
"Kamu pasti pusingkan memikirkan hal itu?" tanya sang kakak kepada adiknya. Perlahan Farhan mulai mendekat ke arah ibu kandungnya sendiri, ya kini menceritakan masa lalunya, di mana semua sudah terungkap.
Radit mendengar hal itu merasa sangat bersalah kepada sang kakak, baru saja ia iri dengan Farhan, karena berprasangka buruk. Jika sang mama terlalu pilih kasih kepada anak-anaknya.
kedua air mata Farhan berkaca-kaca, terlihat sekali anak remaja itu mulai menangis menitihkan air mata, Radit mulai mendekat berusaha untuk menenangkan sang kakak." Maafkan aku kak, Radit dan Lulu terlalu egois memikirkan diri sendiri, tanpa tahu Ka Farhan yang sebenarnya."
Farhan tetap memperlihatkan senyumannya di depan sang adik, walau Radit dan Lulu Bukanlah adik kandung darinya, tetap saja Farhan sangat menyayangi keduanya.
Farhan mengira jika sang ibu akan bangun lagi, tapi ternyata Ainun tetap saja kritis. Tertidur dengan begitu pulas, dan entah kapan waktu sang ibu bangun.
Radit dan Farhan kini saling berpelukan, menandakan kasih sayang antara adik dan kakak. Walau ada sedikit luka hati pada mereka berdua, karena dulu bisa ada di samping mereka berdua.
Bagaimana keadaan Lulu?
*******
"Kamu kenapa?" tanya Galih pada sang istri. Anna dari tadi diam saja, setelah mengobrol dengan kedua anak-anaknya.
"Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Galih, Anna masih dalam lamunannya, rasa heran menyelimuti pikiran Galih, bukannya membuat Anna semangat, Anna malah terlihat besedih.
"Anna, hey." Galih terpaksa sedikit menggoyangkan bahu istrinya, membuat lamunan wanita berbulu mata lentik itu membuyar.
"Ada apa?" tanya Anna, menatap kosong ke arah Galih, tatapan itu mengisyaratkan kesedihan yang paling dalam untuk dirinya.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang? Mm, kenapa kamu dari tadi melamun terus?" Pertanyaan Galih tak mampu Anna jawab, pikirannya seakan runyam saat itu.
"Anna," beberapa kali memanggil istrinya, Anna seperti terhanyut dalam lamunan kosong.
"Apa, Mas?" tanya Anna kembali, karena kata kata Radit, Anna menjadi sosok wanita yang terus melamun, ia seperti bersalah dengan hilangnya Lulu.
__ADS_1
Galih mencoba menghibur sang istri, untuk tidak terlalu menekan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Galih kepada Anna.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sayang, jika kamu siap berceritalah sekarang, jika tidak jangan paksakan untuk bercerita. "
Kedua mata terlihat memerah kini mengeluarkan air mata, hati ibu mana tak rapuh ketika sang anak mengatakan hal menyakitkan.
Memeluk dan kini menangis dalam setiap dekapan hangat Galih, Anna merasa tenang. Saat itulah ia mulai mengungkapkan isi hatinya yang begitu sakit, " Radit bilang jika aku tak menemukan Lulu, dia tidak akan mengakuiku sebagai ibunya. "
Pelukan Galih terus melekat pada tubuh Anna, ia tak mau mendengar lagi kesedihan yang dirasakan oleh istrinya itu, " diakan masih anak kecil, jadi kamu abaikan saja perkataanya. Nanti juga Radit tidak marah lagi kok."
"Tapi perkataan Radit itu seperti benar-benar serius, aku yang menjadi seorang ibu sangatlah gagal." Anna terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Hingga pelukan Galih terlepas, ia menatap dalam dalam istrinya. " Tidak ada ibu yang gagal di dunia ini, semua ibu itu hebat. "
Kata kata semangat dari Galih, membuat Anna tersenyum senang, ia merasa hidup masih berarti.
Anna menganggukan kepala, perasaannya kini merasakan. setelah Galih terus membujuk dan mengatakan kata-kata semangat untuk dirinya.
Saiful datang ke ruangan Anna, ia ingin memberitahu bahwa Nita sudah siluman, " Saiful ada apa?"
Pertanyaan Anna membuat Saiful tersenyum penuh kebahagiaan," saya datang ke sini hanya ingin memberitahu bahwa Nita sudah siuman. "
Mendengar kabar baik dari Saiful, Anna dan Galih merasa senang, begitu cepat Nita sembuh dan sadarkan diri.
Anna ingin menemui Nita, ia menyuruh Galih untuk membawanya ke ruangan Nita sekarang juga, hanya saja dari sedikit khawatir, pasca keguguran sang istri harus banyak beristirahat.
Namun Ana memaksa, ia tak perduli kesembuhannya, yang terpenting Ia ingin melihat Nita yang sudah rela menyelamatkannya saat kebakaran itu terjadi, Ana ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada Nita.
"kalau kamu naik kursi roda ini, apa kamu tidak akan kesakitan sayang?" Galih begitu mengkhawatirkan istrinya iya tak tega melihat sang istri yang sangat ia cintai merasakan rasa sakit'.
__ADS_1
"Tidak akan kok aku akan baik-baik saja kamu tenang saja ya!" Anna membalas dengan senyuman manis di hadapan suaminya.
Dengan perlahan Galih mulai membopong istrinya menuju kursi roda, meletakkan sang istri secara perlahan.
Anna terlihat sedikit meringis kesakitan, saat duduk di kursi roda, mungkin karena pasca keguguran ada rasa kram perut yang tak bisa diartikan oleh Anna sendiri, benar-benar menyakitkan sekali.
Dengan susah payah Ana berusaha menahan rasa sakit itu hanya untuk menemui Nita, kursi roda mulai didorong oleh Galih menuju ke ruangan Nita.
Terlihat wajah dan seluruh tubuh penuh luka, menangis di hadapan Anna.
"Bu Anna, baik baik saja." Ucap Nita, kedua matanya mengeluarkan air mata setelah mendengar berita dari Saiful bahwa Anna keguguran. "Aku sungguh menyesal telah membuat kalian tinggal di rumahku, kalau saja kemarin aku menentang kalian tinggal di rumahku kemungkinan besar kebakaran itu tidak akan terjadi dan membuat bayi dalam kandungan Bu Ana meninggal dunia."
Anna mendekat ke arah Nita, memegang tangan gadis desa itu," Kamu jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri, semua sudah mejadi takdir."
Nita berusaha mengusap pelan air matanya, dan berkata." walau pun takdir. Aku sangat menyesal sekali, maafkan aku Bu Anna."
Anna merasa senang bisa dipertemukan dengan sosok gadis yang baik hati seperti Nita," sudah kamu jangan menangis. Mungkin ini yang terbaik."
Anna berpura-pura tersenyum di hadapan Nita, walau sebenarnya hatinya merasa sangat sakit, setelah kehilangan anak yang sangat didambakan Galih.
Nita mulai bertanya kepada Saiful dan juga orang-orang yang berada di ruangannya," Apa penyebab kebakaran rumahku? Apa polisi sudah mencari tahu."
" kamu tenang saja, polisi sudah mengamankan orang yang sudah membakar rumahmu!" jawab saya pun, merasa ragu saat ingin mengatakan bahwa orang yang sudah membakar rumahnya adalah Bu suci.
"Jadi siapa dia?" tanya Nita, penasaran.
"Orang yang sudah membakar rumahmu itu adalah Bu suci. Sekarang dia sudah diamankan di dalam penjara, untuk kasus pembunuhan Ibumu juga semua ulah Bu suci. Bibimu sendiri," Timpal Bu Nira menjelaskan semuanya. Karena melihat Saiful yang begitu ragu mengatakan siapa yang sudah membakar rumah Nita.
"Apa." Nita tak percaya dengan apa yang dikatakan Bu Nira. Begitu teganya saudaranya sendiri melakukan hal yang sangat keji.
__ADS_1