanya tak mengasikkan jika aku tak bermain main dengan rencana ini.)
(Anna aku sudah mengaku salah, tolonglah hentikan.)
(Tidak akan mas. Silahkan kamu nikmati setiap alur yang berlanjut saat ini, aku akan bersorak atas apa yang aku lakukan pada kamu.)
(Anna, jangan gila kamu. Ayah Ajeng ....
__ADS_1
Belum aku mengetik sebagian teks dan mengirimnya pada Anna. Ajeng menjerit membuat aku tentu saja kaget.
Ada apa?